Mulai Usaha di Usia Muda, 3 Pemuda Indonesia ini Sukses Membuat Bisnisnya Mendunia

Fimela Reporter01 Nov 2021, 07:00 WIB
Diperbarui 01 Nov 2021, 07:00 WIB
Mendirikan Usaha di Usia Muda, 3 Pemuda Indonesia ini Sukses Membuat Bisnisnya Mendunia

Fimela.com, Jakarta Beberapa hari lalu, tepatnya pada 28 Oktober, Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda. Tekad dan semangat pemuda Indonesia masih tertanam dalam diri pemuda-pemudi Indonesia hingga saat ini. 

Semangat Sumpah Pemuda bisa dimaknai dengan beragam cara di era sekarang, dan setiap pemuda pastinya bisa berkarya dalam bidangnya masing-masing. Sama halnya dengan ketiga pemuda Indonesia ini yang masih memiliki semangat pemuda dengan mewujudkannya melalui kontribusi bagi perekonomian Indonesia dengan berbisnis.

Dalam hal ini, tiga pengusaha muda tersebut, di antaranya Monica Amadea (25), Kevin Naftali (28), dan Pocut Yasmine (25) berwirausaha dan menghasilkan produk-produk kreatif karya anak bangsa dan akhirnya berhasil membawa nama Indonesia mendunia melalui produk yang mereka hasilkan. 

Keseriusan dan jiwa pantang menyerah mereka akhirnya membawa mereka bertiga sukses mendirikan bisnis di usia muda, dan kini sudah berhasil mendunia. 

Ketiganya pun berbagi kisah menarik dari perjalanan mereka mengembangkan bisnisnya dari awal, hingga strategi bisnis dengan berani memanfaatkan platform e-commerce sebagai sarana berbisnis. 

Monomolly, Pakaian untuk Segala Ukuran Tubuh

Mendirikan Usaha di Usia Muda, 3 Pemuda Indonesia ini Sukses Membuat Bisnisnya Mendunia
Monica Amadea, pendiri brand fesyen Monomolly sejak usia muda (Foto: instagram.com/monicamadea)

Monica Amadea selaku pendiri dari produk fesyen perempuan dengan berbagai ukuran tubuh, Monomolly, mengungkapkan bahwa dirinya mendirikan bisnis sejak usianya 20 tahun. 

Semua ini dimulai karena ia harus membiayai kuliahnya sendiri. Ia memiliki ketertarikan terhadap industri fesyen dan akhirnya memilih untuk merintis bisnis pakaian perempuan setelah ia menjadi reseller baju-baju wanita trendi. 

“Meski berkuliah di jurusan Hubungan Internasional dan tidak ada basic (berbisnis), tetapi saya mempelajari strategi bisnis ini secara otodidak,” ujar Monica, dilansir dari Liputan6.com, Sabtu (30/10).

Kegigihannya mendorong Monica untuk memproduksi produk bajunya sendiri dan menyediakan pakaian-pakaian dalam berbagai ukuran karena misinya menghadirkan pakaian yang inklusif untuk semua bentuk dan ukuran tubuh perempuan. 

Ia menjualnya di platform e-commerce Shopee pada tahun 2017 lantaran dibanjiri permintaan oleh para konsumen. 

“Masuk ke dalam platform digital untuk mengembangkan bisnis menjadi salah satu pilihan terbaik untuk kemajuan bisnis saya,” tambahnya. Ia menjelaskan bahwa salah satu alasan yang membuatnya masuk ke dalam platform digital adalah karena target pasarnya sudah melek teknologi dan terbiasa berbelanja di e-commerce

Kini, Monomolly telah berhasil melakukan ekspor ke Singapura, Malaysia, dan Thailand. Usaha ekspornya ini tak terlepas dari bantuan Shopee sebagai platform e-commerce yang memudahkan dalam proses penjualan dan pengiriman. 

Kevas Co., Life-wear Pria yang Mendunia

Mendirikan Usaha di Usia Muda, 3 Pemuda Indonesia ini Sukses Membuat Bisnisnya Mendunia
Salah satu produk dari Kevas Co. milik Kevin Naftali yang memulai bisnis di usia muda (Foto: instagram.com/kevas_id)

Sama halnya dengan Monica, Kevin Naftali selaku pendiri dari produk fesyen pria bernama Kevas Co. yang juga berhasil membawa bisnisnya go international

Ia memulai bisnisnya pada tahun 2011 dan menjual produk knitwear yang cukup berbeda dengan produk-produk fesyen pria yang dijual di pasaran saat itu. Hal ini dilakukannya karena memang idealismenya ingin menciptakan produk fesyen laki-laki yang berbeda dari yang lainnya. 

“Idealisme saya saat itu adalah menciptakan produk fesyen laki-laki yang berbeda dari pasaran. Sayangnya, peminatnya kurang. Akhirnya pada 2017 hingga 2018, saya eksplorasi lagi dan akhirnya tercipta Kevas Co. yang menjual life-wear,” ujarnya. 

Sepinya peminat membuat Kevin harus memutar otak dan menciptakan produk dan strategi pemasaran baru. Kevin menjelaskan, kehadiran e-commerce seperti Shopee sangat membantu perkembangan brand fesyen lokal yang masih kecil untuk menjadi platform yang menyediakan permintaan yang cukup stabil, terlebih dengan adanya berbagai kampanye dan promo-promo yang menarik. 

Pada tahun 2020, industri fesyen secara luas terkena dampak saat pandemi. Namun, berbeda dengan Kevas Co. yang malah berhasil meningkatkan penjualan hingga dua kali lipat di tahun tersebut jika dibandingkan dengan tahun 2019. Keberhasilan tersebut dicapai dengan keikutsertaan Kevasco dalam program Ekspor Shopee. 

“Kita dulu pernah ekspor, tapi itu hand-carry, titip sama temen kita yang memang kuliah di luar negeri. Tapi sayang, jumlahnya hanya bisa sedikit saja, dan itu pun saat teman kita lagi pulang ke Indonesia saja,” tutur Kevin, dikutip dari Liputan6.com.

Keikutsertaan Kevas Co. di program Ekspor Shopee ini berawal sejak tahun 2019. Sejak adanya Program Ekspor Shopee, Kevin bisa dengan mudah mengekspor produknya ke Singapura dan Thailand, serta meraih omzet hingga 25 persen hanya dari ekspor. 

Kevin mengungkapkan, ada banyak hal yang berhasil ia peroleh dari bergabung di program ekspor ini. Maka dari itu, Kevin ingin terus menjadikan ekspor sebagai fokus untuk terus melakukan ekspansi market dan memperluas jangkauan bisnisnya. 

Tameeca, yang Berawal dari Hobi

Mendirikan Usaha di Usia Muda, 3 Pemuda Indonesia ini Sukses Membuat Bisnisnya Mendunia
Salah satu produk dari Tameeca milik Pocut Yasmine yang memulai bisnis di usia muda (Foto: instagram.com/tameeca_)

Founder Tameeca, Pocut Yasmine juga merintis usahanya dari awal tanpa memiliki pengetahuan dasar soal bisnis. Perempuan yang akrab disapa Yasmine ini merupakan mahasiswi jurusan Arsitektur yang memiliki ketertarikan terhadap desain grafis. 

Berbekal kemampuan Adobe Photoshop yang dimilikinya, Yasmine menjual berbagai macam stiker, pin, dan printables lainnya sambil berbagai tugas dengan jurusan arsitektur yang ia jalani. 

Meski harus pintar membagi waktu, Ia melihat terdapat peluang produk-produk tersebut dijual di pasar. Yasmine akhirnya memutuskan untuk tidak setengah-setengah mendedikasikan upayanya untuk mengembangkan Tameeca. 

Awalnya, Yasmine mengembangkan akun Instagram Tameeca dan mendapatkan respons baik dari para pecinta produk-produk artsy. Bahkan, produknya ditaksir oleh banyak pengguna Instagram dari luar negeri setelah ia memasang iklan di Instagram untuk menggaet pasar di Singapura, Malaysia, dan Thailand. 

Sayangnya, Yasmine kesulitan untuk menjual produk tersebut kepada mereka karena terkendala masalah pengiriman, sehingga para pembeli harus menanggung ongkos kirim yang sangat mahal. 

Pada 2018, akhirnya Yasmine bergabung dan membuka toko di Shopee, serta mulai mengekspansi produknya. Melalui keikutsertaannya di program Ekspor Shopee dalam e-commerce tersebut, ia akhirnya mampu mewujudkan cita-citanya masuk ke pasar Singapura, Malaysia, dan Thailand. 

“Program Ekspor Shopee sangat membantu, khususnya terkait logistik. Ke depannya, saya ingin dapat memasarkan Tameeca lebih luas lagi dan memiliki anggota tim yang lebih besar. Dengan demikian, Tameeca dapat menghasilkan pesanan yang stabil,” ujarnya. 

Penulis: Chrisstella Efivania

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓