Sukses

Lifestyle

Katakan 'Maaf', Tak Sekedar Terucap Namun Juga Pertanda Insyaf

Di Hari Lebaran, hampir semua manusia memanfaatkan momentum untuk meminta maaf dan memaafkan. Karena Hari Lebaran diyakini sebagai prosesi penutup dalam menyempurnakan upaya kembali ke suci selama berpuasa di bulan Ramadhan.

Kembali ke fitrah', kembali ke suci dan asli bak bayi kembali dilahirkan. 'Back to square one', 'back to zero', demikian ungkapan dalam bahasa kekinian. Upaya meminta maaf biasanya didahulukan untuk orang - orang terdekat dan terpenting dalam kehidupan: orang tua yang utama, lalu saudara, tetangga, kerabat dan handai taulan. Bahkan upaya ini kadang dilakukan dengan berbagai cara dan upaya agar bisa bertemu, bersalaman atau menghambur ke pelukan dalam tangis permintaan maaf dan penyesalan. Namun sepertinya prosesi ini, sudah semakin langka dan jarang dilakukan. Walaupun mudik ke kampung halaman tetap dilakukan, namun esensi bersilaturahmi bermaaf - maafan sudah banyak mengalami perubahan. Betulkah demikian?

Dewasa ini, cara meminta maaf memang semakin beragam, apalagi saat teknologi komunikasi canggih, hadir dalam berbagai ragam media dan layanan, sekaligus beraneka macam jenis dan bentuknya, demi dan tujuan sebuah kemudahan. Dikombinasikan dengan semakin mendunianya jaringan internet, komunikasi dan interaksi manusia semakin dimudahkan sekaligus dimungkinkan untuk menembus batasan jarak dan waktu. Mudah, cepat dan 'saat itu juga' atau real-time, dalam berbagai bentuk cara berkomunikasi dan menyampaikan pesan.

Cara meminta maaf semakin mudah saja, tapi memaafkannya apakah semudah itu juga? Jika menelisik kembali sifat manusia, yang digambarkan dalam ungkapan yang bisa dan biasa berlaku untuk semua, yakni 'easy come, easy go', apakah mudah meminta maaf, berarti mudah pula untuk berharap orang lain untuk memaafkan dan melupakan? Apakah mudah meminta maaf, berarti mudah untuk melakukan kesalahan yang sama lagi dan berulang?

Apakah mudah meminta maaf, akhirnya melakukan kesalahan lalu 'digampangkan'? Semoga tidak demikian, karena urusan manusia dengan manusia lainnya harus diselesaikan antar mereka selagi masih hidup di dunia. Dan meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan kepada orang lain seharusnya didasari keSUNGGUHan, keIKLASan dan TANPA PAMRIH apapun, kecuali untuk mendapatkan keikhlasan Tuhan. Apalagi jika permintaan maaf dilakukan dengan menyertakan alasan sepihak pembenaran atas kesalahan yang dilakukan. Karena jika setiap kesalahan diminta untuk diwajarkan karena adanya alasan - alasan yang melatarbelakanginya, maka apa gunanya permintaan maaf jika demikian. Kadang malah seolah menyalahkan balik, misalnya:

"Maafkan aku, telah menendang pantatmu, habis kamu telah memunggungiku" atau "Maafkan aku telah mengkhianatimu, karena kamu sih ... tak bisa membahagiakanku."

Lalu permintaan minta maafpun dilanjutkan dengan: "Maafkan aku ya, karena aku telah memaafkan kamu kok." Jika demikian halnya, bisa saja jawabannya, "Maafkan aku juga ya, karena aku tak memaafkanmu tuh."

Lebaran, silaturahmi, saling meminta maaf dan memaafkan, diyakini atau tidak, memang telah mengalami banyak perubahan dalam cara dan makna. Perubahan yang tak terelakkan karena manusia telah mencapai tahapan kemudahan yang menggampangkan hampir semua hal termasuk menggampangkan kesalahan yang diperbuat. Disimbolkan dengan fasilitas 'copy-paste-edit-undo atau delete' dalam ragam aplikasi di gadget kita masing - masing.

Semoga hanya kesalahan saya dalam menafsirkan perubahan jaman, namun saya pun punya sebab untuk beralasan. Oleh karena itu, maafkan.

Dituliskan oleh Yasin bin Malenggang untuk rubrik #Spinmotion di Vemale Dotcom. Lebih dekat dengan Spinmotion (Single Parents Indonesia in Motion) di http://spinmotion.org/

(vem/wnd)

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading