Berbagi Makanan Jelang Berbuka Puasa, Ada Kebahagiaan yang Kurasa

Endah Wijayanti21 Apr 2021, 10:32 WIB
Diperbarui 21 Apr 2021, 10:32 WIB
ramadan 2021 dan berbagi makanan

Fimela.com, Jakarta Selalu ada cerita, pengalaman, dan kesan tersendiri yang dirasakan tiap kali bulan Ramadan datang. Bahkan ada kisah-kisah yang tak pernah terlupakan karena terjadi pada bulan suci ini. Tiap orang pun punya cara sendiri dalam memaknai bulan Ramadan. Tulisan kiriman Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Berbagi Cerita tentang Indahnya Ramadan di Share Your Stories Bulan April ini pun menghadirkan makna dan pelajaran tersendiri.

***

Oleh: Rahayu Sulistyawati

Semakin dewasa, aku merasa Ramadan semakin menyenangkan. Berpuasa semakin ringan. Ini menurutku. Teringat dulu waktu kecil, puasa sehari rasanya lama, jadi kadang puasa setengah hari, buka pas zuhur lalu lanjut puasa lagi sampai maghrib.

Ramadan kali ini, tentu saja sungguh jauh berbeda dari yang dulu. Dulu aku masih anak kecil, sekarang aku sudah punya si kecil. Namanya Kisah Ayodya, usianya 4,5 tahun. Kisah artinya cerita, Ayodya artinya kedamaian. Semoga si kecil (yang sedang belajar puasa) selalu membawa kedamaian seperti bulan Ramadan.

Lagi, Ramadan kali ini sungguh-sungguh sangat berbeda. Aku sungguh semangat berbagi makanan untuk buka. Hal ini belum pernah terjadi pada bulan Ramadan sebelumnya. Jadi, rutinitasku tiap pagi, sekitar pukul 06.30 WIB, aku belanja sayur dan lauk-pauk. Siang, sekitar pukul 14.00 WIB aku mulai memasak dan biasanya aku antar-antar ke rumah-rumah tetangga sekitar pukul 17.00.

 

 

Membuat Makanan untuk Dibagikan ke Tetangga Jelang Buka Puasa

berbagi
Berbagi./Copyright Rahayu Sulistyawati

Salah satu yang wajib tiap sore adalah mengantar makanan ke seorang anak yatim piatu. Usianya mungkin sekitar 18 tahun. Dia seorang laki-laki dan tinggal sendirian. Ibunya meninggal bunuh diri saat usianya masih kecil (mungkin 2/3 tahunan). Bapaknya meninggal karena sakit jantung beberapa tahun yang lalu. Dia memang tinggal sendiri, tetapi rumah budhenya hanya di sampingnya. Setidaknya dia masih punya kerabat dekat.

Kadang aku ragu apakah masakanku enak? Bagaimana kalau mereka nggak suka tapi nggak berani menolak? Tapi kemudian aku balik lagi ke niat awalku. Aku ingin berbagi dengan tulus dan ikhlas. Aku berusaha memasak sebaik dan seenak mungkin. Dan semoga yang menerima juga senang hati.

Berbagi berarti besar buatku. Aku jadi bisa belajar banyak. Salah satunya adalah kedamaian. Jujur, setelah mengantar makanan ke rumah-rumah tetangga, hatiku terasa hangat, pikiranku ringan, jiwaku tenang sehingga saat buka puasa tiba, aku benar-benar bahagia. Dan berdoa semoga mereka yang menyantap makananku juga diberi kebahagiaan yang berlimpah.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓