Sukses

Lifestyle

Kekurangan Kita Sesungguhnya Ujian Hidup yang Harus Dimenangkan

Bilal bin Rabbah rela dilecut, ditindih batu panas, dan ditidurkan di padang pasir di siang hari hanya untuk mempertahankan kata ‘Ahad’ yang artinya Allah itu satu. Hingga Rasulullah berkata, “Bilal, aku sudah mendengar suara terompahmu di surga.”

Ketika Agresi Militer belanda II, Jenderal Sudirman baru saja operasi karena sakit TBC dan paru-parunya tinggal satu, Soekarno kemudian bilang, “Sudahlah Pak Dirman, istirahat saja, pulang saja." Apa jawabannya? “Yang sakit Sudirman, jenderal besar tidak pernah sakit."

Lance Amstrong, pebalap sepeda yang menderita kanker testis, harapan hidup hanya 40 persen, divonis mati dalam waktu 5 tahun. Tapi 18 bulan kemudian, ia kembali ke turnamen dan menjuarai Tour de France selama 7 tahun berturut-turut. Walaupun pada akhirnya banyak gelarnya yang dicabut karena kesalahan yang ia lakukan.

Korous Mozouni, seorang anak berusia 12 tahun mencalonkan diri sebagai presiden di Timur Tengah. Idenya luar biasa, “Kalau saya menjadi presiden, saya akan membeli pulai Hawai, lalu saya pindahkan warga Israel ke pulau Hawai, sehingga Palestina mendapatkan kembali tanah airnya."

Foto: copyright dr. Gamal Albinsaid

Leicester City, klub kecil, miskin, tidak punya pemain bintang, stadionnya pun kecil, tapi berhasil menjadi juara Liga Inggris dan mengalahkan klub-klub raksasa dunia. Sampai banyak orang mengatakan ini seperti kisah dongeng. Liu Wei, asal Beijing dan Alexei Romanov asal Rusia yang hidup tanpa lengan mampu menjadi pianis besar hanya dengan kaki-kakinya. Sabar Subadri, hidup tanpa lengan, mampu menjadi pelukis internasional. Qian Hongyan of Kunming, dari China berhasil menjadi atlet basket dan renang meski tak memiliki kaki. Helen Keller, seorang tuna netra dan tuna rungu pertama yang menjadi dosen, aktivis politik, dan penulis Amerika.

Muadz, seorang anak tuna netra dari Mesir yang hafal Al Quran mengatakan sesuatu yang sangat menginspirasi akan kondisi dan hidupnya, “Dalam salatku, aku tidak pernah meminta kepada Allah agar Allah mengembalikan penglihatanku. Anda tahu kenapa? Agar bisa menjadi keselamatan bagiku pada hari pembalasan, sehingga Allah meringankan perhitungan pada hari tersebut. Nanti di saat aku berdiri di hadapan-Nya, takut, dan gemetar, dan Dia akan bertanya, 'Apa yang sudah kau lakukan dengan Al Quran ini?' Saya hanya berdoa semoga Allah meringankan perhitungan-Nya."

Layaknya bunga yang tidak bisa memilih di mana ia tumbuh, kita juga tidak bisa memilih di keluarga siapa dan bagaimana kita dilahirkan. Tapi, siapakah orang yang paling menyesal dalam hidup ini? Apakah yang lahir dari keluarga miskin dengan berbagai kekurangan? Bukan, melainkan mereka yang belum mempersembahkan yang terbaik yang mereka bisa.

Masa depanmu itu tanggung jawabmu. Jangan jadikan orang tua, keluarga, lingkungan, bakat, dan usia sebagai pembenaran akan kegagalanmu. Sekarang, saatnya kita membuka mata dan hati untuk berhenti mencari-cari alasan.

*Artikel ini ditulis oleh dr. Gamal Albinsaid, CEO Indonesia Medika & Motivator Internasional.

#GamalBerbagi #MudaMendunia

 

(vem/nda)

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading