Hadirnya Cobaan adalah Cara Tuhan Membuatku Jadi Perempuan yang Lebih Kuat

Endah Wijayanti27 Nov 2021, 07:15 WIB
Diperbarui 27 Nov 2021, 08:32 WIB
surat ayah dan foto album

Fimela.com, Jakarta Membahas kisah dan cerita tentang ayah memang tak ada habisnya. Begitu banyak momen tak terlupakan yang kita miliki bersama ayah tercinta. Mulai dari momen paling bahagia hingga momen paling sedih. Setiap hal yang berkaitan dengan ayah selalu berkesan seperti tulisan kiriman Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2021 Surat untuk Ayah berikut ini.

***

Oleh: Marizka Witya Putrini

Dear Ayah tersayang. Sedih rasanya, saat aku menuliskan surat ini kau sudah tidak lagi di sampingku. Namun aku percaya, dari niwarna sana dirimu sedang menatapku dengan gagah walau dari kejauhan.

Rindu ini tak tersentuh, hanya bisa terlantun dalam munanjat doaku untukmu selalu. Yah, hari ini aku membuka album keluarga kita. Album itu sudah usang dan ada beberapa bagian yang sudah koyak dimakan waktu.

Warnanya pun tak lagi putih bersih, melainkan putih lusuh kecoklatan. Kudapati foto dirimu sedang menggendong tubuh kecilku dengan bangganya. Raut wajah bahagia disertai senyum mengembang terpancar dari wajah mudamu dulu. Ingin rasanya, aku memutar waktu dan berada dalam memori nostalgia bersamamu sekali lagi. Menyenangkan dan berharga. 

Berbincang denganmu adalah hal yang kuinginkan namun tak dapat kulakukan. Berada di pelukanmu adalah kehangatan yang kurindukan. Aku rindu semua limpahan kasih sayangmu.

Ayah, aku masih gadis kecilmu yang selalu membutuhkanmu. Laksana bumi yang mencintai langit, begitulah cintaku untukmu. Tak tersentuh namun selalu beriringan. Seketika memori kala itu muncul dalam benakku.

Dahulu, pernah beberapa kali aku membuatmu jengkel dan tidak mau menuruti perintahmu. Namun dengan luar biasanya kau masih bisa tersenyum dan bersabar menghadapi tingkahku yang banyak maunya, ibu saja sudah hampir menyerah. 

Hanya kau yang mampu membuatku tenang, ketika dirundung pilu. Kala itu, dengan tenang kau berkata. “Ris, semua pasti berlalu entah itu perasaan senang ataupun sedih. Tak pernah selamanya.”

 

Mengingat Pesan Ayah

surat ayah dan pegangan tangan
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/NATTAKORN+MANEERAT

Ayah juga selalu menghiburku dengan tingkah yang konyol, seperti tarian aneh yang tidak pernah aku mengerti sampai sekarang. Akupun tak kuasa dibuatnya tertawa. Pesan lain yang selalu kuingat saat keluarga kami dilanda masalah ekonomi. “Cobaan itu adalah cara Tuhan untuk membuat kamu jauh lebih kuat dari sebelumnya, kamu akan jadi orang besar jika kamu mau bersabar," ujar Ayah saat itu.

Ayah dan ibu berusaha semaksimal mungkin untuk memperbaiki kondisi ekonomi kami. Terutama Ayahku, ia rela siang malam mencari nafkah. Mulai menjadi makelar tanah, menjual hasil pertanian dan ternak milik kakek ku, mendirikan warung bubur dan bisnis lainnya. Ayah tidak pernah mengeluh, walau badannya terlihat lusuh. Wajahnya selalu tersenyum, terutama saat menatap kami anak-anaknya. 

Momen tersedih saat bersamamu adalah menyaksikan bahwa kau telah bersiap untuk berada di pelukan Sang Ilahi. Kala itu di sebuah rumah sakit di Bogor, kau merasakan sakit yang luar biasa.

Bagaimana tidak, Ayah divonis gagal ginjal sebagai bentuk komplikasi yang dialami akibat diabetes dan tekanan darah tinggi yang ia derita selama ini. Ayah jarang mengeluh, bahkan ketika Ayah mengalami stroke selama 2 tahun. Tapi pada hari-hari menjelang ia berpulang, Ayah sering menangis dan menjerit kesakitan.

Rasanya tak kuasa melihat lelaki kebanggaanku menderita seperti itu. Tepat sehari sebelum cuci darah pertama yang harus ia lakukan, Ayah sudah berpulang. Saat itu adalah hari Jumat.  Banyak orang bilang, adalah hari yang mulia. Serta  tidak ada siksa kubur untuk orang yang meninggal pada hari itu.

Tak kuasa rasanya, menyaksikan tubuhmu yang mendadak kaku tak bernyawa di hadapanku. Aku hanya bisa tergugu menangisi kepergianmu. Hari itu adalah momen terberat dan sulit dalam hidup yang pernah aku alami. Aku sayang Ayah, namun nampaknya Tuhan lebih sayang padanya. 

Tuhan aku titip rindu, terima kasih, maaf, dan cintaku padanya. Ayah, kau selalu di hatiku, dulu, saat ini dan selamanya.  

 

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela