Tiap Orang Punya Tujuan Sendiri, Tak Perlu Memaksa Kaki Melangkah ke Arah yang Sama

Endah Wijayanti29 Nov 2021, 13:46 WIB
Diperbarui 29 Nov 2021, 13:46 WIB
surat ayah dan filosofinya

Fimela.com, Jakarta Membahas kisah dan cerita tentang ayah memang tak ada habisnya. Begitu banyak momen tak terlupakan yang kita miliki bersama ayah tercinta. Mulai dari momen paling bahagia hingga momen paling sedih. Setiap hal yang berkaitan dengan ayah selalu berkesan seperti tulisan kiriman Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2021 Surat untuk Ayah berikut ini.

***

Oleh: Hilda Perbatasari

Saat aku tumbuh dewasa, ayah mengatakan kepadaku bahwa aku bisa melakukan apa pun yang kupikirkan. Ketika keraguan menyerangku, ayah juga yang membuka mataku bahwa kualitasku bukanlah kelemahan, tetapi kekuatan. Ayah mengingatkanku bahwa aku istimewa dan berharga.

Ayah mengajariku filosofi tentang kehidupan, bahwa hidup itu seperti seribu musim gugur di atas awan. Setiap orang memiliki tujuan dan perjalanannya masing-masing. Tidak perlu melangkah di arah yang sama, dan tidak perlu merasa berbeda jika tidak beriringan langkahnya.

Aku harus fokus menyirami bunga di tamanku sendiri, dan tidak perlu membandingkannya dengan taman milik orang lain. Jika beberapa bunga dapat mekar dalam keadaan yang paling tidak mungkin, aku juga bisa. Aku harus fokus pada apa yang memberiku kedamaian, bukan apa yang secara konsisten menghilangkannya.

 

Pesan dan Filosofi dari Ayah

surat ayah dan papa yang kucinta
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/CandyRetriever

Aku ingat saat-saat ketika ayah secara metaforis mengatakan kepadaku untuk merangkul badai kehidupan dan memaafkan diri sendiri jika berbuat kesalahan. Setiap orang akan merasakan terjatuh dan bangkit lagi, dan itu adalah proses perjalanan manusia di bumi. Terkadang kita merasa marah terhadap keadaan, tetapi dunia tidak akan pernah berhenti berputar. Terkadang, memaafkan berarti menutup semua halaman di dalam buku dan memutuskan untuk tidak membacanya lagi. 

Ketika aku merenungkan kembali semua petuah ayah, pikiranku berputar-putar dengan kenangan saat usiaku menginjak 17 tahun. Itu adalah terakhir kali aku bisa mengenalnya sebagai sosok ayahku.

Setelah 28 tahun wujudnya berubah menjadi kenangan, bagaimana aku bisa meletakkan semua penghargaanku dalam satu huruf atau meringkasnya dalam kata-kata? Ayah telah memberiku kehidupan yang bahagia walaupun teramat singkat aku rasakan. Ayah adalah pahlawanku dan aku tidak bisa cukup berterima kasih. 

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela