31 Kutipan Novel Anak Semua Bangsa Karya Pramoedya Ananta Toer

Kezia Prasetya Christvidya15 Okt 2021, 10:36 WIB
Diperbarui 15 Okt 2021, 14:09 WIB
membaca-kezo

Fimela.com, Jakarta Anak Semua Bangsa adalah buku kedua karya dari Pramoedya Ananta Toer, yang akrab dipanggil dengan Pram. Buku ini termasuk dalam seri Tetralogi Buru, yang pernah dilarang beredar oleh Kejaksaan Agung, sama seperti buku Bumi Manusia.

Buku Anak Semua Bangsa ini diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh Maxwell Lane, dengan judul buku Child of All Nations. Dalam buku ini menceritakan tentang perjuangan batin Minke, karena istrinya yang bernama Annelis terpaksa dibawa ke Belanda.

Dengan adanya hal tersebut, keluarga Nyi Ontosoroh menyurug Panji Darman atau Jan Depperste memantau Annelis. Kemudian Minke terus belajar dan memulai bisnis, urusan hukum dan menulis. Karena ia tidak mau tinggal diam dengan keadaan istrinya.

Dari buku Anak Semua Bangsa ini, kita bisa belajar banyak hal tentang kehidupan. Pram juga menuliskan banyak sekali nasihat di dalam buku ini. Berikut kutipan novel Anak Semua Bangsa yang menginspiratif:

Kutipan Novel Anak Semua Bangsa Berupa Nasihat

membaca-kezo
ilustrasi novel/Aline Viana Prado/pexels

1. Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.

2. Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriaannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit.

3. Kehidupan lebih nyata daripada pendapat siapa pun tentang kenyataan.

4. Pernah kudengar orang kampung bilang : sebesar-besar ampun adalah yang diminta seorang anak dari ibunya, sebesar-besar dosa adalah dosa anak kepada ibunya.

5. Barangsiapa muncul di atas masyarakatnya, dia akan selalu menerima tuntutan dari masyarakatnya-masyarakat yang menaikkannya, atau yang membiarkannya naik.... Pohon tinggi dapat banyak angin? Kalau Tuan segan menerima banyak angin, jangan jadi pohon tinggi.

6. Tak ada satu hal pun tanpa bayang-bayang, kecuali terang itu sendiri.

7. Selama penderitaan datang dari manusia, dia bukan bencana alam, dia pun pasti bisa dilawan oleh manusia.

8. Jangan kau mudah terpesona oleh nama-nama. Kan kau sendiri pernah bercerita padaku: nenek moyang kita menggunakan nama yang hebat-hebat, dan dengannya ingin mengesani dunia dengan kehebatannya—kehebatan dalam kekosongan. Eropa tidak berhebat-hebat dengan nama, dia berhebat-hebat dengan ilmu pengetahuannya. Tapi si penipu tetap penipu, si pembohong tetap pembohong dengan ilmu dan pengetahuannya.

9. Kau Pribumi terpelajar! Kalau mereka itu, Pribumi itu, tidak terpelajar, kau harus bikin mereka jadi terpelajar. Kau harus, harus, harus, harus bicara pada mereka , dengan bahasa yang mereka tahu

10. Semua yang terjadi d bawah kolong langit adalah urusan setiap orang yang berpikir.

Kutipan Novel Anak Semua Bangsa yang Menginspirasi

membaca-kezo
ilustrasi membaca novel/Ekrulila/pexels

11. Orang bilang, apa yang ada di depan manusia hanya jarak. Dan batasnya adalah ufuk. Begitu jarak ditempuh sang ufuk menjauh.

12. Barang siapa tidak tahu bersetia pada azas, dia terbuka terhadap segala kejahatan: dijahati atau menjahati.

13. Kehidupan lebih nyata daripada pendapat siapapun tentang kenyataan.

14. Sahabat dalam kesulitan adalah sahabat dalam segala-galanya. Jangan sepelekan persahabatan. Kehebatannya lebih besar daripada panasnya permusuhan.

15. Kartini pernah mengatakan : mengarang adalah bekerja untuk keabadian.

16. Setiap saat orang bisa minta ampun pada Tuhan, bila berdosa terhadap-Nya, dosa terhadap sesama manusia lain lagi, terlalu susah untuk mendapat ampun daripadanya. Tuhan Maha Pemurah, manusia maha tidak pemurah.

17. Kekuatan yang kita miliki mungkinlah tidak sebanding dengan ketidakadilan yang ada, tapi satu hal yang pasti: Tuhan tahu bahwa kita telah berusaha melawannya.

18. Kau tak kenal bangsamu sendiri.

19. Revolusi Perancis, mendudukkan harga manusia pada tempatnya yang tepat. Dengan hanya memandang manusia pada satu sisi, sisi penderitaan semata, orang akan kehilangan sisinya yang lain. Dari sisi penderitaan saja, yang datang pada kita hanya dendam, dendam semata...

20. Negeri Matahari Terbit, negeri Kaisar Meiji itu berseru pada para perantaunya, menganjurkan: Belajar berdiri sendiri! Jangan hanya jual tenaga pada siapa pun! Ubah kedudukan kuli jadi pengusaha, biar kecil seperti apa pun; tak ada modal? berserikat, bentuk modal! belajar kerja sama! bertekun dalam pekerjaan!

Kutipan Novel Anak Semua Bangsa yang Penuh Makna

membaca-kezo
ilustrasi membaca/lilartsy/pexels

21. All we can do is pray, Ma, pray. No, Child, these are the deeds of human beings. Planned by the brains of humans, and by the warped hearts of humans. It is to people we must speak our words. God has never sided with the defeated.

22. Kau harus bertindak terhadap siapa saja yang mengambil seluruh atau sebagian dari milikmu, sekali pun hanya segumpil batu yang tergeletak di bawah jendela. Bukan karena batu itu sangat berharga bagimu. Azasnya: mengambil milik tanpa ijin: pencurian; itu tidak benar, harus dilawan.

23. Aku bangga menjadi seorang liberal, Tuan, liberal konsekwen. Memang orang lain menamainya liberal keterlaluan. Bukan hanya tidak suka ditindas, tidak suka menindas, lebih dari itu: tidak suka adanya penindasan.

24. Tak ada persiapan terlalu pagi.

25. Sepandai-pandaimya lelaki, kata bujang nenekku dulu semasa aku masih sangat muda, kalau sedang gandrung: dia sungguh sebodoh-bodoh si tolol.

26. Semua yang terjadi di bawah kolong langit adalah urusan setiap orang yang berpikir.

27. Aku kira, setiap penulis yang jujur, akhir-kelaknya akan kecewa dan dikecewakan.

28. Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang berperasaan dan berpikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang berjiwa kriminil, biar pun dia sarjana.

29. Keajaiban pengetahuan: Tanpa mata yang melihat dia membikin orang mengetahui luasnya dunia: dan kayanya, dan kedalamannya, dan ketinggiannya, dan kandungannya, dan juga sampar-samparnya.

30. Kau benar, Minke, wujud dan wajah manusia itu tetap sama, tidak lebih baik daripada di jaman-jaman sebelumnya. Khotbah-khotbah di gereja juga memperingatkan itu berulang-ulang. Dia tetap tinggal makhluk yang tak tahu apa sesungguhnya dia kehendaki. Semakin sibuk orang mencari-cari dan menemukan, semakin jelas, bahwa dia sebenarnya diburu-buru oleh kegelisahan hati sendiri.

31. Aku semakin banyak berdoa, karena hanya itulah yang dapat kuusahakan, berdoa dan berdoa. Kalau hati dan pikiran manusia sudah tak mampu mencapai lagi, bukankah hanya pada Tuhan juga orang berseru?

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela