Persahabatan yang Terbentuk saat Masih Kecil, Ikatannya Paling Erat

Endah Wijayanti10 Agu 2021, 08:45 WIB
Diperbarui 10 Agu 2021, 08:45 WIB
my trip story dan liburan sahabat

Fimela.com, Jakarta Kenangan pada masa kecil takkan pernah terlupakan. Hari-hari dan waktu yang kita lewati saat masih anak-anak akan selalu membekas di hati. Masing-masing dari kita pun pasti punya kisah atau cerita paling membekas soal masa kecil itu, seperti pengalaman yang dituliskan Sahabat Fimela dalam Lomba My Childhood Story: Berbagi Cerita Masa Kecil yang Menyenangkan ini.

***

Oleh:  Frawita Adrinola

Ini cerita masa kecil saya tentang sebuah persahabatan, yang sampai saat ini masih intens berkomunikasi walau kami sudah berbeda Kota. Saya dan tiga orang sahabat saya pertama kali bertemu pada saat kami SD, saat itu kami ditugaskan oleh guru membuat rangkuman dari hasil ceramah ustaz di musala dekat rumah kami selama Ramadan. Karena kami rumahnya berdekatan, jadinya kami saling bertemu.

Semua berawal dari saling bertukar rangkuman isi ceramah, alias contek menyontek. Kami juga sering bolos Salat Tarawih dan memilih jajan sate atau pensi di warung dekat musala, lalu kembali lagi setelah Salat Tarawih selesai dan saat penyerahan buku rangkuman untuk diberi tanda-tangan dan stempel. Karena keseringan membuat kami semakin dekat.

Masih Bersahabat Hingga Sekarang

my trip story dan toleransi
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/tonklaphoto

Persahabatan kami tidak hanya sampai Ramadan saja, selepas itu kami masih sering bertemu dan janjian untuk Salat Magrib berjamaah di musala. Yang paling tidak bisa lupa adalah keisengan salah satu dari kami, namanya Uci, yang paling tua umurnya dibandingkan kami berempat.

Saat salat Uci pernah mengikat ujung belakang mukena kami bertiga, sehingga siapa yang lebih dulu sujud yang lainnya akan ikut ketarik ke bawah. Namanya anak-anak, waktu itu salat kami masih belum khusyuk, tiba-tiba langsung bilang, "Eh...eh... ketarik!" dan tertawa. Yang satu tertawa, yang lain pun ikut tertawa. Sehingga mengganggu kekhusyukan salat di sekitar kami, lalu pada akhirnya selesai salat kami mendapat omelan dari ibu-ibu yang salatnya terganggu oleh kami.

Ya, pada masa itu geng kami cukup terkenal. Terkenal karena kelakuan yang tidak baiknya saat salat di musala. Sehingga setiap kali kami kedapatan ikut salat berjamaah, ibu-ibu di sekitar kami langsung berkata, "Awas. Kalau salat jangan berisik ya!" yang langsung mengubah mood kami. Kami berempat menjadi tak berkutik sampai salat selesai.

Lama kejadian ini terus berulang, hingga kami tumbuh remaja. Punya kesibukkan masing-masing membuat kami menjadi jarang ke musala lagi. Namun wajah-wajah kami begitu melekat pada ingatan ibu-ibu di dekat rumah kami, lalu salah satu dari mereka nyeletuk, "Kalian jarang ke musala lagi ya sekarang, nggak ada yang Ibu omelin lagi nih!" dan kami pun tertawa sambil saling menyalahkan siapa yang mulai duluan dan siapa biang kerok sesungguhnya.

Saya, Uci, Iren, dan Anik sama-sama bertumbuh di kota yang sama. Kota kecil nan penuh kejutan, dan kota itu kini menjadi penuh kerinduan, karena kami terpisah jarak yang cukup jauh. Padang, Painan, Medan dan Jakarta. Namun selalu bertemu di satu kota saat kami sepakat untuk saling pulang kampung, yaitu di kota Padang tercinta.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela