Miris, 5 Perjuangan Pelajaran Indonesia Pergi Ke Sekolah dari Melintasi Tali Hingga Dua Negara

Anisha Saktian Putri27 Sep 2021, 13:00 WIB
Diperbarui 27 Sep 2021, 13:00 WIB
Ilustrasi Kisah perjuangan pelajar Indonesia ke sekolah dengan cara yang tidak biasa hingga bertaruh nyawa

Fimela.com, Jakarta Baru-baru ini tengah viral seorang bocah SD menggunakan styrofoam untuk berangkat ke sekolah. Hal ini menjadi cerminan kemudahan menuntut ilmu di Indonesia belum merata, seperti masih sulitnya transportasi untuk menuju kesekolah.

Beberapa pelajar di pelosok harus bertaruh nyawa untuk sampai ke sekolah. Tidak adanya jembatan atau bahkan jembatan yang dilalui sudah rusak, menempuh perjalana berkilo-kilo meter untuk mendapatkan pendidikan.

Ada berbagai perjuangan seorang pelajar menuntut ilmu yang membuat hati kita miris. Melansir liputan6.com, berikut ini beberapa cerita sulitnya seorang pelajar untuk menuntut ilmu.

1. Seberangi Sungai dengan Seutas Tali

Seberangi Sungai dengan Seutas Tali/dok. Merdeka.com
Seberangi Sungai dengan Seutas Tali/dok. Merdeka.com

Pada Maret 2015 lalu, beredar sebuah video yang memperlihatkan video perjuangan anak-anak SD. yang harus menyeberangi sungai. Bukan menggunakan jembatan, tetapi hanya menggunakan seutas tambang.

Empat bocah SD tersebut harus bergelayutan tanpa alas kaki di atas seutas tambang yang diikatkan pada pohon di seberang sungai.

Di bawahnya, aliran sungai deras siap melibas keempat bocah tersebut bila salah langkah atau terlepas pegangan tali.

2. Pelajar Bertaruh Nyawa Seberang Sungai

Pelajar Bertaruh Nyawa Seberang Sungai/dok. Liputan6.com
Pelajar Bertaruh Nyawa Seberang Sungai/dok. Liputan6.com

Para pelajar SMP di Desa Tobo, Werinama, Maluku harus bertaruh nyawa dengan menyeberangi sungai deras demi ke sekolah.

Berdasarkan video yang diunggah Liputan6.com pada Juli 2020, terdapat empat pelajar yang hendak pergi ke sekolah.

Untuk pergi ke sekolah, mereka harus menyebrang ke desa sebelah yang dipisahkan dengan sungai. Namun, tidak ada jembatan yang menyambungkan antar desa tersebut.

Sehingga, para pelajar tersebut mau tak mau harus menyebrangi sungai tersebut. Memang airnya tak setinggi dibayangkan, namun mereka harus tetap melawan derasnya arus air sungai. Bahkan, saat menyebrang, ada pelajar yang hampir terbawa arus sungai.

3. Mendaki Bukit agar Bisa Belajar Daring

Pelajar di Palupuah Agam harus pergi ke daerah perbukitan untuk belajar online karena di kampunya tidak tersedia sinyal seluler. (Liputan6.com/ Novia Harlina)
Pelajar di Palupuah Agam harus pergi ke daerah perbukitan untuk belajar online karena di kampunya tidak tersedia sinyal seluler. (Liputan6.com/ Novia Harlina)

Sejumlah sekolah menerapkan pembelajaran daring atau online, menyusul pandemi Covid-19 yang masuk Indonesia pada awal 2020.

Sayangnya, konsep pembelajaran daring tersebut masih sulit dilakukan di daerah-daerah pelosok karena tak ada sinyal untuk mengakses.

Di Nagari (desa adat) Pasia Laweh Kecamatan Palupuh, Agam Sumatera Barat, sejumlah siswa SMP, MTs, dan SMA terpaksa mencari sinyal seluler ke tempat yang lebih tinggi guna mendukung proses belajar mengajar secara daring. Sebab daerah ini tidak ada sinyal seluler sama sekali.

Siswa yang belajar secara daring harus ke lokasi yang jauh dari rumah penduduk dan itu pun pada waktu tertentu. Kemudian juga tidak semua provider seluler yang tersedia.

Salah seorang siswa SMA Negeri 1 Palupuh Solia kepada Liputan6.com, Senin 3 Agustus 2020 mengaku terkendala dalam mengikuti pelajaran sekolah setiap hari karena tidak ada sinyal di kampungnya.

Keadaan seperti ini sudah dijalaninya sejak kebijakan pemerintah mengalihkan proses belajar mengajar tatap muka ke rumah akibat pandemi Covid-19.

"Iya hampir setiap hari selama hari sekolah kami pergi ke perbukitan ini, supaya dapat sinyal," kata Solia.

4. Lintasi 2 Negara untuk Sekolah

Lintasi 2 Negara untuk Sekolah/dok. Merdeka.com
Lintasi 2 Negara untuk Sekolah/dok. Merdeka.com

Seorang pelajar SD bernama Nuraska harus melintasi dua negara demi mendapat pendidikan. Hal tersebut lantaran dirinya tinggal di perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia.

Setiap harinya, Nuraska harus melewati kantor imigrasi untuk dilakukan pemeriksaan agar bisa masuk ke Indonesia.

Dia tinggal di Tebedu, Malaysia. Untuk bersekolah setiap harinya Nursaka diantar menggunakan motor.

Nursaka mengaku bahwa dirinya tak pernah lelah harus tiap hari mengurus berkas di Imigrasi tiap kali berangkat sekolah. Ia bahkan juga ingin tinggal di Indonesia.

"Enggak (capek), di Indonesia (ingin tinggal), karena bangga menjadi bangsa Indonesia," ungkap Saka sebagaimana berita yang tayang di Merdeka.com, Selasa 11 Mei 2021.

5. Anak SD Seberangi Sungai Pakai Boks Styorofoam Bekas

3 anak SD menyeberangi Sungai Riding, Sumatera Selatan
Video 3 anak SD menyeberangi Sungai Riding, Sumatera Selatan, viral. (Istimewa)

Belum lama ini, sebuah video memperlihatkan tiga anak laki-laki menyeberangi sungai sepulang sekolah dengan tak lazim.

Tiga anak berseragam Sekolah Dasar (SD) tersebut menggunakan box styrofoam bekas ikan untuk menyeberang sungai.

Box yang digunakan pun tak besar, cukup ditumpangi satu anak. Saat masuk dalam box tersebut setiap anak membawa potongan styrofoam yang digunakan sebagai dayung sebagai penahan arus sungai.

Berdasarkan unggahan yang viral di media sosial tersebut, Minggu (26/9/2021), disebutkan lokasinya berada di Kecamatan Tulung Selapan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Sumatera Selatan.

Dalam video tersebut juga tampak tak ada jembatan penghubung antara kedua wilayah pinggir sungai. Perekam video juga menyebutakan ketiga anak sekolah tersebut menyebrangi Sungai Riding dengan arus yang lumayan deras.

Kredit: Liputan6.com/Lizsa Egeham

#elevate women

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela