Perjalanan Cinta untuk Menemukan Kekasih Sejati Tidaklah Mudah

Endah Wijayanti28 Feb 2021, 08:15 WIB
Diperbarui 28 Feb 2021, 08:15 WIB
menikah saling menjaga

Fimela.com, Jakarta Kita semua pernah punya pengalaman atau kisah tentang cinta. Kita pun bisa memaknai arti cinta berdasarkan semua cerita yang pernah kita miliki sendiri. Ada tawa, air mata, kebahagiaan, kesedihan, dan berbagai suka duka yang mewarnai cinta. Kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Februari 2021: Seribu Kali Cinta ini menghadirkan sesuatu yang baru tentang cinta. Semoga ada inspirasi atau pelajaran berharga yang bisa dipetik dari tulisan ini.

***

Oleh: B.M. Kawuryan

Perjalanan cintaku pertama kali pada masa SMA, ketika itu seperti selayaknya anak SMA cinta yang tumbuh bukan dari hati. Tapi hanya sebatas gaya-gayaan agar tidak dikatakan sebagai anak cupu.

Selepas SMA, dan masuk ke jenjang kuliah maka pemahamanku tentang cinta telah berubah. Cinta bukan hanya sebatas tentang saling menyayangi antara perempuan dan laki-laki. Tapi lebih dari itu, cinta ternyata bisa mendekatkan manusia kepada Tuhan.

Pemahamanku tentang definisi cinta bisa mendekatkan diri kepada Tuhan saya temui dalam kisah-kisah cinta terbesar. Salah satu kisah cinta terbesar menurut pandangan saya adalah kisah Adam dan Hawa. Proses perjalanan mereka sangatlah menyentuh hati, dengan cinta Adam dan Hawa bisa mendekatkan diri kepada Tuhan.

Memang sangat jauh sekali perjalanan menuju Tuhan, tapi memang itulah letak uniknya cinta. Perjalanan jauh tersebut tidak akan pernah terasa jauh, karena dilakukan dengan perasaan penuh cinta. Adam dan Hawa juga mengajari diriku, jika perjalanan cinta untuk menemukan kekasih sejati tidaklah mudah. Adam setidaknya membutuhkan waktu 40 tahun lebih untuk bisa menemukan Hawa.

Perjalanan Cintaku

pasangan cinta
ilustrasi./Photo by Oziel Gómez on Unsplash

Perjalanan cinta yang saya alami, dan itu benar-benar cinta menurut pengertian saya adalah ketika pada masa kuliah. Pada masa itu, tentu sebagai laki-laki yang tidak mau sendiri tentu setiap tahunnya berganti-ganti pasangan. Ini saya lakukan sebagai proses mencari kekasih yang benar-benar tepat.

Pada masa awal kuliah saya mengistilahkan sebagai awal perjalanan saya mengenal cinta. Seperti awal perjalanan Adam mencari Hawa ketika baru tiba di Bumi. Sementara cinta-cinta yang pernah tumbuh pada diriku, adalah proses pencarian cinta sejati. Seperti Adam melakukan proses pencarian pada kekasihnya Hawa.

Baru ketika menginjak semester 5 atau semester 6, saya menemukan perempuan yang menurut saya sangat menarik. Satu fakultas dengan saya dan juga junior saya di salah satu unit kegiatan mahasiswa. Selain menarik hati, saya tertarik pada caranya untuk berdiskusi.

Tapi perasaan tertarik pada dia saya pendam. Karena pada saat itu saya masih berhubungan dengan perempuan lain. Kemudian saya juga menemukan fakta jika perempuan yang saya idamkan tadi ternyata sedang dekat dengan orang lain.

Maka saya semakin memendam perasaan tersebut, hingga akhirnya saya mencoba untuk melupakannya. Bukan perkara mudah, karena setiap seminggu sekali saya pasti berjumpa dengannya di ruangan unit kegiatan mahasiswa.

Perasaan tersebut saya pendam sangat lama. Mungkin lebih dari 2 tahun baru kemudian saya berani untuk mengutarakan rasa yang saya pendam tadi. Awal-awal saya mendekatinya memang tidak terlalu gampang.

Saat itu saya baru saja putus dengan seseorang. Karena fakta inilah dia tidak begitu percaya pada saya. Dia mungkin berpikir jika cinta yang saya utarakan hanya untuk pelampiasan saja. Beberapa saat kemudian dia sedikit percaya pada perasaan yang saya utarakan.

Seperti perjalanan Adam dan Hawa, ketika mereka berdua bertemu akan langsung mengasihi satu sama lain. Dengan cinta mereka memulai peradaban manusia di bumi. Dengan bimbingan Tuhan akhirnya aku dan perempuan kekasihku bisa menerima cinta satu sama lainnya. Kini saya selalu berharap semoga karena cinta bisa menghantarkan kepada Tuhan dan hidup bersama hingga di surga nantinya.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓