Ramadan, Kerinduan, dan Kehadiran Bapak

Endah Wijayanti17 Apr 2021, 11:15 WIB
Diperbarui 17 Apr 2021, 11:32 WIB
ramadan 2021 dan puasa bersama bapak

Fimela.com, Jakarta Selalu ada cerita, pengalaman, dan kesan tersendiri yang dirasakan tiap kali bulan Ramadan datang. Bahkan ada kisah-kisah yang tak pernah terlupakan karena terjadi pada bulan suci ini. Tiap orang pun punya cara sendiri dalam memaknai bulan Ramadan. Tulisan kiriman Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Berbagi Cerita tentang Indahnya Ramadan di Share Your Stories Bulan April ini pun menghadirkan makna dan pelajaran tersendiri.

***

Oleh:  Arizka Zidha Aulia

Ramadan adalah momen yang sangat dinanti oleh umat Islam, tak terkecuali oleh diriku. Saat bulan penuh berkah menyatukan keluarga, yang mulanya jauh menjadi dekat dan yang merantau menjadi pulang dan berkumpul bersama. Aku pun tak luput membayangkan momen-momen bahagia saat makan sahur bersama, salat berjamaah bersama, berbuka dengan para kerabat dan berjalan menuju masjid terdekat untuk tarawih bersama. Betapa sangat menyenangkannya hari-hari dibulan itu?

Namun, ternyata Ramadan yang kulalui bukanlah Ramadan yang kubayangkan. Ramadan tahun 2018  lalu akan selalu membekas untukku. Semuanya terasa kosong lantaran bapak yang saat itu sudah dua tahun tak pulang. Waktu ramadanku hanya kujalani bersama ibu dan ketiga adikku. Kami selalu berusaha tegar meski ramadan kala itu terasa hampa sebab dibekap oleh kerinduan bersama bapak.

Aku merindu pada Ramadan saat di mana bapak akan berteriak memanggilku untuk mengajakku salat berjamaah. Bapak yang selalu menegurku agar segera berangkat ke masjid untuk salat tarawih di mana beliau yang akan menjadi imam. Bapak yang dengan telatennya menyimak bacaan al-Quranku dan membenarkan jika bacaanku terdapat kesalahan. Bapak yang membangunkan kami sahur dan  membuatkan kami makanan meski hanya memasak mie instan atau telur dadar saja. Semuanya itu, membuatku semakin merindukannya.

Bapak yang Berjuang demi Kebahagiaan Kami

Doa Ramadan
Ilustrasi/copyright shutterstock.com

Hari-hari yang kosong itu kulalui begitu saja tanpa bapak hingga Ramadan terakhir. Hatiku hancur, yang aku pikirkan saat itu adalah mungkin itu akan menjadi tahun ketiga di mana bapak tidak akan berlebaran bersama kami.

Aku tak akan sanggup mendengar putusan sidang isbat yang mengatakan jika esok adalah hari raya Idulfitri. Mendengar takbir berkumandang di mana-mana saja aku tak sanggup, ada bagian hati terdalamku yang terasa bergemuruh berdoa dan berharap semoga ada keajaiban jika bapak akan pulang. Aku memutuskan untuk membaca al-Quran bersama adik perempuanku agar dapat khatam di Ramadan tahun itu. Pintu kamar yang mulanya tertutup tanpa terkunci tiba-tiba terbuka membuat bacaanku dan adikku terhenti.

Mataku memandang tak percaya sosok yang tengah berdiri sambil tersenyum dengan wajah yang terlihat sangat lelah kala itu. Tangan yang mulai merentang mengisyaratkan padaku dan adikku agar segera menghambur melepas kerinduan kami selama ini.

Saat aku mendekap membalas pelukannya, mataku terasa memanas. Ternyata bapak benar-benar pulang dan dapat berkumpul bersama kami. Wajahnya yang terlihat sangat bahagia bercampur haru membongkar isi tas miliknya. Dengan senyuman yang tak memudar, bapak memberikanku sebuah gamis berwarna hijau tua ke arahku. Beliau mengatakan jika itu masih baru dan memintaku untuk mencobanya. Namun nyatanya, bapak berbohong, aku menemukan nama yang terdiri dari tiga kata yang dibordir dibaju gamis itu yang mengisyaratkan siapa pemilik sebelumnya. Gamis itu lebih terlihat seperti seragam dari sebuah pesantren.

Aku hanya dapat menangis saat itu, padahal tanpa membawa apa pun aku akan tetap merasa senang sebab bapak dapat pulang. Yang kubutuhkan adalah bapak dapat berkumpul bersama kami, bukan barang apa yang dibawa bapak untuk kami. Untuk menghormati dan agar bapak tidak kecewa, aku memakainya dan menunjukkan pada bapak.

Hingga malam itu tiba, aku mendengar perbincangan ibu dan bapak. Mereka mungkin mengira jika aku telah tertidur, namun suara mereka terdengar cukup jelas dari arah kamarku. Bapak mengatakan jika baju-baju yang dibawanya tadi adalah pemberian dari sahabatnya. Baju yang diberikannya padaku adalah milik anak dari sahabatnya yang baru saja pulang dari pesantren. Betapa remuknya hatiku mendengar itu, bapak sampai berbuat seperti itu demi membahagiakan kami.

Dan Ramadan tahun ini, bapak pergi. Mungkin ia tak pulang, atau mungkin tak akan pernah pulang.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓