Bermain Layang-Layang dengan Ayah, Kebersamaan yang Takkan Pernah Kulupa

Endah Wijayanti06 Agu 2021, 07:45 WIB
Diperbarui 06 Agu 2021, 07:45 WIB
childhood dan layang-layang

Fimela.com, Jakarta Kenangan pada masa kecil takkan pernah terlupakan. Hari-hari dan waktu yang kita lewati saat masih anak-anak akan selalu membekas di hati. Masing-masing dari kita pun pasti punya kisah atau cerita paling membekas soal masa kecil itu, seperti pengalaman yang dituliskan Sahabat Fimela dalam Lomba My Childhood Story: Berbagi Cerita Masa Kecil yang Menyenangkan ini.

***

Oleh:  Elisa Irma Setiawan

Hari itu merupakan hari yang bersejarah dan menjadi memori yang indah sampai aku sulit melupakannya. Bahkan jika waktu dapat diputar ingin kuulangi lagi dan lagi karena waktu kebersaman bagi keluargaku sulit ditemukan.

Aku tumbuh dari keluarga broken home sehingga kesempurnaan kasih sayang antara ayah dan ibu sangatlah tidak seimbang. Akan tetapi, tidak menjadikanku anak yang tidak peduli terhadap perkembanganku. Kali ini aku ingin berbagi melalui cerita yang telah terangkai antaraku dengan ayahku yang sulit aku dapatkan, yakni waktu.

Pagi hari itu sangat cerah ayahku  mengunjungiku dengan berbagai hadiah terutama boneka yang begitu manis. Ayah juga membawa sebuah mobil tank berwarna hijau botol yang dapat bergerak sendiri.

Kebersamaan dengan Ayah

Hari Ayah
Ilustrasi./copyright shutterstock

Yang paling seru adalah ayah mengajariku cara bermain layang-layang. Siang hari waktu itu begitu terik akan tetapi sangat cerah sehingga menambah semangat kami untuk menerbangkan layang-layang yang sudah kami buat secara indah dan sempurna. Layangan seekor naga yang memiliki ekor kuning dan hijau sedangkan kepalanya memiliki warna merah karena kami menggunakan kertas yang biasa digunakan untuk membuat kue wajik itu membuatku tertawa.

Kami bermain layang-layang di ladang tanpa sandal. Aku berusaha menaiki puncak di atas bukit agar aku bisa dengan mudah untuk menerbangkan layangan sedangkan ayah berperan memainkan kailnya. Kami terus berbincang, tertawa, dan tak segan ayah membuat lelucon yang membuatku kesal tapi pada akhirnya kami tertawa lepas.

Pada sorehari, ibuku memanggil kami dan meminta untuk menyudahi bermain. Setibanya di rumah ibu tidak berhenti mengomeliku karena kulitku menjadi hitam di bawah sinar matahari yang menggosongkan kulitku, tapi saat itu aku langsung peluk ibuku dan mengatakan bahwa aku bahgaia hari ini. Terutama aku bisa bermain dan menghabiskan waktuku dengan ayahku, sampai akhirnya ibuku mengerti dan berhenti untuk mengomeliku.

Tibalah saatnya, ayah berpamitan pulang dan pergi aku merasa berat hati karena ingin aku lalui banyak hari seperti siang tadi saat kami menghabiskan hari dengan merangkai kebersamaan melalui layangan.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by
What's On Fimela