Pengalaman Membolos Sewaktu Kecil Selalu Bikin Ketawa saat Diingat Sendiri

Endah Wijayanti08 Agu 2021, 15:15 WIB
Diperbarui 08 Agu 2021, 15:15 WIB
masih sendiri

Fimela.com, Jakarta Kenangan pada masa kecil takkan pernah terlupakan. Hari-hari dan waktu yang kita lewati saat masih anak-anak akan selalu membekas di hati. Masing-masing dari kita pun pasti punya kisah atau cerita paling membekas soal masa kecil itu, seperti pengalaman yang dituliskan Sahabat Fimela dalam Lomba My Childhood Story: Berbagi Cerita Masa Kecil yang Menyenangkan ini.

***

Oleh: MIA

Sebagian kisah masa kecilku yang tak terlupakan, sesungguhnya banyak sekali kejadian masa kecil yang mengesankan dalam hidupku, hanya saja aku merasa kisah ini yang paling menonjol di antara kisahku yang lain. Ini terjadi ketika aku duduk di bangku kelas 2 SD.

Selain sekolah formal di pagi hari aku juga mengikuti sekolah mengaji di siang hari hingga sore hari pukul 16.30. Hari itu sudah seminggu TPQ tempatku menimba ilmu di liburkan karena di desa kami sedang ada pemilihan kepala desa baru. Harusnya hari itu menjadi hari pertama kami masuk mengaji seperti biasanya.

Seminggu sebelum kami liburan ustazah memberikan kami tugas untuk menghafal surah Yasin hingga selesai. Namun karena aku yang terlalu bersemangat bermain hingga tak sempat menghafal jadilah saat  waktunya masuk mengaji hanya hafal 10 ayat pertama saja. Hal itu membuatku takut untuk berangkat mengaji di hari itu.

Waktu sudah menunjukkan pukul 12.30, 30 menit lagi aku harus berangkat mengaji. Nenekku mulai menyuruhku untuk segera mandi agar aku tak terlambat seperti biasanya, ya aku memang sering terlambat karena selalu berdebat dengan nenek sebelum berangkat, ah aku saat itu sangat keras kepala dan sulit diatur.

Karena aku merasa takut, aku putuskan untuk membolos saja hari itu. Kumasukkan baju bermainku ke dalam tas agar tak ketahuan. Seusai mandi aku berlagak seperti biasanya, ganti seragam mengaji lengkap memakai jilbab instan yang senada. Lalu kukeluarkan sepeda kecil biru kesayanganku. Nenekku terheran, karena biasanya aku lebih memilih nebeng kakak sepupuku daripada harus mengayuh sepeda sendiri. Ah dasar aku pemalas.

Aku pun berpamitan seperti biasa. Kukayuh sepeda kecilku hingga di ujung gang masuk ke rumahku, harusnya aku mengambil arah kanan agar sampai ke TPQ tempat ku mengaji. Tapi niat awalku hari ini adalah membolos menghindari hafalan surah Yasin.

Kuputuskan untuk berbelok ke kiri, terus kukayuh sepedaku hingga sampai di perempatan jalan. Kebetulan di pojok perempatan tersebut ada kamar mandi umum yang biasa digunakan warga sekitar untuk mandi. Kebetulan kondisi saat ini sepi.

Tentu saja sepi ini tengah hari mendekati pukul 1 siang saat enak-enaknya orang tidur siang. Kusandarkan sepedaku ke tembok kamar mandi umum itu, dan aku pun segera berlari masuk untuk mengganti baju. Tak butuh waktu lama aku telah berganti baju bermain, dan masa bodoh dengan seragam mengajiku. Aku memasukkan dengan sembarangan ke dalam tasku tanpa kulipat lagi.

Kebetulan dari arah rumah ada pamanku yang hendak pergi memancing, aku menyapanya untuk basa-basi. Dengan segala bujuk rayuanku akhirnya aku di perbolehkan untuk ikut beliau memancing ke tempat kolam pemancingan ikan, tentunya dengan mengatakan aku masih libur mengaji.

Pengalaman Membolos Mengaji

bersepeda olahraga
ilustrasi./copyrigtht By beeboys from Shutterstock

Waktu terus berjalan matahari mulai berpindah ke arah barat yang menandakan hari sudah mulai sore. Aku mulai merengek untuk meminta pulang, saat itu aku telah bosan menunggu pamanku memancing, dan tubuhku sudah lelah karena berlarian di tepi kolam untuk sekedar mengejar capung atau burung-burung kecil yang sedang mampir untuk memakan padi.

Mungkin karena sudah bosan dengan suaraku yang terus merengek  pamanku mulai berkemas dan menyuruhku untuk berjalan terlebih dahulu ke tempat parkir sepeda. Dengan riang aku melangkahkan kakiku menyusuri jalan setapak menuju tempat parkir, sesekali aku mencoba menangkap capung yang hinggap di daun padi di sisi kiriku, dan kolam ikan di sisi kananku.

Karena aku yang tak memperhatikan jalan, seharusnya jalan menuju tempat parkir itu berbelok kiri namun aku dengan bodohnya melangkah terus. Hingga akhirnya aku tercebur ke dalam kolam ikan yang saat itu lumayan dalam untuk anak SD sepertiku yang mungil.

Kucoba untuk naik ke permukaan dengan sebisaku namun gagal karena banyak tanaman kangkung yang mungkin hampir menjerat kedua kakiku. Rasanya aku akan mati saat itu juga. Beruntung ada salah seorang teman pamanku yang menarik tanganku ke atas, beruntung aku bisa selamat. Segera orang-orang yang ada di tempat kejadian memberiku air putih untuk menetralkan kondisiku yang panik dan sedikit trauma.

Aku pulang dengan mengayuh sepeda kecilku dengan pamanku mengikuti di belakangku. Sesampainya di rumah pamanku menceritakan kejadian saat aku tercebur kolam ikan. Nenek menyuruhku untuk segera membersihkan diri. Seusai membersihkan diri nenekku mulai memberikan wejangan agar aku tak mengulangi perbuatanku lagi. 

Dari kejadian masa kecilku membuatku berubah, untuk menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab dan menjadi pribadi yang jujur. Karena tugas sama dengan kewajiban yang harus dijalankan, jangan menghindar apalagi di tambah dengan kebohongan. Sungguh hal tersebut akan berdampak burik untuk diri sendiri. Mungkin tidak hari ini tapi bisa juga dampak buruk itu datang nanti. 

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela