Berhasil Meraih Sarjana dengan Strategi Keuangan 70-30 yang Kuterapkan Hingga Kini

Endah Wijayanti21 Sep 2021, 08:15 WIB
Diperbarui 21 Sep 2021, 08:15 WIB
mahasiswa rantau

Fimela.com, Jakarta Setiap harinya kita berurusan dengan uang. Menghasilkan uang hingga mengatur uang menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian kita. Bahkan masing-masing dari kita punya cara tersendiri dalam memaknai uang. Dalam tulisan kali ini, Sahabat Fimela berbagi sudut pandang tentang uang yang diikutsertakan dalam Aku dan Uang: Berbagi Kisah tentang Suka Duka Mengatur Keuangan. Selengkapnya, yuk langsung simak di sini.

***

Oleh: Sutianingsih

Dulu, tidak pernah terpikir olehku untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dari seorang lulusan Diploma Ilmu Komunikasi. Berusaha lebih untuk menyandang gelar lebih tinggi dan memutuskan belajar lagi, seakan tidak mungkin karena kondisi ekonomi yang saat itu pun sedang rumit dan tak pasti.

Walaupun berbanding terbalik dengan keinginan dalam diri untuk bisa memberikan ijazah sarjana bagi ibu tercinta. Tapi, siapa yang tahu pada akhirnya aku berhasil mendapatkan ijazah tersebut dengan strategi mengelola keuangan yang aku susun secara matang.

Pendidikan bagiku adalah salah satu pembuktian bahwa seorang perempuan bisa memiliki jalannya ditengah stigma bahwa ia harus di rumah. Pendidikan bagiku adalah sebuah jalan bagaimana aku memandang berbagai macam perspektif secara mendalam agar tak salah jalan.

Sebuah langkah besar aku ambil di tengah keterpurukan perekonomian, tepat pada tahun 2019, aku memutuskan untuk resign dari pekerjaan dan melanjutkan pendidikan di kota metropolitan. Bukan hanya untuk sebuah gengsi, tapi muncul pertanyaan, bagaimana aku bisa mengatur keuangan dengan cara melanjutkan pendidikan?

Hidup dengan seorang ibu tunggal dan tiga orang adik yang masih mengenyam pendidikan, tidak mengurungkan niatku untuk membuat keputusan yang aku anggap berat saat itu. Berusaha dengan “bismillah” bahwa aku bisa lulus dan menyandang sarjana pada saatnya nanti. Mulai dari menghitung keuangan yang ada, tabungan yang tersisa dan mencari jalan untuk mendapatkan pekerjaan baru dengan waktu yang tersisa.

Mengatur Keuangan Sebijak Mungkin

aku uang dan mandiri finansial
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/weedezign

Langkah pertama aku pergi dengan kereta pagi-pagi sekali untuk mengikuti tes dan mendaftar secara mandiri di sebuah kampus swasta impianku sejak dulu. Aku ikuti semua alur dan akhirnya berhasil diterima dengan tantangan yang tentu saja semakin berima.

Aku mencari tempat tinggal baru terlebih dahulu untuk menjadi tempat tinggal sementara sampai mendapatkan tempat kerja pengganti. Alhamdullilah dengan izin-Nya, aku berhasil mendapatkan pekerjaan di tengah kesulitan keuangan untuk membayar uang SKS. Aku diterima di salah satu penerbitan milik negara dengan posisi yang aku suka sebagai editor. Allah memang adil dengan segala jalannya. Allah memang menolong hamba-Nya dengan cara yang tidak pernah terduga.

Mengatur keuangan sudah aku terapkan sejak kecil dengan caraku sendiri. Selalu membayar tagihan utama terlebih dahulu seperti membayar listrik dan membayar SPP sekolah, yang mana sering aku lakukan ketika masih tinggal bersama orang tua. Bagiku, hal tersebut memberikan dampak besar akan gaya hidup dan caraku mengatur keuangan.

Aku selalu menyisihkan sekitar 70% untuk membayar cicilan utama seperti cicilan kosan sampai dengan membayar uang kuliah dan belanja bulanan. Sehingga sisa dari gaji tersebut aku alokasikan 15% untuk menabung dan 15% untuk kebutuhan membeli cemilan dan uang bensin. Memang uang gaji habis untuk membayar pembayaran utama. Namun, ada kepuasan tersendiri ketika aku berhasil tidak menunggak untuk sebuah kewajiban yang harus terbayarkan.

Pada awalnya memang sulit namun akan mudah ketika menjalankannya seiring waktu dengan pengaturan yang tertata. Tahu akan kemampuan yang dimiliki memudahkanku untuk dewasa mengatur keuangan sampai bisa membayar semua keperluan tanpa melibatkan orang tua karena sebuah keterbatasan.

Strategi 70-30 selalu aku terapkan sampai sekarang. Aku memang bukan lulusan dan ahli akuntan, tapi ketika belajar untuk memenuhi semua kebutuhan aku berusaha sekadar dari seorang lulusan akuntan.

Belajar secara nyata dengan mengatur kedewasaan dalam hal finansial memberikan kesadaran bahwa semua bisa kita atur salah satunya tentang keuangan. Dewasa bukan saja dari penampilan dan perubahan fisik saja, tetapi adanya perubahan diri dari segi pengaturan finansial diri.

Aku mengerti bahwa ketika kita mampu dan yakin bisa mengatur keuangan dengan baik, bukan tidak mustahil kita akan bisa mengatur diri dan menjadi cerminan terbaik dengan versi terbaru diri kita.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela