Pengalaman Pahit Hadir untuk Menguatkan Kita Hadapi Kerasnya Kehidupan

Endah Wijayanti09 Agu 2021, 13:15 WIB
Diperbarui 09 Agu 2021, 13:15 WIB
my trip story dan batukaras

Fimela.com, Jakarta Kenangan pada masa kecil takkan pernah terlupakan. Hari-hari dan waktu yang kita lewati saat masih anak-anak akan selalu membekas di hati. Masing-masing dari kita pun pasti punya kisah atau cerita paling membekas soal masa kecil itu, seperti pengalaman yang dituliskan Sahabat Fimela dalam Lomba My Childhood Story: Berbagi Cerita Masa Kecil yang Menyenangkan ini.

***

Oleh:  Anita Juwita

Jika ada yang bertanya, Apakah saya ingin kembali ke masa kecil? Mungkin saya tak seyakin orang-orang pada umumnya. Kenapa? Bukankah masa kecil adalah masa yang paling bahagia? Ya benar, pada saat itu saya memiliki orangtua yang saya kasihi dan materi yang ckup baik. Akan tetapi, pada saat itu juga, saya "kehilangan " segalanya.

Menorehkan cerita tentang masa kecil saya saja sebenarnya berat. Akan tetapi, semoga tulisan saya dapat memberi pelajaran berharga tentang kehidupan bagi orang yang membacanya.

Saat saya berusia 4 tahun, saya dan kakak saya sudah menjadi "saksi" pertengkaran dan kekerasan yang berujung perceraian. Di atas kertas kami "kehilangan" mama kandung kami, secara fisik tapi sebenarnya lebih dari itu, kami kehilangan kasih sayang, dekapan, dan (mungkin) harapan.

Saat itu kami anak-anak papa benar-benar tidak bertemu dengan mama kandung kami hingga dewasa. Cukup terhenti di situ? Ah, justru ini awalnya. Jika anak-anak seusia kami tumpah ruah kasih sayang dan perlakuan manja, kami kebalikannya. Saya dan kakak saya harus memasak makanan dan pergi ke sekolah dengan angkutan umum dari usia 6 tahun. Kami mencuci baju seragam kami sendiri karena kesibukan papa saya sebagai single parent. 

Saat saya menginjak usia 8 tahun, saya ingat saya tiba-tiba diperkenalkan dengan dua remaja yang ternyata saudara tiri kami dari ibu yang berbeda, yang sama sekali kami tidak kenal dan tahu menahu selama ini!

Saya diharuskan menerima keadaan. Hancur. Hati penuh amarah. Iri hati. Kedengkian. Bertahun-tahun saya hidup bersama saudara tiri yang saya benci! Kami sudah kehilangan mama kami, dan sekarang papa kami pun "direbut". Tidak berhenti sampai di situ.

Pada saat saya umur 9, papa saya menikah lagi dengan seorang wanita yang saya kenal sampai sekarang sebagai ibu tiri saya. Bahagia? Tidak. Wanita itu memporak-porandakan kehidupan anak-anak papa. Berbagai cara dilakukan untuk merebut harta papa. 

Menjadi Pribadi yang Tangguh

my trip story dan mengajar
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/dodotone

Bertahun-tahun saya hidup dengan ketegangan, iri hati, dan amarah. Saya hidup dengan keras. Dalam arti, saya diharuskan mengurus semua keperluan seorang diri, tak ada tempat mengadu,  mengontrol amarah, bahkan sampai pekerjaan rumah apa pun bentuknya pun saya lakukan. Lelah.

Saya seperti rumput liar yang terinjak injak, diterpa hujan dan tertiup angin. Rumput itu bisa saja mati, tapi lebih memilih untuk bertahan. Rumput itu bertambah tinggi dan akarnya pun menguat. Itulah saya saat ini.

Saya menjadi pribadi yang tangguh dan kuat, seorang yang menghadapi hidup daripada menghindarinya.  Saya menjadi seorang pekerja keras dengan penghasilan mandiri, tak lapuk diterpa masalah. 

Dari segala rintangan yang saya hadapi pada saat saya masih kecil, saya belajar dan menyadari tidak ada yang harus disesali. Semua yang terjadi adalah proses yang panjang untuk membentuk pribadi yang lebih baik.

Jika pada masa kecil hidup saya seperti pada umumnya, mungkin saya tidak akan kuat ketika papa saya meninggalkan saya selamanya. Saya tidak akan kuat untuk bertahan tanpa materi sepeninggal papa.

Semua seperti sesuatu yang sudah digarisi dan harus dilewati oleh Tuhan, untuk mempersiapkan saya sebagai wanita yang tangguh. Ada sebuah kutipan yang sangat mengena dalam hidup saya. "Pengalaman adalah cara untuk memahami sebuah kehidupan. Tanpa pengalaman maka kau tak akan pernah memahami hidup yang sebenarnya." 

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela