Kegagalan Bisa Menguatkan Kita Menjadi Perempuan yang Lebih Tangguh

Endah Wijayanti16 Okt 2021, 13:15 WIB
Diperbarui 16 Okt 2021, 13:15 WIB
persewaan buku ayah

Fimela.com, Jakarta Di bulan Oktober yang istimewa kali ini, FIMELA mengajakmu untuk berbagi semangat untuk perempuan lainnya. Setiap perempuan pasti memiliki kisah perjuangannya masing-masing. Kamu sebagai perempuan single, ibu, istri, anak, ibu pekerja, ibu rumah tangga, dan siapa pun kamu tetaplah istimewa. Setiap perempuan memiliki pergulatannya sendiri, dan selalu ada inspirasi dan hal paling berkesan dari setiap peran perempuan seperti tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Elevate Women: Berbagi Semangat Sesama Perempuan di Share Your Stories Bulan Oktober ini.

***

Oleh:  Novita Nur Azizah

Masih banyak anggapan bahwa seorang perempuan tidak perlu mengenyam pendidikan hingga bangku perkuliahan. Sebab masih menjadi sebuah budaya terutama di daerah pedesaan, jika seorang perempuan cukup mencari pekerjaan yang ala kadarnya tidak boleh menunaikan impiannya karena nantinya perempuan akan beristana di dapur saja. Kata-kata bahwa perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi masih bergema di daerah tempat tinggalku, karena aku tinggal di sebuah pedesaan. Namun bagiku perkataan tersebut harus kita lawan dengan cara kita mewujudkan impian kita dan bisa menunjukannya kepada mereka bahwa kita akan sukses dengan merealisasikan impian tersebut.

Aku adalah gadis desa yang memiliki cita-cita menjadi seorang guru. Namun cita-citaku sempat diragukan oleh keluargaku karena mereka berpikir untuk menjadi guru perlu kuliah, sedangkan biayanya tidak ada.

Keluarga jauhku juga menakut-nakuti orang tuaku jika biaya yang dikeluarkan untuk kuliah itu banyak sekali, dan kuliah itu tidak akan menjamin dapat pekerjaan karena ada beberapa sarjana yang pengangguran, katanya. Mendengar hal itu orang tuaku semakin tidak yakin dengan impianku ini.

Bapak pernah bilang, “Bapak mungkin tidak akan sanggup untuk membiayaimu, mungkin Bapak bantu sedikit aja, yang Bapak sanggupi adalah berdoa untukmu semoga bisa mewujudkan cita-citamu meski jalan untuk itu Bapak tidak tahu."

Dalam hati aku sedih, mataku juga memerah hampir meneteskan air mata. Aku cuma bisa bilang jika bapak tidak sanggup membiayai aku itu bukan suatu masalah karena aku yakin setiap niat yang baik maka jalan untuk mewujudkannya akan dipermudah. Terkadang dari perkataan itu membuat diriku maju mundur untuk melangkah ke bangku perkuliahan. Karena aku begitu ingin kuliah dan mewujudkan cita-citaku tapi aku juga tidak ingin membebani orang tua dengan masalah biaya.

 

Sempat Gagal Ujian Masuk Perguruan Tinggi

mahasiswa rantau
Berani berjuang sendiri./Copyright shutterstock.com

Kegelisahanku itu mengantarkan aku masuk di SMK setelah lulus dari SMP. Karena ketika aku searching di google, kalau kita di SMK kita bisa memperoleh pengetahuan sekaligus keterampilan dan setelah lulus nanti sudah tersedia lowongan pekerjaan, lulusan SMK juga bisa kuliah, bekerja, atau bahkan membuat suatu usaha.

Tahun-tahun berlalu tekadku untuk kuliah semakin bulat untuk bisa masuk di sebuah Perguruan Tinggi Negeri, beberapa teman seangkatanku sedang gencar mencari lowongan pekerjaan di Bursa Kerja Khusus yang disediakan SMK-ku, sedangkan aku hanya menggandeng 2 orang teman yang bersemangat mencari infomasi di ruang BK tentang jalur masuk PTN.

Salah satu jalur yang diselenggarakan oleh LTMPT tanpa melalui tes, aku tertarik untuk mencobanya, namun sebelumnya aku mencari sebuah beasiswa untuk meringankan biaya jika aku lolos nantinya. Ketika orang tuaku aku beri tahu soal ini, mereka terlihat bahagia dan mendukung langkahku. Di samping aku mengikuti jalur tanpa tes ini aku tetap belajar dengan keras mengingat kejadian buruk ketika gagal nanti. Waktu antara pendaftaraan jalur tanpa tes dengan jalur dengan tes tidaklah jauh.

Saat mendekati minggu-minggu pengumuman kelolosan aku semakin malas belajar materi untuk tes atau SBMPTN yang aku rencanakan agar mengurangi hal buruk ketika nanti aku tidak lolos jalur tanpa tes. Kemalasanku ini timbul karena banyak tugas sekolah dan ujian praktik kejuruan, kemudian aku merasa pusing jika harus belajar buat SBMPTN juga karena materi SBMPTN itu sedikit jauh berbeda dengan pelajaran yang aku terima saat di SMK.

Setelah beberapa minggu berlalu tibalah hari di mana pengumuman jalur tanpa tes itu akan kulihat. Pengumuman dibuka pukul 3 sore, namun mataku belum berani untuk menatap hasil nanti.

Aku putuskan untuk melihat pengumuman setelah shalat maghrib, dan aku dapati takdir yang kulihat tidak seperti keinginan yang aku nanti. Background merah di layar ponsel dengan tulisan “Anda dinyatakan tidak lulus seleksi SNMPTN 2021”, seketika aku menundukkan kepala dengan suasana hati yang begitu kecewa, sedih, dan putus asa. Namun aku juga tak ingin kalau orang tuaku melihat aku begitu sedih, aku tetap menahan air mata yang ingin menetes ini namun aku terpaksa pasang topeng untuk menutupi kesedihanku, “Buk, Pak belum rezeki aku." Orang tuaku hanya berkata, “Tidak apa-apa, yang penting berani mencoba."

Minggu pertama setelah pengumuman pikiranku buyar dan tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan, sedangkan aku belum siap untuk menjalani seleksi tes atau SBMPTN karena aku tahu materi SBMPTN tidak aku kuasai. Tapi salah seorang temanku berkata bahwa coba aja dulu, ingat kata orang tuamu rejeki udah ada yang ngatur kok, dan temanku itu terus memberikan motivasi beberapa hari kepadaku sehingga semangatku dapat kembali.

Karena selama aku di SMK materi SBMPTN tidak begitu banyak aku dapatkan, maka aku harus mencari jalan lain tapi tidak dengan bimbel karena uang tidak mencukupi. Aku bergabung dalam grup di beberapa sosial media untuk mencari strategi masuk PTN jalur SBMPTN, kemudian aku menemukan kisah salah satu anggota grup di sosial media jika ia tidak ambil bimbel, cukup bermodal dengan buku khusus SBMPTN dan tutor youtube.

Dari situ aku ingin mencontoh, tepat setelah kegiatan sekolah usai hanya menunggu pengumuman kelulusan. Setiap hari aku buka puluhan lembar buku yang halamannya cukup tebal, ketika ada materi yang masih belum aku pahami aku cari di youtube.

Begitulah hari-hariku sebelum menghadapi SBMPTN tak lupa ibadah juga aku kencangin, berharap Allah meridhai dan meloloskan aku di jalur ini. Saat pelaksanaan SBMPTN tiba aku merasa soal-soal yang aku kerjakan gampang-gampang susah, dan aku tidak yakin jika aku akan lolos.

Setelah tes itu terselesaikan, aku cuma bisa berdoa dan mengikhlaskan apapun hasilnya nanti. Berkat doa dari orang tua dan ridha Allah, ketika aku buka pengumuman SBMPTN aku dinyatakan lolos seleksi dengan beasiswa.

Akhirnya langkah mewujudkan cita-cita ini perlahan bisa kulakukan, perasaan bahagia bercampur tangisan yang heboh mengisi ruang tamu. Dan sekarang aku telah menjadi mahasiswa baru di salah satu PTN di Jawa Tengah. Kunci yang aku pegang dalam hidup adalah pepatah dari Arab, “man jadda wajada.” Aku yakin semua niat baik akan tercapai dengan berbagai cara, cobaan datang untuk menguatkan kita menjadikan kita tangguh dan lebih baik dari sebelumnya.

 

 

#ElevateWomen

 

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela