29 Kutipan Novel Larasati Karya Pramoedya Ananta Toer yang Menyentuh Hati

Kezia Prasetya Christvidya18 Okt 2021, 10:56 WIB
Diperbarui 18 Okt 2021, 11:33 WIB
membaca-kezo

Fimela.com, Jakarta Larasati adalah sebuah novel karya dari Pramoedya Ananta Toer, yang latar belakang kisahnya diambil pada masa setelah kemerdekaan. Cetakan pertama novel ini terbit di tahun 1960. Dalam novel ini memiliki tokoh utama bernama Larasati yang sebenarnya bekerja sebagai bintang film, namun juga bekerja sebagai pekerja seks komersial.

Larasati berasal dari kota Yogyakarta, lalu pergi ke Jakarta untuk menemui ibunya. Tetapi di Jakarta, Larasati yang memiliki nama panggilan Ara sewaktu kecil ini, bertemu dengan Mardjohan yang mendapatkan kedudukan dari Belanda sebagai produser film. Mardjohan meminta Ara bermain film propaganda Belanda. Tetapi Ara menolak tawaran tersebut karena ia adalah seorang republikein atau orang yang membela negara Indonesia.

Novel ini memiliki banyak sekali pesan moral di dalamnya, yang menceritakan tentang kisah perjalanan hidup Larasati. Berikut kutipan novel Larasati karya Pramoedya Ananta Toer:

Kutipan Novel Larasati Penuh Makna

membaca-kezo
ilustrasi kutipan/Annie Spratt/unsplash

1. Ada yang membunuh. Ada yang dibunuh. Ada peraturan. Ada undang-undang. Ada pembesar, polisi, dan militer. Hanya satu yang tidak ada: keadilan.

2. Apa gunanya memaki? Mereka memang anjing. Mereka memang binatang. Dulu bisa mengadu, dulu ada pengadilan. Dulu ada polisi, kalau duit kita dicolong tetangga kita. Apa sekarang? Hakim-hakim, jaksa-jaksa yang sekarang juga nyolong kita punya. Siapa mesti mengadili kalau hakim dan jaksanya sendiri pencuri?

3. Indahnya dunia ini jika pemuda masih tahu perjuangan!

4. Dia seniman, hidup hanya di alam perasaan.

5. Sia-sianya dunia ini kalau untuk meningkatkan satu orang yang lain mesti diinjak.

6. Ibuku tinggal di sarang. Ini bukan rumah. Di negeri matahari ini, bahkan sinar matahari dia tidak kebagian!

7. Rupanya di bumi jajahan ini setiap orang hidup atas dasar hancur menghancurkan.

8. Aku juga punya tahan air. Jelek-jelek tanah airku sendiri, bumi dan manusia yang menghidupi aku selama ini. Cuma binatang ikut Belanda!

9. Mereka berjabat tangan, seperti gunung berjabatan dengan samudera. Mereka hanya dua gumpal daging kecil, tetapi jiwanya lebih besar dari gunung, lebih luas dari laut, karena mereka ikut melahirkan sesuatu yang nenek-moyangnya dan bangsa-bangsa lain tidak atau belum melahirkannya: kemerdekaan.

10. Kalau mati dengan berani; kalau hidup dengan berani. Kalau keberanian tidak ada itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita.

Kutipan Novel Larasati tentang Revolusi

membaca-kezo
ilustrasi novel/Karolina Grabowska/pexels

11. Kalau kita menang perang, semua kita dapat rumah baik. Tapi sekarang negara lebih butuh uang dari pada kita semua.

12. Berkhianat pada revolusi ini berarti berkhianat pada diri sendiri, pada publik yang membayarnya.

13. Secacat itu tapi masih berjuang! Mestinya perjuanganku lebih dari dia. Aku tidak cacat. Lebih, mesti! Lebih!

14. Kalau mati, dengan berani. Kalau hidup, dengan berani. Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya bangsa asing bisa jajah kita.

15. Seluruh kedudukan yang enak diambil orang-orang tua. Mereka hanya pandai korupsi... angkatan tua itu sungguh bobrok. Hanya angkatan tua yahg korup dan mengajak korup! Angkatan muda membuat revolusi melahirkan sejarah.

16. Revolusi, dia adalah guru. Dia adalah penderitaan. Tetapi dia pun adalah harapan. Jangan khianati revolusi!

17. Kembali ia pandangi dua orang tua itu, yang mungkin beberapa tahun lagi tewas digulung maut. Namun mereka meletakkan harapannya pada revolusi. Betapa mereka mengagumi lembaran uang, perwujudan revolusi.

18. Aku boleh seorang pelacur! Aku boleh seorang sampah masyarakat! Aku seorang bintang film gagal! Tapi beradat! Tidak. Aku juga punya tanah air. Aku Larasati, bintang ara. Sedang sebutan Miss pun aku tak pernah pakai. Ara! Cukup Ara. Mengapa mesti dengan Miss? Sebutan itu akan membuat aku berkulit putih. Apakah sebutan itu tantangan kaum pria, kalau aku milik siapa saja?

19. Apakah kesejahteraan hidup sama dengan kebusukan buat orang lain?

20. Tak bakal mampu orang Indonesia punya babu dalam keadaan begitu sulit beras.

Kutipan Novel Larasati yang Menyentuh Hati

membaca-kezo
ilustrasi novel/lilartsy/pexels

21. Uang Jaya! Jaya! Seratus Jepang, satu republik, uang jaya.

22. Revolusi atau perjuangan apa saja bisa lahir dan mencapai keagungannya kalau setiap pribadi tampil berani.

23. Betapa beruntungnya jadi bintang film terkenal! Lawan dan kawan sama-sama membutuhkan.

24. Dia sangat cinta pada republik, revolusi, dia mencintai kampung halamannya, biarpun busuk-busuk membumbungkan gas lumpur dan kotorannya sendiri.

25. Ah, itu serdadu manja kalau menang perang sekali saja! Kemenanganku lebih dari padanya. Aku pernah menguasai dia hanya karena aku tidak seperti perempuan-perempuan lain.

26. Di dunia ini, Ara, hanya sedikit saja orang yang penting.

27. Bangun dari bumi penjajahan: hancur menghancurkan! Sedang mereka yang tidak dihancurkan, mereka yang tidak menghancurkan adalah landasan hidup binatang ini.

28. Dengan bangsaku sendiri aku merasa lebih terjamin.

29. Apa yang ditakuti bu? Kita semua hidup terus menerus dalam ketakutan. Apa kalian biasanya ketakutan? Tidak ada. Kalau revolusi menang, tidak seorang pun perlu takut lagi.

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela