Jangan Pernah Memaksa Hati yang Masih Berduka untuk Merasa Baik-Baik Saja

Endah Wijayanti23 Feb 2021, 13:35 WIB
Diperbarui 23 Feb 2021, 13:35 WIB
seribu cinta dan perceraian

Fimela.com, Jakarta Kita semua pernah punya pengalaman atau kisah tentang cinta. Kita pun bisa memaknai arti cinta berdasarkan semua cerita yang pernah kita miliki sendiri. Ada tawa, air mata, kebahagiaan, kesedihan, dan berbagai suka duka yang mewarnai cinta. Kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Februari 2021: Seribu Kali Cinta ini menghadirkan sesuatu yang baru tentang cinta. Semoga ada inspirasi atau pelajaran berharga yang bisa dipetik dari tulisan ini.

***

Oleh: Widya Yustina

Ketika mendengar kata cinta, orang pada umumnya akan langsung teringat tentang si dia. Si dia yang menjadi tambatan hati, penggugah segala rasa. Seseorang yang dengan kehadirannya dapat begitu menenteramkan hati bahkan membuat kita tersipu malu hanya dengan menyebutkan namanya. Sah-sah saja. Namun ketika menyebut kata cinta, pernahkah kau lantas teringat tentang dirimu sendiri?

Bagiku cinta serupa hal sakral. Begitu pula persoalan mencintai diri sendiri adalah sebuah proses panjang, penuh dinamika dan tak urung ada kalanya melelahkan. Hal itu kurasakan setelah sekian lama bergumul dengan kecemasan dan depresi yang sempat datang selepas mengalami beratnya perceraian. Bagaimana tidak, menjadi janda bukanlah cita-cita apalagi impian setiap perempuan.

Ditambah lagi, fakta bahwa janda yang hidup di tengah masyarakat yang menganut budaya patriarki sering kali mengalami bentuk pelecehan, perlakuan tidak adil dan kerap dipandang sebelah mata.

Upaya kembali mencintai diri sendiri dan tetap bahagia jelas bukanlah perkara mudah. Selalu timbul ketidakpuasan meski telah berusaha keras. Ada kekhawatiran tidak mampu untuk terus maju dan bertahan. Ketidakberdayaan mengubah jalan hidup hingga berujung penyesalan, mengapa begini mengapa begitu. Muncul rasa tidak percaya diri ketika teman menjadikan peralihan status ini menjadi semacam guyonan. Juga pertanyaan dari si anu dan si anu yang terkadang merepotkan. 

Membuka Lembaran Hidup Baru yang Lebih Baik

menyendiri
Menyendiri tak selalu berarti meratapi kesepian./Copyright shutterstock.com

Proses penerimaan akan hal-hal yang terjadi di luar kuasa diri terasa berlangsung amat lambat. Jiwa berproses melepaskan segala prinsip ideal yang selama ini terbentuk. Mengubah sudut pandang tentang arti ikatan sehidup semati selamanya menjadi lebih sederhana.

Di saat bersamaan, memulai semuanya lagi dari titik nol menjadi persoalan lain yang mau tak mau harus dijalani. Hati ini bahkan sempat ragu, akankah sanggup kedua kaki ini melangkah menuju babak baru? Akankah muncul kesempatan kedua untuk berbahagia? Akankah diri ini diterima tanpa embel-embel janda sebagai makhluk genit dan penggoda? Membayangkan tangan ini menggenggam tangan lain, tersenyum jatuh cinta serupa hal mustahil terlebih di tengah gempuran stigma.

Namun, rupanya moving on by the time benar adanya. Jangan pernah memaksa hati yang masih berduka untuk merasa baik-baik saja. Mengakui rasa sakit dan bersabar sampai segala hal yang terasa menyakitkan itu sirna adalah langkah awal menemukan kembali rasa cinta terhadap diri sendiri setelah sekian lama terkikis oleh kesedihan karena keadaan. Jeda cukup lama untuk kembali memaknai keberadaan diri sebagai perempuan yang bercerai.

Aku mengizinkan diriku tumbuh, berkembang melalui luka lalu bangkit dengan kesadaran penuh akan hakikat takdir hanya dapat diperoleh dari sikap pasrah dan tawakal. Pertemuan dan perpisahan itu terjadi semata-mata demi kebaikan juga agar hati ini selalu bergantung pada-Nya. Ketika sudah mampu ikhlas dan bersyukur, segalanya berubah di detik itu. Mata hati menjadi lebih terbuka, melihat segala sesuatu secara berbeda, lebih bijak dan proporsional. 

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓