Jika Tulus Mencintai Seseorang, Tak Perlu Memaksanya Memenuhi Semua Standar Pribadi

Endah Wijayanti05 Mar 2021, 11:35 WIB
Diperbarui 05 Mar 2021, 11:35 WIB
perempuan mandiri

Fimela.com, Jakarta Kita semua pernah punya pengalaman atau kisah tentang cinta. Kita pun bisa memaknai arti cinta berdasarkan semua cerita yang pernah kita miliki sendiri. Ada tawa, air mata, kebahagiaan, kesedihan, dan berbagai suka duka yang mewarnai cinta. Kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Februari 2021: Seribu Kali Cinta ini menghadirkan sesuatu yang baru tentang cinta. Semoga ada inspirasi atau pelajaran berharga yang bisa dipetik dari tulisan ini.

***

Oleh:  Resti Siti Nurlaila

Bila mesin waktu benar-benar ada, aku ingin kembali ke masa muda yang bergelora, menggebu-gebu penuh impian dan tinggi ekspektasi akan kisah percintaan yang sempurna. Bernasihat satu kalimat pada diriku sembari berharap bahwa diriku yang muda tidak akan membuat keputusan yang egois. Bahwasanya cinta itu adalah tentang menerima. Menerima sebagaimanapun pasangan yang kita cintai: baik-buruknya, tinggi-rendahnya, kaya-miskinnya. Bukan berharap dia akan berubah mengikuti keinginan kita, tetapi kita memahami apa pun perbedaan yang terbentang.

Sebutlah Awan, seniorku di Sekolah Menengah Pertama dulu yang sangat kusukai dan juga menyukaiku. Kami bertemu di ekskul Pramuka (yang pada zamanku dulu adalah ekskul paling keren di sekolah) dan cerita cinta kami tidak bisa dipisahkan dari kemping di alam terbuka, hiking di gunung dan kegiatan menyusuri hutan atau sungai atau air terjun. Pernyataan cinta pun dilakukan di bawah langit malam bertabur bintang di tengah hutan, setelah berkegiatan di sekeliling api unggun. Kami memiliki banyak kenangan yang indah, yang masih kusimpan di memori otakku hingga saat ini.

Kalian pikir, ah itu hanya cinta monyet biasa yang akan menghilang seiring berjalannya waktu? Tidak. Itu bukan sekadar cinta monyet. Entah bagaimana, cinta kami menemukan jalannya terlepas dari waktu yang berjalan cepat dan keadaan serta jarak yang memisahkan.

Setelah hilang komunikasi selama beberapa tahun, kami dipertemukan pada sebuah reuni singkat, sehingga cinta berhasil menghinggapi kami untuk kedua kalinya. Cinta kali ini memang tidak mudah. Selain karena jarak (aku pergi kuliah ke kota lain), masalah lainnya adalah karena aku sudah dipenuhi ekspektasi tinggi akan kehidupan. Sebuah masalah dariku yang justru malah menyakiti diriku sendiri.

Di penghujung akhir kuliah, Awan sudah menyatakan keseriusannya padaku untuk menikah. Aku sangat senang, tentu saja, dan berkata dia bisa datang kerumah jika aku sudah lulus. Dia menyanggupi, dan sontak aku menjadi perempuan paling bahagia di dunia. Namun, ada satu hal mengganjal di pikiranku.

Awan hanyalah seorang lulusan SMA, dan jika aku lulus kuliah, status pendidikan kami akan berbeda. Aku tidak mau begitu. Aku ingin Awan setara denganku secara pendidikan. Aku takut, jika status pendidikan kami berbeda, kami akan menemui banyak masalah di kehidupan pernikahan kami. Sebuah pemikiran yang sangat tidak bijak dari diriku yang masih sangat muda.

Kuputuskan untuk merayu Awan, membujuknya supaya mendaftar kuliah. Tidak perlu universitas terkenal, di mana saja yang penting dia mendapat gelarnya, begitu kataku waktu itu. Awan, yang tiga tahun lebih tua dariku, dengan sangat tenang dan lembut, mengatakan bahwa dia tidak bisa bersekolah lagi. Dia punya tanggungan akan adiknya, dan jika dia kuliah, itu akan mengurangi jatah untuk sang adik. Tahu penolakan itu, aku tidak lantas berdiam diri. Aku tetap ingin aku dan Awan setara. Jadi selama beberapa waktu ke depan, aku terus merayunya untuk bersekolah lagi. Tetapi, Awan tetap memberiku jawaban yang sama.

Diriku yang egois punya cara lain. Aku memutuskan hubungan kami, dengan alasan, aku tidak bisa bersama jika dia tidak lanjut kuliah. Aku tahu dia sangat terluka mendapati keputusanku, namun ketika itu aku berpikir langkah ini akan membuatnya berubah pikiran, lalu dia akan kembali dengan status yang berbeda. Beberapa kali dia memintaku kembali sembari mengatakan bahwa dia tidak bisa memenuhi keinginanku, tetapi aku bergeming. Aku mengabaikannya, sambil dalam hati berharap dia akan benar-benar berubah dan mengikuti kemauanku.

Apakah cerita cinta ini berakhir bahagia? Tentu tidak.

Dia menghilang. Aku tidak bisa menghubunginya. Barulah setelah aku lulus dan sudah kembali ke kampung halamanku, aku berhasil menjangkaunya. Aku mengajaknya bertemu, mendiskusikan tentang kami ke depannya dan mencari cara bagaimana kami mengatasi masalah kami waktu itu. Awan menolak. Sebagai ganti, dia hanya membalas pesanku, bahwa dia mengirimiku sesuatu dan sudah ditaruh di depan rumahku.

Pasti itu boneka. Atau bunga. Atau mungkin sebuah cincin. Begitulah pikirku.

Cinta Itu tentang Saling Menerima dan Memahami

karakter zodiak
ilustrasi./Photo by Tung Vu from Pexels

Sampai kutemukan lembaran itu di depan rumahku, aku langsung berlutut lemas dan menangis sejadi-jadinya. Pasti kalian bisa menebaknya, kan? Ya, sebuah undangan pernikahan. Dengan nama Awan dan seorang perempuan yang tidak kukenal sama sekali.

"Maaf aku belum bisa memenuhi keinginanmu. Maaf jika akhirnya kita harus berpisah seperti ini," kata Awan dalam selembar kertas yang terselip di kartu undangan. Kuharap kamu bisa datang ke pesta pernikahanku.

Tidak, aku tidak akan mampu melihatnya bersanding bersama perempuan lain. Mungkin aku akan jatuh pingsan. Lagipula, aku tidak kuat untuk ke luar rumah, karena selama seminggu aku hanya mendekam di kamar, menangisi kebodohan dan keegoisanku. Jika saja aku tidak menyuruhnya untuk sekolah lagi, pasti dia masih ada disini bersamaku. Jika saja aku bertahan dengannya, pasti kami sedang membicarakan tentang pernikahan. Dan beribu-ribu penyesalan lainnya yang kukutuki dalam hati.

Pada akhirnya, dia menikah dengan perempuan yang menerimanya apa adanya. Pada akhirnya, kisah cintaku memang tidak berakhir indah. Namun, aku belajar banyak. Itu menyadarkanku akan bagaimana cinta itu bekerja. Cinta itu sederhana. Hanya kita, manusialah, yang membuatnya menjadi rumit.

Jadi, kepada para muda-mudi diluar sana, ingatlah pesan dariku yang pernah melakukan kesalahan di masa lalu. Kalau kau mencintainya, kau tidak perlu membuatnya berubah sesuai maumu. Jika kau menyayangi dan menginginkannya, kau hanya harus menerima apa adanya. Bukankah indah jika cinta dijalin dan diperkuat dengan perbedaan? Itulah yang membuat hidup bermakna dan berwarna.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓