7 Atlet Olimpiade Perempuan Asal Timur Tengah dengan Kisah Luar Biasa

Novi Nadya02 Agu 2021, 12:30 WIB
Diperbarui 02 Agu 2021, 12:30 WIB
7 Atlet Olimpiade Perempuan Asal Timur Tengah dengan Kisah Luar Biasa

Fimela.com, Jakarta Negara Timur Tengah disoroti karena konfliknya, namun ada kisah inspiratif di baliknya. Di saat Olimpiade menjadi berita utama dunia, negara konflik Suriah mengantarkan atlet yang disebut termuda Hend Zaza yang menjadi inspirasi bagi banyak perempuan di dunia. 

Begitu juga dengan kebebasan perempuan di Timur Tengah yang membuat kemajuan lewat atlet asal Kuwait yang diberi kesempatan membawa bendera negaranya untuk pertama kali di Olimpiade. Sampai atlet yang masuk dalam Tim Pengungsi yang terus semangat dan bertahan hidup meski sudah keluar dari negaranya.

 

Melansir dari harpersbazaararabia, berikut 7 atlet Olimpiade perempuan yang punya kisah inspiratif dan memotivasi kita untuk terus semangat meraih apa yang diinginkan;

 

1. Lara Dashti

Lahir dan besar di Kuwait, perenang berusia 17 tahun ini membuat sejarah sebagai pembawa bendera perempuan Kuwait pertama di Olimpiade. Ini menandai kemajuan yang progresif karena ini adalah kali pertama juga dua atlet dari tim diizinkan ambil bagian dalam pengibaran bendera. Dia berkompetisi di 50m gaya bebas putri di Olimpiade Tokyo 2020.

 
 
 
View this post on Instagram

A post shared by Lara Dashti (@laradashtiswims)

2. Dania Nour

Perenang Palestina Dania Nour lahir di Betlehem dan telah menekuni olahraga renang sejak berusia enam tahun. Saat ditanya siapa panutannya, dengan percaya diri ia menjawab "ibunya."

 

 
 
 
View this post on Instagram

A post shared by Dania Nour (@danianour03)

3. Yasmeen Al Dabbagh

Secepat cahaya, Yasmeen Al Dabbagh adalah sprinter tercepat di Arab Saudi. Di usianya yang baru 23 tahun, ia tak hanya jadi bintang di trackfield tetapi mengesankan di dunia pendidikan ivy league-nya setelah lulus dari Universitas Columbia pada 2019. 

Ia menginspirasi semua perempuan Saudi lainnya jika mereka bisa mencapai tujuan yang diinginkan. Dan merealisasikannya jika memiliki tekad dan kerja keras.

 

 
 
 
View this post on Instagram

A post shared by Yasmeen Al Dabbagh (@yasmeen_aldabbagh)

4. Kimia Alizadeh

Perempuan kelahiran Iran dan etnis Azerbaijan ini adalah anggota tim Pengungsi Olimpiade. Olimpiade pertamanya adalah 2016 Rio de Janeiro di mana ia memenangkan perunggu untuk Iran. 

Sejak saat itu, ia pindah ke Jerman di mana mengklaim status sebagai pengungsi dan tinggal bersama sang suami. Tahun ini dia baru saja kehilangan medali perunggu untuk pesaingnya Hatice Kübra İlgün dari Turki, tetapi dia terus membuktikan kekuatannya dalam semua aspek hidupnya.

 

5. Hend Zaza

Berasal dari Suriah, Hend Zaza menjadi inspirasi tak hanya bagi perempuan tapi juga anak-anak di seluruh dunia. Meski tumbuh di kampung halaman yang dipenuhi konflik, tidak ada yang menghalangi perempuan muda itu untuk mencapai mimpinya. 

Tahun ini Hend mengangkat bendera Suriah dan menandai atlet termuda yang menghadiri Olimpiade Tokyo 2020 pada usia 12 tahun. Didedikasikan untuk bermain tenis meja, ia berkompetisi melawan anggota tim Austria Jia Liu di babak penyisikan namun tidak memenangkan pertandingan. Hend terus bertahan pada usia yang begitu muda dan dia telah membuat kita semua terkesan dengan bakat dan keterampilannya.

 

 
 
 
View this post on Instagram

A post shared by Athlete365 (@athlete365)

6. Ray Bassil

Penembak Lebanon Ray Bassil sudah memiliki daftar prestasi mengesankan sebelum berpartisipasi dalam pertandingan Olimpiade Tokyo 2020 setelah mulai menekuni olahraga menembak pada usia 8 tahun. Setelah ikut dalam Olimpiade dua kali sebelumnya, Ray terbiasa dengan sifat sifat kompetitif dan bertekad menampilkan yang terbaik.

Di awal tahun, atlet Libanon tersebut membujuk pemerintah untuk melonggarkan pembatasan bagi para atlet yang akan berkompetisi di tengah ketatnya pembatasan untuk mencegah penyebaran Covid-19.

 

 
 
 
View this post on Instagram

A post shared by RAY BASSIL (@rayjbassil)

7. Yusra Mardini

Perenang Suriah Yusra Mardini terus menjadi berita utama. Setelah tiba di Jerman setelah perjalanannya dari Suriah tahun 2015, ia ditunjuk sebagai GoodWill Ambassador UNHCR.

Tak lama setelah meninggalkan Suriah, Yusra diminta untuk bergabung dengan tim Olimpiade Pengungsi IOC di mana ia pertama kali berkompetisi di Rio de Janeiro 2016. Hari ini dia dengan bangga mewakili tim dan mendapat medali perunggu lewat gaya kupu-kupu 100m putri.

 
 
 
View this post on Instagram

A post shared by Iñaki Sports (@inaki.sports)

Simak Video Berikut

#Elevate Women 

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela