Kesakralan Acara Pernikahan Tak Harus Diukur dari Kemewahan Pestanya

Endah Wijayanti14 Jul 2021, 13:35 WIB
Diperbarui 14 Jul 2021, 13:35 WIB
bridezilla dan tanpa pesta

Fimela.com, Jakarta Persiapan pernikahan seringkali dipenuhi drama. Ada bahagia, tapi tak jarang juga ada air mata. Perjalanan menuju hari H pun kerap diwarnai perasaan campur aduk. Setiap persiapan menuju pernikahan pun selalu punya warna-warninya sendiri, seperti kisah Sahabat Fimela dalam Lomba Share Your Stories Bridezilla: Perjalanan untuk Mendapat Status Sah ini.

***

Oleh: Muntarsih Zakiyya Sakhie

Pernikahan adalah momen terbahagia yang sangat didamba setiap insan, laki-laki dan perempuan yang usianya sudah mapan. Pernikahan menjadi titik sejarah saat dua anak manusia mengikat janji suci sehidup semati untuk mengarungi bahtera rumah tangga selamanya, aamiin... Insya Allah. Untuk itulah pernikahan disebut sakral (suci) sebab dalam proses penyatuan dua insan yang berbeda jenis menuju halal melibatkan nama Tuhan di dalamnya.

Kendati pun tak harus perhelatan mewah di hotel berbintang atau gedung pencakar langit, sejatinya setiap gadis dan bujang yang beritikad menikah pastilah mengangankan pernikahan yang merupakan momen istimewa seumur hidupnya tersebut dapat diramaikan walau dengan kesederhanaan, minimal ada kursi mempelai dan gaun pengantin, serta segenap undangan sekalipun hanya orang sekampung saja.

Akan tetapi angan-angan terkadang memang terhenti sebatas khayalan belaka, aku dan saudara-saudara perempuanku tidak pernah merasakan apa itu pesta kawinan di pernikahan kami. Menurut adat di kampungku kalau menikah yang punya andil mengadakan hajatan besar ada di pihak keluarga mempelai perempuan. Jika tidak mengadakan pesta maka akan dipandang tidak lazim, tidak biasa, dan tidak pantas.

Tentu semua tetangga-tetanggaku saat menikahkan anak perempuannya hampir tak ada yang tidak mengadakan pesta. Dan menjadi kebanggaan tersendiri ketika mereka berhasil menggelar pesta pernikahan yang super glamor dan spektakuler buat anaknya.

Dengan ratusan undangan disebar dari penjuru kota hingga ke pelosok-pelosok desa. Menyewa seperangkat sound system lengkap dengan biduannya, dekorasi pengantin yang megahnya bak singgasana raja dan ratu, gaun pengantin ala seleb dengan mahkota berlian terpampang di kepala, tukang masaknya orang se-RT, semua pager ayunya mengenakan kebaya berseragam, serta setumpuk hantaran tertata rapi lengkap dengan hiasan-hiasannya.

Pernikahan tanpa Pesta Mewah

bridezilla dan dispensasi  menikah
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/sonjachnyj

Pernikahanku dan kakak-kakakku sangat jauh dari hiruk pikuk itu semua. Pernikahan kakak sulungku yang berlangsung tahun 1997, kakak kedua tahun 2001, serta pernikahanku di tahun 2006, hanya menghadirkan bapak penghulu, wali dari keluarga perempuan dan sejumlah kerabat calon suami.

Tidak ada namanya gaun pengantin yang indah gemerlap berlapiskan bebatuan kristal atau bertabur payet warna warni atau kebaya-kebaya modern-klasik yang menjuntai lantai. Pun dengan kursi mempelai beserta ornamen-ornamennya, semua nyaris tidak ada. Pernikahan kami dengan prosesi 'ijaban' saja orang Jawa bilang atau ada yang menyebutnya nikah 'meneng-menengan' (diam-diaman /nikah tanpa pesta). Yang mayoritas hanya diketahui oleh tetangga-tetangga dekat saja. 

Bukan orangtuaku tak merestui atau tak mendukung pernikahan kami, juga bukan orangtuaku tidak tahu adat istiadat, tidak tahu budaya, ataupun agama. Namun situasi ekonomi memang tidak memungkinkan untuk diadakan pesta sekalipun dipaksakan untuk diada-adakan.

Sebagai anak tentunya kami tidak buta hati membebani orangtua dengan tuntutan pengadaan pesta pernikahan yang tentu memakan biaya yang tidak sedikit. Kami juga tidak menginginkan orangtua sampai berutang hanya agar kami senang. Tidak. 

Meskipun model pernikahan yang tanpa pesta namun tak sedikit pun menggeroggoti kebahagiaan kami. Tak ada perasaan kecewa ataupun marah. Kebahagiaan kami tetap sempurna, kendati telinga kami harus setebal dinding beton demi menghalau suara kicauan-kicauan tetangga yang sedikit kurang merdu untuk didengar, "Tiap nikahkan anak kok selalu diam-diam." 

Tidak semua orang punya kemampuan yang mumpuni dalam hal materi dan tiap orang punya jangkauan berpikir yang tidak sama. Menikah dengan pesta atau tidak ada pesta kiranya tidak patut untuk dijadikan sesumbar, olokan, ataupun perdebatan. Karena kehidupan tak berhenti sebatas di momen pernikahan saja, ritme kehidupan setelah pernikahan juga harus dipikirkan tentunya. 

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela