Kedua Orangtuaku, Panutanku dalam Membangun Rumah Tangga Penuh Kasih Sayang

Endah Wijayanti24 Feb 2021, 15:15 WIB
Diperbarui 24 Feb 2021, 15:15 WIB
cinta ibu dan pekerjaan

Fimela.com, Jakarta Kita semua pernah punya pengalaman atau kisah tentang cinta. Kita pun bisa memaknai arti cinta berdasarkan semua cerita yang pernah kita miliki sendiri. Ada tawa, air mata, kebahagiaan, kesedihan, dan berbagai suka duka yang mewarnai cinta. Kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Februari 2021: Seribu Kali Cinta ini menghadirkan sesuatu yang baru tentang cinta. Semoga ada inspirasi atau pelajaran berharga yang bisa dipetik dari tulisan ini.

***

Oleh: Nisya Aprilia

Bulan Februari selalu identik dengan bulannya kasih sayang. Semua orang seakan berlomba untuk menunjukkan rasa sayangnya dengan memberi hadiah-hadiah yang indah seperti karangan bunga, sekotak cokelat, atau makan malam yang romantis di sebuah restoran mewah. Hal tersebut wajar saja dilakukan bahkan sampai menguras kantong asalkan orang yang kita cintai bahagia menerima hadiah tersebut.

Berbicara tentang kasih sayang, sebenarnya tidak harus selalu ditujukkan kepada kekasih, bisa saja ditujukkan kepada orang tua, saudara, maupun kepada sahabat. Seperti kisah cinta yang akan aku ceritakan, bukan kisah cintaku, melainkan kisah cinta kedua orangtuaku, dan inilah kisahnya.

Kedua orangtuaku menikah pada bulan Juli 1992 setelah mereka menjalani hubungan jarak jauh selama 1,5 tahun antara Bandung dan Cianjur dikarenakan ayahku harus bertugas di sana. Pernikahan ayah dan ibuku dilangsungkan secara sederhana, hanya akad saja tanpa resepsi karena sebenarnya rencana mereka menikah adalah tahun depan tapi terpaksa harus dimajukan karena adik ayahku ingin segera menikah dan nenekku (ibunya ayahku) tidak ingin ayahku dilangkahi oleh adiknya, maka dengan persiapan yang seadanya ayah dan ibuku pun menikah. Meski rencana yang sudah disusun menjadi berantakan, tapi sudahlah mungkin sudah takdirnya.

Kehidupan rumah tangga kedua orangtuaku diwarnai dengan kebahagiaan dan saling menyayangi meskipun tidak selalu berjalan mulus karena sebenarnya kurang begitu direstui  oleh kakekku dari pihak ayah (ayahnya ayahku) karena ibu dan ayahku berasal dari RT dan RW yang sama alias satu kampung. Kakekku beralasan kalau menikah dengan orang yang masih satu kampung biasanya suka tidak bertahan lama dan kalau sudah cerai nantinya jadi bermusuhan. Tapi, kedua orangtuaku tidak begitu menanggapi karena bagaimanapun yang menjalani kan orang tuaku bukan kakekku.

Selain kakekku, adik ipar ayahku (istrinya paman)  selalu saja membuat masalah dengan menjelek-jelekkan ibuku di depan kakekku, entah apa alasannya, orang tuaku pun tidah paham dengan sikapnya. Alhasil nama ibuku jelek di mata mertuanya. Maklum, adik iparnya ayah ini adalah menantu kesayangan. Kakek memang selalu tidak adil dalam memperlakukan menantu-menantunya.

Kisah Cinta Ibu dan Ayah

cinta ibu dan mertua
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/wongszeyuen

Ibuku selalu hormat kepada mertuanya walaupun selalu diperlakukan tidak adil dibanding dengan menantu yang lainnya. Kalau kakek sedang terhasut oleh adik iparnya ayah, ibuku selalu berusaha mengalah karena bagaimanapun juga mertua itu harus dihormati layaknya menghormati orang tua sendiri.

Ibuku selalu berusaha menghindari pertengkaran dengan adik ipar ayahku, lebih baik mengalah daripada bertengkar akan membuat sakit nenek. Bahkan seringkali adik iparnya ayah ini menghasut kakekku lalu mereka berdua bekerjasama untuk menjelek-jelekkan ibuku di depan ayahku agar ayah dan ibuku bertengkar dan bercerai. Seperti cerita-cerita FTV di salah satu stasiun TV swasta, tapi begitulah kehidupan rumah tangga ayah dan ibuku.

Untungnya, ayahku bukan orang yang gampang percaya omongan orang, ayahku selalu cek dulu kebenarannya. Tidak terbayang kalau ayahku gampang terhasut omongan orang, mungkin orang tuaku sejak dulu sudah bercerai. Sampai saat ini ayahku lebih membela istri dan anak-anaknya daripada kakek dan adik iparnya karena ayahku tahu betul sifat istri dan anak-anaknya bukan karena ibuku menghasut ayah agar tidak membela kakek dan adik iparnya, akan tetapi kenyataannya  istri dan anak-anaknya tidak berbuat hal yang buruk seperti yang dibicarakan kakek dan adik iparnya.

Ibuku pernah bercerita kepadaku alasan kenapa ibuku mau menikah dengan ayahku. Memang dari awal ayah dan ibuku pacaran, kakek terlihat kurang setuju dengan hubungan kedua orangtuaku dan lebih buruknya lagi kakek terlalu mengatur kehidupan anak-anaknya termasuk urusan rumah tangga anaknya. Tapi ayahku berbeda, ayahku orangnya mandiri, tidak mudah terhasut, ayahku memang penurut pada orang tua tapi, nurut yang seperti apa dulu, kalau melanggar aturan ya tidak akan dituruti.  Terbukti dengan ayahku tidak gampang terhasut omongan kakek dan adik iparnya sehingga rumah tangga otang tuaku aman dari perceraian. 

Selain itu, ibuku bilang kalau ayahku tidak pernah mengumbar janji-janji manis saat akan menikah, tapi ayahku selalu berusaha agar kebutuhan rumah tangganya selalu tercukupi, saat ibuku hamil anak pertama sampai terakhir anak ketiga, ayahku menunjukkan rasa sayangnya dengan cara membantu ibuku mengurus dan membersihkan rumah, memasak, dan selalu siap mengantar ibuku untuk periksa kehamilan.

Saat ibuku akan melahirkan pun, ayahku yang paling tidak ingin melewatkan momen kelahiran anaknya. Ibuku sangat beruntung menikah dengan ayahku walaupun kakek kurang setuju dengan pernikahannya, tapi ini adalah jodoh terbaik yang Allah berikan, ibu tinggal bersyukur, patuh, sayang kepada suami, dan mendoakan suami supaya rezekinya lancar, tutur ibuku

Pada tahun 2010 ibuku sakit cukup parah sampai harus bolak balik rumah sakit sampai empat kali dalam kurun waktu yang berdekatan, saat itu kami sekeluarga panik. Aku yang waktu itu masih SMA hampir tidak bisa konsentrasi untuk belajar karena pikiranku terbagi antara sekolah dan ibuku yang harus diopname. Tapi dari sanalah aku menyaksikan sendiri bagaimana ayahku dengan sabar dan telaten mengurus ibuku, mengantar untuk bolak balik ke rumah sakit, membuat bubur untuk ibuku, membersihkan rumah yang mana selalu dibantu olehku dan adik-adikku. 

Kisah cinta kedua orangtuaku memang sederhana, tapi banyak hal yang aku bisa ambil dari mereka. Seperti jika nanti aku menikah, suamiku harus seorang laki-laki yang mandiri, bertanggung jawab, penuh kasih dan perhatian dalam keadaan apa pun, mampu melindungi anak dan istrinya, ya yang seperti ayahku. Dari ibuku aku pun belajar jika nanti aku sudah menikah, aku selalu menghormati mertua dan keluarga suami walaupun mereka kurang memperlakukan dengan baik, selalu patuh kepada suami selama tidak melanggar aturan agama, mensyukuri penghasilan yang suami dapat dan selalu mendoakan suami agar rezekinya lancar. 

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓