Terima Kasih Ayah Sudah Mengantarkan Nasib Baik pada Putrimu Ini

Endah Wijayanti25 Nov 2021, 08:01 WIB
Diperbarui 25 Nov 2021, 08:01 WIB
surat ayah dan nasib baik

Fimela.com, Jakarta Membahas kisah dan cerita tentang ayah memang tak ada habisnya. Begitu banyak momen tak terlupakan yang kita miliki bersama ayah tercinta. Mulai dari momen paling bahagia hingga momen paling sedih. Setiap hal yang berkaitan dengan ayah selalu berkesan seperti tulisan kiriman Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2021 Surat untuk Ayah berikut ini.

***

Oleh:  Hajria

Masih terlihat jelas dalam ingatanku betapa gigihnya ayahku saat mencari nafkah untuk menghidupi keluarga. Berjalan jauh sepanjang jalan memikul dagangan berat dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari.

Ayahku adalah seorang pedagang cengkeh, biasanya sehabis panen cengkeh ayahku menjajakan dagangannya kepada para saudagar-saudagar. Waktu itu belum punya kendaraan bermotor, jadi harus rela berpeluh-peluh berjalan belasan bahkan sampai puluhan kilometer ia jalani agar dapat menemukan saudagar yang mau membeli cengkehnya. Memang sekuat itu bahu ayahku. Didera beban berat berkali-kali tapi tak ada satu pun kata mengeluh dari lisannya.  

Aku selalu senang menyambut ayah pulang bekerja. Meskipun hatiku sebenarnya pilu ketika melihat butiran-butiran keringat ayah belum kering di keningnya. Wajahnya sangat kelelahan, tapi senyumnya selalu menggambarkan bahwa dirinya baik-baik saja.

Ayah paling senang jika aku memijat kaki dan punggungnya. Sambil sesekali ia mengajakku bercanda. Ayah juga paling bangga jika aku belajar rajin dan menjadi juara kelas. 

 

Ayah yang Paling Berjasa dalam Hidupku

surat ayah dan depresi
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/sebra

Namun semenjak aku beranjak tumbuh dewasa, rasanya kehangatan itu mulai pudar seiring dengan rasa canggungnya aku kepada ayah. Padahal dalam hati selalu ingin menunjukkan rasa kasih sayangku kepada ayah. Meskipun kini aku sudah bekerja dan jarang punya waktu banyak untuk berbincang dengannya.

Jika saja waktu bekerja tidak banyak menyitaku, mungkin aku bisa cerita banyak tentang hal apa pun, tentang masa depan yang ingin aku raih, dan tentang rasa sayangku yang teramat banyak kepadanya. Jika bukan karena ayah, mungkin perjalanan hidupku tidak akan sebaik sekarang,  nasibku tidak semujur saat ini, dan jika bukan karena tetesan peluhnya mungkin pendidikanku juga tidak akan setinggi ini. 

Ayah, terima kasih sudah mengangkat anakmu sampai setinggi ini. Tanpa mempedulikan ragamu yang sampai babak belur membawa beban berat demi anak-anakmu bisa menjadi orang yang lebih baik keadaannya darimu.

Terima kasih sudah mengantarkan anakmu pada nasib yang baik. Sehingga sekarang dihargai banyak orang, tidak sia-sia hidupnya dan mampu mengharumkan namamu. Maafkan anak-anakmu yang belum bisa memberikan yang terbaik seperti yang kau harapkan. Tapi bakti anak-anakmu akan selalu ada untukmu. Selamat Hari Ayah, semoga rasa sayang yang tersembunyi ini bisa kita sampaikan juga melalui lisan yang tulus.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela