Lebih Menyayangi Ayah Tiri daripada Ayah Kandung, Bukan Berarti Aku Egois

Endah Wijayanti29 Nov 2021, 13:01 WIB
Diperbarui 29 Nov 2021, 13:01 WIB
surat ayah dan pelukan

Fimela.com, Jakarta Membahas kisah dan cerita tentang ayah memang tak ada habisnya. Begitu banyak momen tak terlupakan yang kita miliki bersama ayah tercinta. Mulai dari momen paling bahagia hingga momen paling sedih. Setiap hal yang berkaitan dengan ayah selalu berkesan seperti tulisan kiriman Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2021 Surat untuk Ayah berikut ini.

***

Oleh: MIA

Ada yang mengatakan darah lebih kental daripada air, mereka yang memiliki ikatan darah akan terpaut erat dan saling mengasihi. Nyatanya, tidak begitu denganku. Orang yang darahnya mengalir dalam tubuhku tak pernah sekalipun memelukku atau bahkan memberiku pendidikan yang baik. 27 tahun 3 bulan aku bernapas tak pernah sedikit pun ia peduli denganku. Bolehkah aku membenci sosok itu? Dan bolehkah hari ini aku menyapanya melalui tulisan ini? Untuk yang pertama dan terakhir kalinya.

Hai, tuan. Aku tak ingin memanggilmu dengan sebutan ayah, karena kau tak pernah sekalipun menunjukkan sosok ayah bagiku. Yang aku tahu kau adalah orang asing yang mengenal ayah dan ibuku. Bagaimana kabar Anda hari ini tuan? Apakah perempuan itu merawatmu dengan baik? Apakah putrimu itu bisa membanggakanmu? Aku berharap kau baik-baik saja dan dalam keadaan sehat dan tidak lagi berulah menuruti hawa nafsu.

Ah! Kata-kataku terlalu vulgar bukan? Sejujurnya aku membencimu, hanya saja ayahku mengajarkanku untuk tak membenci orang lain di dunia ini. Orang baik itu mengajarkanku banyak hal kebaikan, memberikan namanya untuk kupakai di belakang namaku.

Sungguh aku awalnya sangat sedih saat mengetahui kenyataan pria baik hati itu bukan ayah kandungku. Orang yang mendidikku dengan sangat baik, melimpahiku kasih sayang luar biasa yang tidak membeda-bedakan dengan darah dagingnya sendiri. Beliau memenuhi kebutuhanku jika kau tahu! Beliau tak pernah membiarkanku terluka oleh apa pun. Meskipun pada akhirnya aku terluka oleh kenyataan ini.

 

Berdamai dengan Semuanya

surat ayah dan cinta pertamanya
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/mariabamboo

Ayah, kali ini aku akan memanggilmu dengan sebutan itu. Aku sedang mencoba berdamai dengan masa lalu, aku akan mencoba memaafkan apa yang telah kau perbuat pada ibuku. Dan aku akan mengambil hikmah dari semua ini. Setidaknya aku bersyukur ibuku tak tersakiti lebih lama lagi, melepasmu saat itu bahkan saat aku belum lahir di dunia menjadi pilihan terbaik. Ibuku tak harus melihat segala hal yang menyakiti lagi, dan dengan begitu ibuku bisa menemukan orang baik yang dapat menerima kekurangannya juga termasuk menerimaku sebagai putrinya

Ayah, aku berharap jika saat ini engkau masih ada di dunia ini semoga engkau telah berubah menjadi orang yang lebih baik lagi, menjadi sosok ayah yang dapat jadi panutan bagi putra dan putrimu yang saat ini berada di sampingmu. Menjadi sosok suami yang baik dan setia bagi wanita yang kini menyandang gelar sebagai istrimu.

Ayah terima kasih untukmu, karena berkatmu aku terlahir di dunia. Meski pada akhirnya aku tak pernah kau peluk seperti putra-putrimu yang lain. Aku akan memberimu sebuah hadiah untuk pertama kalinya.

Seorang guru agamaku pernah berkata, “Hadiah terbaik untuk orang tua bukanlah harta berlimpah, juga bukan kesuksesanmu. Suksesmu adalah bonus bagi mereka. Tapi sebuah kiriman Al-fatihah adalah hadiah terbaik untuk mereka. Baik mereka masih ada di dunia maupun telah tiada." Bukan hadiah besar memang, tapi mulai hari ini dan seterusnya aku akan menyebut namamu di setiap aku berdoa.

Selamat Hari Ayah untukmu, semoga sehat selalu dan di kelilingi orang-orang baik di mana pun kau berada.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela