Sukses

Lifestyle

Heboh Disebut Tidak Islami, Berikut 4 Makna Filosofi Kehidupan yang Berasal dari Sajian Klepon

Fimela.com, Jakarta Sajian kue klepon khas Indonesia ini mendadak viral dan menjadi trending topik di jagat maya. Diketahui penyebab trendingnya ini bermula saat sebuah postingan yang diunggah oleh akun Twitter @memefess menyebut bahwa jajanan tradisional ini adalah kue yang tidak islami.

Pada gambar tersebut dituliskan jiika "Kue Klepon tidak Islami. Yuk tinggalkan jajanan yang tidak Islami dengan cara membeli jajanan Islami, aneka kurma yang tersedia di toko syariah kami."

Sontak saja, unggahan ini mendapatkan banyak respon dari warganet yang kemudian mempertanyakan kebenaran hal tersebut. Seperti yang dikutip dari Liputan6.com, Selasa (21/7/2020) Kue Klepon adalah salah satu makanan yang terbuat dari tepung beras ketan, yang dicampur dengan pandan, ditaburi dengan kelapa.

Isian kue klepon merupakan gula merah yang ketika disantap akan langsung lumer didalam mulut. Sensasi lumer inilah yang membuat banyak orang menyukai klepon. Jika dilihat dari bahan dasar pembuatannya hingga cara memasaknya, nampaknya tidak ada yang salah, tidak heran jika hal ini menjadi viral dan banyak mendapat respon dari warganet.

Terlepas dari kontroversinya, sajian klepon ternyata memiliki makna filosofis kehidupan yang menarik untuk diulik. Oleh karena itu, Fimela.com kali ini akan mengulas 4 makna filosofis kehidupan yang berasal dari sajian klepon. Simak ulasan selengkapnya berikut ini.

Melambangkan Kesederhanaan

Makna filosofis kehidupan yang berasal dari sajian klepon ialah melambangkan kesederhanaan. Menurut informasi yang berasal dari buku berjudul ‘Belajar dari Makanan Tradisional Jawa’ yang terbit pada tahun 2017 menyebutkan bahwa klepon merupakan lambang dari kesederhanaan.

Makna kesederhanaan ini dapat terlihat dari bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat klepon, yang sedikit namun mudah didapatkan. Selain dari bahannya, cara pembuatannya yang terbilang mudah juga merepresentasikan sebuah kesederhanaan.

Intinya, makna filosofi kesederhanaan dari sajian klepon ini mengajarkan seseorang untuk hidup dengan kesederahaan sehingga terhindar dari perbuatan yang menghambur-hamburkan harta secara berlebihan. Orang yang sederhana akan selalu merasa cukup bahkan menggunakan hartanya untuk membantu orang lain.

Melambangkan Kebaikan Hati

Berikutnya, makna filosofis kehidupan yang kedua dari sajian klepon ialah melambangkan kebaikan hati. Hal ini direpresentasikan dengan rasa gula merah pada klepon yang manis dan nikmat saat dimakan. Rasa manis yang tersembunyi dalam kue klepon inilah yang disebut dengan kebaikan hati.

Maknanya, setiap manusia hendaknya memiliki kebaikan didalam hatinya, walaupun tidak nampak secara langsung namun dapat terasa oleh orang lain. Kebaikan hati yang dimiliki oleh seseorang akan membuatnya hidupnya dan hidup orang lain menjadi bahagia.

Melambangkan Perjuangan Hidup

Selanjutnya, makna filosofi kehidupan lainnya yang diajarkan oleh klepon ialah melambangkan perjuangan hidup. Makna ini direpresentasikan melalui parutan kelapa yang digunakan sebagai bahan pelengkap.

Parutan kelapa berasal dari buah kelapa yang memiliki kulit yang keras dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengupasnya sampai mendapatkan inti atau daging kelapa itu sendiri. Hal ini dianalogikan dengan perjalanan hidup manusia yang tidak sempurna dan seringkali bertemu banyak rintangan sebelum menemukan kebahagiaan yang sebenarnya.

Sajian klepon ini mengajarkan bahwa ketika manusia ingin bahagia maka ia harus mampu bersabar dalam menghadapi setiap ujian-ujian dalam hidupnya. Kelak setelahnya ia akan mendapatkan kebahagiaan tersebut dan lebih bisa menghargainya karena didapatkan dengan cara yang tidak mudah.

Melambangkan Kebijaksanaan

Terakhir, makna filosofi kehidupan yang berasal dari sajian klepon ialah melambangkan kebijaksanaan. Makna kebijaksanaan ini diambil dari warna klepon itu sendiri, yakni warna hijau yang melambangkan kehidupan.

Melalui warna hijau ini, pesan yang ingin disampaikan adalah nasihat agar manusia selalu menjaga hatinya agar tetap hidup. Hidup dengan kondisi hati yang mati, hanya akan meyiksa diri. Justru dengan hati yang hidup tersebut manusia dapat merasakan kebaikan dan berbuat juga pada sesama.

Sementara itu, bentuk bulat pada klepon melambangkan bahwa hidup tak diketahui mana ujung dan pangkalnya. Bentuknya yang tak rata menunjukkan bahwa kehidupan tak selalu sempurna.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading