Kontroversi OCD! Ini Kata Pelaku, Trainer, dan Meditator

Fimela Editor11 Okt 2013, 07:30 WIB
Diperbarui 11 Okt 2013, 07:30 WIB

Next

ocdBicara soal penampilan, rasanya bukan hanya perempuan yang concern dengan masalah yang satu ini, laki-laki pun sudah mulai rewel jika berhubungan dengan kecakapan. Penampilan luar selalu dikaitkan dengan bentuk tubuh ideal. Semua orang rela melakukan berbagai cara demi mendapatkan bentuk tubuh ideal. Adalah OCD yang sekarang tengah menjadi tren pembicaraan di kalangan masyarakat yang ingin menurunkan berat badan secara drastis.

“Terhitung sudah 7 minggu saya menjalankan OCD. Awalnya kenal dengan metode diet ini karena ketidaksengajaan sampai akhirnya saya memutuskan untuk mencari tahu lebih lanjut tentang OCD dengan mengikuti seminarnya. Tujuh minggu menjalankan OCD, berat badan saya yang awalnya 90 kg sudah turun ke angka 77 kg,” ujar Rene, 33 tahun, salah satu pelaku OCD yang mengaku puas dengan metode diet ini. Di awal mencoba OCD hingga saat ini, Rene langsung mencoba pola puasa (jendela makan) 24 jam.  Lelaki dengan tinggi badan 168 cm ini mengaku sama sekali tidak bermasalah dengan pola yang ia jalani. Namun memang, pola seperti ini hanya ia jalani pada hari Senin—Jumat, untuk akhir pekan ia memberikan kelonggaran pada pola makannya.

Next

 

ocdMenelusuri metode OCD lebih lanjut, sebenarnya metode seperti ini sudah ada dan digunakan sejak dulu di Amerika yang dikenal dengan intermittent fasting (IF). Sama seperti IF, OCD juga menerapkan aturan jendela makan. Jendela makan yang disarankan adalah 8 jam, 6 jam, dan 4 jam. Jendela makan artinya waktu ketika kamu diperbolehkan makan. Misalnya, kamu mengambil jendela makan 8 jam, itu artinya kamu harus puasa selama  16 jam dan selama 8 jam kemudian kamu bebas diperbolehkan makan apa saja tanpa ada berapapun banyaknya. Namun yang pasti, dalam metode ini, sarapan menjadi “haram” hukumnya.

Di luar popularitasnya, eksistensi OCD tentu menuai pro dan kontra. Mengingat OCD juga menerapkan puasa 24 jam dalam metode dietnya. “Sebelum OCD diperkenalkan, di luar sana intermittent fasting sudah lebih dulu dikenal. Namun puasanya paling lama hanya 16 jam dan metode itu juga sudah lama ditinggalin karena lebih banyak buruknya. Cara ini sudah pasti bisa mengganggu aktivitas karena orang berpikir memerlukan gula yang berasal dari karbohidrat, latihan beban perlu gula dari dalam otot, tidak mungkin orang masih bisa melakukan semua aktivitasnya secara maksimal kalau hanya mengonsumsi air putih,” Anissya Yulianti, trainer di salah satu pusat kebugaran berpendapat.

Next

 

ocdWindy, fotografer FIMELA.com juga adalah salah satu orang yang sedang mencoba OCD karena merasa tidak nyaman dengan ukuran tubuhnya saat ini. “Tiga hari pertama menjalankan OCD memang cukup berat karena semua makanan terlihat enak dan juga cranky karena lapar,” Windy bercerita.

Nggak bisa dipungkiri bahwa kondisi tubuh lapar memang memengaruhi kestabilan emosional kita. Kenyataan ini diamini oleh Adjie Silarus seorang meditator. “Biasanya memang orang lapar akan cenderung emosional, cenderung mudah marah. Tapi tidak semuanya seperti itu, tergantung dari kepribadian orang tersebut. Tergantung kebiasaan orang tersebut, tidak bisa kita generalisasi. Lapar bisa menjadi pemicu tapi saat kita menyadari siklus tersebut dan bisa berdamai dengan diri kita maka akan lebih mudah menghadapi situasi seperti ini,” ujar Adjie.

"Diet yang bagus adalah tailor made, yang disesuaikan dengan kebutuhan kita. Sama seperti baju, semua akan bagus jika dibuat sesuai dengan apa yang kita butuhkan."Setelah 3 minggu menjalani OCD, Windy mengaku sudah terbiasa dengan pola yang ia jalani. “Jendela makan saya 4 jam, dari jam 14.00—18.00 diselingi dengan puasa 24 jam 2 kali dalam seminggu. Misalnya, Senin dan Selasa 4 jam, kemudian Rabu hanya makan satu kali pada pukul 14.00 setelah itu puasa selama satu hari sampai keesokan harinya,” jelas Windy. Tiga minggu menjalani gaya hidup seperti itu, Windy mengaku mengalami penyusutan sekitar 4 kg dari berat awalnya.

Baik Rene dan Windy mengaku setelah menjalani OCD waktu istirahat mereka di malam hari lebih berkualitas dan lebih segar saat bangun di pagi hari. “Bukan hanya istirahat yang lebih teratur, tapi setelah menjalani OCD wasir saya dengan sendirinya lenyap. Entah ini ada hubungannya atau tidak, tapi yang pasti setelah beberapa minggu menjalani OCD, wasir yang timbul setelah saya menjalani operasi perlahan hilang dan tidak ada lagi,” ujar Rene sambil tertawa ringan saat dihubungi FIMELA.com.

Ramainya orang yang membicarakan OCD pun membuat metode diet ini jadi topik hangat. Sebuah acara talkshow kesehatan, Dr. Oz Indonesia pernah juga membahas diet yang dipopulerkan oleh magician Deddy Corbuzier ini. Dalam acara yang ditayangkan pada tanggal 5 Oktober 2013 tersebut ditekankan bahwa diet ini sebaiknya tidak dijalankan oleh ibu hamil dan penderita maag akut. Tentu tidak semua cara diet bisa diterapkan pada semua orang.

“Diet yang bagus adalah tailor made, yang disesuaikan dengan kebutuhan kita. Sama seperti baju, semua akan bagus jika dibuat sesuai dengan apa yang kita butuhkan,” ujar Chef Edwin Lau dalam sebuah acara di bilangan Senayan.

Nah, Fimelova, sebelum terbawa arus tren, sebaiknya cari tahu informaasi lebih banyak tentang apa yang ingin kamu jalani. Jika memungkinkan, konsultasikan dahulu semuanya ke dokter terlebih jika kamu ada keluhan kesehatan. Seperti yang dikatakan Deddy dalam e-book-nya, tidak ada yang benar dan salah dalam diet.

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela