Sukses

Lifestyle

Hidup Bersama Keluarga Suami, Ada Adaptasi yang Awalnya Tak Mudah

Fimela.com, Jakarta Setiap keluarga memiliki banyak kisah dan makna tersendiri. Baik kisah bahagia maupun kisah yang berurai air mata. Kisah tentang orangtua, saudara, atau kerabat dalam keluarga. Ada makna dan pelajaran yang bisa dipetik dari setiap kisah yang kita miliki dalam keluarga. Melalui Lomba My Family Story ini Sahabat Fimela bisa berbagai kisah tentang keluarga.

***

Oleh: Sri Lestiyowati Muhadimulyo

Sudah kesepakatan kami, bahwa saya sebagai istri akan mengikuti suami setelah menikah. Entah apa yang saya pikirkan hingga mengiyakan kesepakatan itu. Pada awalnya saya sangat menyesal. Saya sebagai anak kesayangan ibu bapak yang belum pernah hidup jauh dari mereka dan sanak saudara. Begitu saja, terasa di asingkan ke suatu tempat antah berantah ketika saya menjalaninya. Meskipun hanya berbeda provinsi, tetap saja membutuhkan waktu dan tenaga yang cukup banyak untuk bisa sekadar saling mengunjungi. Awal perpisahan saya dengan keluarga besar saya begitu dramatis. Hampir setiap malam, saya menangis merindukan ibu bapak, kakak, keponakan, adik, saudara, rumah atau bahkan merindukan motor butut kesayangan. 

Memulai hidup di lingkungan baru dengan hanya mengenal satu orang saja (suami). Saya harus mulai menghafal sanak saudara dan keluarga dari suami. Menghafal nama, status, kedudukan, cara memanggil. Belajar adat dan istiadat bahkan bahasa yang sedikit berbeda. Menyesuaikan suhu dan kelembapan di lingkungan baru yang besar pengaruhnya terhadap tubuh saya. Intinya adalah masa adaptasi, penyesuaian diri saya dengan lingkungan baru. Rasanya sangat berat dan hampir menyerah. 

Merasa Beruntung dan Bersyukur

Beruntungnya, suami saya merupakan salah satu laki-laki yang cepat tanggap dan pengertian. Beliau selalu ada ketika saya merasa sendiri dan tertekan. Sabar dan memahami kondisi psikologis di awal penyesuaian diri saya. Memasuki tahun ketiga saya bersama keluarga suami, saya mulai merasa nyaman. Ketika rasa kangen membuncah kepada ibu bapak, saya bisa melakukan panggilan video atau telepon. Meskipun tak bisa saling berpelukan atau berjabat tangan setidaknya bisa sedikit mengobati dengan melihat wajah dan senyum yang mengembang.

Sekarang saya sibukkan diri dengan mengurus anak dan suami serta beberapa kegiatan yang saya sukai. Misalnya, berkebun menanam bunga-bunga di pekarangan, merajut dari benang menjadi tas atau dompet, menulis status jualan online, membaca buku, dll. Selain itu, saya juga ikut kegiatan pengajian ibu-ibu di kampung dan ikut mengajar anak-anak mengaji di masjid. Sebenarnya saya hanya perlu menerima, menjalani dan menikmati. Tak perlu ada penyesalan ataupun penderitaan.

#ChangeMaker

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading