Review Novel Perempuan di Titik Nol Karya Nawal El Saadawi

Kezia Prasetya Christvidya26 Okt 2021, 17:53 WIB
Diperbarui 26 Okt 2021, 19:37 WIB
membaca-kezo

Fimela.com, Jakarta Perempuan di Titik Nol adalah sebuah novel karya Nawal El Saadawi, yang terbit pertama kali di tahun 1975. Novel ini menceritakan tentang para perempuan Mesir yang harus menghadapi budaya patriarki.

Budaya patriarki masih dijadikan sebagai perdebatan sampai sekarang ini, karena menuai banyak konflik terkait kesetaraan gender antara perempuan dan laki-laki. Dengan adanya budaya patriarki ini, bisa membuat para perempuan menjadi kehilangan banyak kesempatan, mendapatkan diskriminasi, kekerasan dan rawan kemiskinan.

Akhirnya Nawal El Saadawi menuliskan sebuah buku dengan judul Perempuan di Titik Nol, dengan tulisan yang penuh dengan kritikan, keras, dan berani. Berikut review novel Perempuan di Titik Nol:

 

Review Novel Perempuan di Titik Nol

membaca-kezo
ilustrasi novel/lilartsy/pexels

Judul buku: Perempuan di Titik Nol

Pengarang: Nawal El Sadaawi

Penerbit: Zed Books Ltd.

Tahun: 1975

Perempuan di Titik Nol adalah sebuah buku yang menceritakan tentang sebuah perjalanan hidup, Firdaus yang merupakan seorang perempuan dari Mesir. Sejak kecil Firdaus hidup di desa, tetapi ia menjadi seorang pekerja seks komersial setelah dewasa.

Kehidupan Firdaus sangat menyedihkan, karena ia adalah perempuan yang dijadikan sebagai korban budaya partriarki. Firdaus terpaksa harus mendapatkan hukuman mati, karena telah membunuh seorang germo.

“Saya bukan pelacur. Tapi sejak semula, ayah, paman, suami saya, mereka semua mengajarkan untuk menjadi dewasa sebagai seorang pelacur.”

Firdaus memiliki seorang ayah yang bekerja sebagai petani miskin, yang tidak bisa membaca dan memiliki perilaku yang kasar. Firdaus sering kali mendapatkan perlakukan asusila dari temannya yang bernama Muhammadain dan pamannya.

Setelah kedua orang tuanya meninggal, Firdaus dirawat oleh pamannya di Kairo. Kemudian Firdaus melanjutkan sekolanya dengan sangat pandai, dan selalu mendapatkan peringkat. Saat seharusnya Firdaus melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, pamannya menikahkan Firdaus dengan seorang lelaki tua dan kaya raya, yang bernama Syekh Mahmoud. Tetapi sayangnya, lelaki itu memiliki penyakit bisul yang busuk, dan memiliki sikap perhitungan.

 

“Saya mengatakan yang sebenarnya. Dan kebenaran itu adalah liar dan berbahaya.”

Dalam rumah tangganya, Firdaus mengalami kekerasan dan mendapatkan perlakukan buruk oleh suaminya, yang menjunjungi tinggi budaya patriarki. Akhirnya Firdaus kabur untuk melarikan diri kembali ke rumah pamannya, tapi ia kembali lagi ke rumahnya.

Sampai di rumahnya, Firdaus mendapatkan perlakukan kekerasan lagi oleh suaminya, hingga wajahnya memar. Firdaus melarikan diri lagi dan membawa ijazah SD dan SMP miliknya. Tetapi sayangnya, Firdaus tidak mendapatkan pekerjaan apapun dengan ijazah yang dimilikinya.

Setelah itu, Firdaus bertemu dengan Bayoumi, seorang lelaki yang awalnya baik dan mengajak Firdaus tinggal serumah dengannya. Namun ternyata, Bayoumi juga memperlakukan Firdaus dengan sangat keras, seperti ayah dan suaminya. Bahkan Bayoumi juga melakukan tindakan asusila padanya, bersama dengan teman-teman Bayoumi.

“Setiap orang harus mati. Saya lebih suka mati karena kejahatan yang saya lakukan daripada mati untuk salah satu kejahatan yang kau lakukan.”

Novel ini berfokus pada kisah hidup Firdaus dengan alur mundur atau flash back. Firdaus adalah seorang perempuan yang bekerja sebagai PSK dan terkenal dengan bayaran paling mahal. Bahkan Firdaus harus dipenjara dan divonis hukuman mati.

Novel ini menggambarkan tentang betapa menderitanya seorang perempuan, yang harus hidup di tengah masyarakat patriarti, dan harus menderita serta mengalami kekerasan sepanjang hidupnya.

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela