Saat Mencoba Ikhlas, Jodoh Sungguh Datang di Waktu yang Tepat

Endah Wijayanti26 Feb 2021, 13:45 WIB
Diperbarui 26 Feb 2021, 13:45 WIB
seribu cinta dan tepat waktu

Fimela.com, Jakarta Kita semua pernah punya pengalaman atau kisah tentang cinta. Kita pun bisa memaknai arti cinta berdasarkan semua cerita yang pernah kita miliki sendiri. Ada tawa, air mata, kebahagiaan, kesedihan, dan berbagai suka duka yang mewarnai cinta. Kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Februari 2021: Seribu Kali Cinta ini menghadirkan sesuatu yang baru tentang cinta. Semoga ada inspirasi atau pelajaran berharga yang bisa dipetik dari tulisan ini.

***

Oleh: Krisyanti Asri

Terkadang aku berpikir, apakah Tuhan benar-benar menciptakan manusia itu berpasang-pasangan? Atau adakah manusia yang takdirnya akan selalu sendirian? Pemikiranku itu terus menghantuiku bahkan sampai di usia 30 tahun.

Aku mencoba meyakinkan diri bahwa pasangan itu tidak perlu ditunggu, tapi harus diusahakan supaya bisa dapat. Luntang lantung aku berpetualang mencari pasangan, mulai dari kalangan teman, dating apps, kenalan-kenalan. Tapi semuanya pupus tengah jalan. Tidak ada yang bertahan sampai akhir. 

Orangtuaku sudah sering bertanya, "Kapan kamu menikah? Kapan kamu akan menyusul adikmu?" Ya, adikku sudah lebih dulu menikah. Usianya hanya berbeda 2 tahun dariku, dan dia sudah punya pasangan lebih dulu. Semua kerabat keluarga dan teman sudah menanyakan, seakan menagih utang yang belum terbayar sangat lama, "Kapan kamu menikah?"

Berulang-ulang, berkali-kali, bertubi-tubi, pertanyaan itu dilontarkan kepadaku. Sampai masuk di usia 30, aku mengalami gangguan kejiwaan. Ada yang mau tertawa? Silakan, tapi aku tidak akan berhenti menceritakan keadaanku.

Bagaimana tekanan memenuhi standar sosial bisa menjadi sebuah tekanan sampai membuatku mengalami gangguan jiwa? Apa aku gila setelah ditanya kapan menikah? Tidak, aku tidak gila. Tapi sekuat tenaga aku menyimpan perasaan ini supaya tidak dimunculkan ke permukaan. Orang tidak perlu tahu betapa marah dan sedihnya aku dirundung pertanyaan seperti itu. 

Seorang teman baik kemudian berkata, "Nikmati kehidupanmu, dan ikhlaskan." Mendengarnya berkata begitu, aku seperti mendapat angin segar. Setahun lebih aku memperjuangkan diri untuk sembuh dari gangguan jiwa, berusaha sekuat tenaga menjadi manusia yang lebih legowo. Sampai akhirnya, di tahun 2018, aku dipertemukan dengan laki-laki yang ada di tautan foto di artikel ini. 

Suamiku.

 

Menikah di Waktu yang Tepat

cinta tepat waktu
Cinta datang tepat waktu./Copyright Krisyanti Asri

Kami sudah kenal sebelumnya sebagai teman, satu perkumpulan orang-orang yang suka menyanyi. Kami kemudian terpisah lama karena kesibukan masing-masing. Aku bahkan tidak ingat bagaimana aku kembali bertemu dengannya. Singkat cerita di bulan Agustus 2018, dia mantap menghadap orangtuaku dan melamarku. Betapa bahagianya keluargaku mengetahui akhirnya aku sudah punya pasangan. Segala macam proses kami lalui, dan menikahlah kami di bulan kelahiran kami, Maret 2019.

Di tahun itu, usiaku 32 tahun. Sedangkan suamiku, usianya 25 tahun. Wow, terpaut jauh sekali bukan? Yah, walau hanya terpaut 7 tahun, tapi ini sebuah kisah yang tidak akan pernah aku lupa seumur hidupku.

Usia tidak menghalangi kami membuka lembaran baru dalam hidup. Walau usianya lebih muda, suamiku adalah figur laki-laki yang dewasa dan bertanggung jawab. Alhamdulillah, segala laku keikhlasanku berbuah sangat manis. 

Pepatah mengatakan, cinta tidak mengenal usia. Tapi yang aku tahu adalah, cinta datang tepat waktu. Ya, aku tidak merasa terlambat menikah. Aku tidak merasa terlambat menemukan jodoh. Di saat aku merasa putus asa dan mencoba untuk ikhlas, aku menyadari bahwa Tuhan sudah menyiapkan ini semua untuk diberikan padaku di waktu yang TEPAT.

Ujian demi ujian diberikan, supaya aku bisa dinilai layak untuk mendapatkan rezeki-Nya. Kuncinya adalah keikhlasan, lahir dan batin. Tentunya, tidak menyerah dengan keadaan. Aku tidak boleh kalah dengan omongan-omongan orang yang merundungku. Bagaimana pun, aku yang menjalani kehidupanku. Aku tidak hidup memenuhi omongan orang. 

Kisahku mungkin bukan yang pertama. Menikah beda usia, entah suami jauh lebih tua dari istri atau sebaliknya, pasti sudah banyak ceritanya. Tetapi izinkan aku berbagi kisah ini kepada semua orang, bahwa tidak ada salahnya "mundur" ketika kita hendak mencapai sebuah kebahagiaan. Introspeksi, muhasabah, supaya kita layak mendapatkan kebahagiaan itu. 

Terima kasih sudah membaca cerita ini, semoga bisa menjadi inspirasi untuk semuanya.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓