Tips Membuat Rumah Lebih Sehat Berkonsep Hijau sebagai Antisipasi Penyebaran COVID-19

Fimela Editor29 Apr 2021, 08:00 WIB
Diperbarui 29 Apr 2021, 08:00 WIB
Ilustrasi rumah

Fimela.com, Jakarta Meski dalam beberapa bulan terakhir ini terjadi penurunan angka kematian akibat COVID-19 di Indonesia, tidak berarti pandemi sudah berakhir. Terlebih, melonjaknya sejumlah kasus di beberapa negara, salah satunya India dalam beberapa waktu belakangan.

Dikatakan oleh dr Adib Khumaidi, SpOT, Ketua Tim Mitigasi Dokter PB IDI & Ketua Terpilih PB IDI, “Salah satu solusi yang harus kita lakukan supaya tetap aman dan menghindari paparan adalah dengan mengupayakan adaptasi kehidupan baru, bukan hanya dalam protokol namun juga kesiapan ruang yang memungkinkan orang untuk tetap beraktivitas. Melalui diskusi ini, kami mendorong pemerintah dan pimpinan perusahaan/kantor untuk membuat regulasi tata kelola ruang sehingga ada proses pengawasan yang dilakukan dan semua aktifitas tetap bisa dilakukan tetapi dengan assesment terlebih dahulu oleh tim pengawasan di setiap daerah dengan melibatkan Satgas COVID daerah.”

Pemahaman konsep akan rumah sehat ramah lingkungan diprioritaskan untuk menghindari kesalahpahaman akan anggapan bahwa rumah hijau adalah rumah yang memerlukan biaya perawatan tinggi ataupun rumah yang hanya memiliki banyak lahan hijau, banyak pohon, ataupun sekadar dicat hijau. Korelasinya secara tidak langsung yang nyata dirasakan adalah rumah hijau dan sehat dapat signifikan mengurangi beban dari fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia (puskesmas, klinik dan rumah sakit).

Terlebih dalam kondisi saat ini, rumah hijau dan sehat secara nyata dapat membantu mengurangi tingkat penyebaran tertular penyakit infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), termasuk memberikan kenyamanan penghuninya selama pandemi COVID-19. Walaupun hampir keseluruhan waktu penghuninya berada di dalam rumah, mereka akan tetap dapat merasakan intensitas dekat dengan alam dan sekitar.

Manfaat yang dapat dirasakan dengan redesain tata ruang hijau sebagaimana dikatakan Sigit yaitu, adanya pergantian udara segar yang dapat menghilangkan berbagai polutan (baik dari penguapan racun material rumah ataupun transmisi udara atau sistem pernapasan manusia) di dalam rumah. Selain itu, penghuni juga bisa mendapatkan langsung sinar matahari untuk penerangan alami dan manfaat asupan kebutuhan pro vitamin D (sinar matahari). Manfaat kedekatan dengan alam sebagai bagian dari elemen penyembuhan (self healing), ketenangan, relaksasi pada penghuni (therapeutic).

“Kami berharap rekomendasi ini bisa menjadi rujukan dan masuk dalam régulasi sebagai upaya mengembalikan aktifitas masyarakat agar tidak hanya patuh pada protokol 5M saja tetapi juga memperhatikan tata kelola ruang ini, terutama di ruangan-ruangan tertutup yang lebih berisiko,” tutup dr Adib Khumaidi.

 

Hunian lebih sehat berkonsep hijau

Ilustrasi rumah
Ilustrasi rumah. Sumber foto: unsplash.com.

Dikutip dari Greenship Homes VI (World Green Building Council) & Emerging Architects Studio, berikut adalah tips rumah sehat dengan konsep hijau untuk mengantisipasi COVID-19.

Sirkulasi Udara

Membuang udara yang mengandung unsur-unsur toxic yang berbahaya untuk kesehatan pernapasan.

Pengkondisian Udara

Pengkondisian udara yang menjamin kenyamanan, kesehatan dan hemat energi.

Material Organik, Non-Porous dan Non Asbestos

Material organik dan mudah dibersihkan serta dirawat dapat mengurangi kemungkinan virus dan bakteria untuk bertahan hidup. Bangunan tanpa penggunaan material asbestos yang dapat mengganggu kesehatan paru-paru.

Inovasi

Inovasi smart home untuk mengelola dan meningkatkan indoor rumah, keamanan, kenyamanan, dan penggunaan energi. Penggunaan sistem air purification untuk memurnikan udara. Panel untuk Tenaga Surya (Solar Panel) dalam menghemat energi listrik.

Kenyamanan Spasial Ruang

Luas bangunan yang layak dan nyaman untuk dihuni, baik untuk kesehatan psikologis. Tata ruang yang dapat beradaptasi sesuai kebutuhan seperti ruang untuk bekerja atau belajar secara daring, area pintu masuk yang menyediakan area sanitasi dan ruang untuk karantina mandiri.

Konservasi Air

Upaya konservasi air untuk menjaga kualitas air tanah dan mengurangi pencemaran. Penggunaan area resapan air atau kolam retensi untuk menampung dan meneruskan air ke dalam tanah serta mengurangi banjir.

Pencahayaan Alami

Meningkatkan keterikatan dan hubungan penghuni dengan alam yang baik untuk kesehatan mental dan psikologis penghuni. Sinar matahari pagi juga banyak mengandung vitamin D untuk kekebalan imun tubuh dan memperkuat tulang.

Area Hijau yang Cukup

Vegetasi alami berguna untuk ekologi dan untuk kesehatan fisik dan psikologi serta dapat menyaring polutan yang dapat masuk ke dalam rumah. Semenjak pandemi, area terbuka dan hijau banyak diminati karena sirkulasi udaranya yang lebih bebas mengalir. Area berkebun di rumah untuk tanaman sayuran, obat-obatan dapat membantu kontribusi swasembada dan kelestarian kebutuhan pangan rumah tangga dengan memanfaatkan sound barrier alami berupa pohon, untuk mengurangi kebisingan dari luar.

 

*Penulis : Adonia Bernike Anaya (Nia)

Saksikan video menarik setelah ini

#Elevate Women

Lanjutkan Membaca ↓