Waspadai Toxic Positivity, 5 Hal Ini Sering Dikatakan Saat Merasa Sedih

Vinsensia Dianawanti21 Jun 2021, 08:30 WIB
Diperbarui 21 Jun 2021, 08:30 WIB
Pasangan

Fimela.com, Jakarta Perasaan sedih bisa dirasakan oleh siapa saja dan kapan saja. Namun berbagi beban dan mendapatkan dukungan dari orang sekitar bisa membantu membangkitkan semangat.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk memberikan semangat kepada mereka yang sedang sedih. Tapi ternyata ada beberapa hal yang justru tidak boleh dikatakan saat orang lain sedang merasa sedih.

Menurut psikolog Prita Yulia Maharani, M.Psi menyatakan kata-kata semangat yang salah disebut toxic positivity.

“Kata-kata ini terdengar sebagai penyemangat, tetapi sebenarnya membuat orang lain jadi sedih karena tidak divalidasi,” ungkap Prita Yulia Maharani.

Prita menambahkan penting untuk menerapkan empati atau memahami kondisi seseorang secara utuh saat mendengarkannya bercerita. Toxic positivity akan membuat kita menekan emosi negatif dengan berusaha menerima energi positif. Padahal, emosi negatif kerap kali diperlukan agar tidak menumpuk.

Terlebih, tidak semua orang ingin diberi nasihat saat mereka sedih. Ada kalanya seseorang hanya ingin didengarkan tanpa perlu adanya rasa takut. Toxic positivity justru mendorong seseorang untuk takut berpikir negatif, takut bercerita dengan orang lain, mengisolasi diri, hingga meningkatkan risiko kecemasan dan stres.

 

Kalimat toxic positivity

perempuan merenung
ilustrasi perempuan sedih/Photo by Agung Pratama from Pexels

Ada beberapa kata atau kalimat penyemangat yang tergolong toxic positivity.

1.“Masih ada yang lebih susah daripada kamu”

Ungkapan ini membuat teman atau kerabat yang bercerita merasa dikecilkan masalahnya. Kamu tidak mengetahui seberapa besar usaha atau pun perjuangan dia serta hal yang mungkin memperparah kondisinya.

Kamu bisa menggantinya dengan “Aku bisa melihat dan merasakan betapa susahnya kamu berjuang menghadapi semuanya.”

2. “Sudah, jangan terlalu dipikirkan”

Saat seseorang berusaha bercerita ke kamu, itu artinya dia berusaha untuk menyingkirkan pikiran itu dengan membagikannya. Tidak masuk akal jika kamumenjawab seperti itu. Kamu bisa mengapresiasinya dengan “Terima kasih sudah bercerita ya.”

3. “Sudah, jangan sedih terus. Mellow banget.”

Tidak ada orang yang mau sedih, pun tidak ada yang mau disebut mellow. Mengatakan hal ini berarti menutup mata bahwa teman atau sahabat sedang mengalami masalah dan mempercayai kamu sebagai teman bercerita. Kamu bisa berlatih mengatakan “Apa yang bisa kulakukan agar kamu bisa lebih tenang?”

 

4. “Masih mending, kalau aku...”

perempuan sedih
Ilustrasi/copyrightshutterstock/Cat Box

Kompetisi bisa terjadi dimana saja, termasuk siapa yang paling sengsara. Tidak heran jika kalimat ini bisa menjadi andalan saat seseorang bercerita kesedihannya untuk menunjukkan bahwa dia bukan yang paling sengsara.

Padahal, hal ini hanya membuat kesedihan menumpuk dan tidak divalidasi. Kesedihan bukanlah soal persaingan, dan orang yang sedang bercerita tidak ingin berkompetisi dengan siapapun. Kamu bisa membalasnya dengan pelukan atau mengiyakan bahwa apa yang sedang mereka hadapi berat.

5. “Kamu pasti bisa kok, enggak sulit ini.”

Kalimat ini sering muncul dengan niat membantu dan menguatkan, namun sadarkah kamu jika sebenarnya kalimat ini toxic positivity? Kata ‘enggak sulit ini’ berarti melihat dari kacamata kamu sendiri dan tidak mempertimbangkan kondisi orang itu. Bisa jadi dia tidak memiliki sumber daya seperti yang kamu miliki, serta pengalaman berbeda dari yang sudah kamu lalui.

Jika kamu ingin menyemangati, kamu bisa menggunakan kalimat “Aku percaya kamu bisa, jangan lupa istirahat. Yang penting sudah melakukan yang terbaik sesuai kamu, ya.”

Simak video berikut ini

#Elevate Women

Lanjutkan Membaca ↓