Memiliki Ayah Berdarah Jawa dan Ibu dari Sunda, Hidupku Punya Warna Berbeda

Endah Wijayanti13 Sep 2021, 08:15 WIB
Diperbarui 13 Sep 2021, 08:23 WIB
cinta indonesia dan yogya

Fimela.com, Jakarta Punya cerita atau pengalaman tentang rasa rindu kepada kampung halaman, berbagai macam makanan khas daerahmu yang menggugah selera, hingga objek wisata yang bagai surga dunia? Atau punya cara tersendiri dalam memaknai cinta Indonesia? Pada bulan Agustus kali ini, kamu bisa membagikan semuanya dalam Lomba Share Your Stories bulan Agustus dengan tema Cinta Indonesia seperti tulisan yang dikirim oleh Sahabat Fimela ini.

***

Oleh: Rhey Kanakava

Tahukah kamu sulitnya mengakui kamu orang mana saat ditanya oleh orang Indonesia itu sendiri? Karena aku mengalaminya bertahun-tahun sejak aku harus berpindah dari satu kota ke kota lainnya untuk melanjutkan hidup.

Lahir dari ayah berdarah Jawa dan ibu berdarah Sunda di kota istimewa bernama Yogyakarta tidak bisa membuatku leluasa memutuskan aku ini berasal dari suku apa. Memang sih pada akhirnya di formulir pendaftaran sekolah akan diisi dengan suku Jawa tapi pada kenyataannya aku bukan orang Jawa tulen.

Meskipun aku berbicara dengan logat sangat medok, berkulit sawo matang yang orang sering bilang manis gula Jawa, tapi aku juga bisa berbicara dengan bahasa Sunda sehingga mengalami kerancuan bagaimana harus mendeskripsikan suku sebenarnya. Sampai akhirnya aku selalu bilang aku ini "JanDa" alias Jawa-Sunda. Kelahiran Jawa tapi Sunda Karbitan, semacam muggle yang berdarah campuran. Sayangnya aku tidak mempunyai kekuatan sihir seperti Harry Potter.

Menghabiskan masa kecil di Yogyakarta kemudian pindah ke Jawa Barat tepatnya di Tasikmalaya, aku mengalami gegar budaya. Logat bicaraku yang medok ini jadi bahan ledekan semasa aku SMP. Hingga aku punya julukan yang kurasa sangat rasis karena menyebutkan nama suku. Meskipun begitu hal tersebut tidak membuatku sedih terlalu lama.

Mencintai Keberagaman Suku

childhood dan desa
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Danai+J

Pada akhirnya aku kembali ke Yogyakarta untuk melanjutkan kuliah dan bekerja. Kembali ke kota penuh kenangan untuk berjuta orang, aku tidak mendapatkan kesulitan untuk berbaur kembali.

Kota Yogyakarta lebih heterogen masyarakatnya, multikultural dan dikenal menjadi kota pelajar. Keuntungan setelah pindah kota lintas provinsi adalah kemampuanku berbahasa Sunda semakin baik dan paham akan budaya serta kebiasaan penduduk di kota tersebut. Tidak dipungkiri masalah logat masih menempel di lidahku. Aku anggap itu berkah. Karena pada akhirnya ketika bergabung di dunia kerja yang multi ras serta suku bangsa, hal tersebut menjadi keterampilan berkomunikasi yang menguntungkan.

Contohnya saja ketika aku berbelanja di Pasar Beringharjo dengan berbahasa Jawa aku bisa dapat harga miring dan diskon. Lalu saat berkenalan dengan seseorang di seminar nasional yang ternyata berasal dari Jawa Barat, aku bisa berbahasa Sunda dengannya sehingga bisa lebih santai dalam berkomunikasi karena seperti menemukan teman lama.

Belum lagi menemukan tukang kredit berplat Z di tengah belantara hutan Kalimantan dan saling menyapa dengan bahasa Sunda menjadi momen mengagumkan. Sejauh mana pun aku pergi selalu bisa menemukan serpihan budaya yang aku kenal. Indonesia yang sangat luas dan indah memberikan banyak pengalaman yang sulit dilupakan.

Aku tidak lagi mempermasalahkan bagaimana aku harus menyebut dari suku mana aku berasal. Karena darah dan jiwaku tetaplah Indonesia yang mencintai keberagaman suku bangsa dan budaya tanpa menganggap salah satu suku lebih hebat daripada lainnya. Bhineka Tunggal Ika adalah pemersatu bangsa dan NKRI adalah harga mati.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela