Dari Belajar Menyayangi Diri Sendiri, Aku Juga Belajar Memaafkan Ayah

Endah Wijayanti30 Nov 2021, 17:15 WIB
Diperbarui 30 Nov 2021, 17:15 WIB
maaf terakhir

Fimela.com, Jakarta Membahas kisah dan cerita tentang ayah memang tak ada habisnya. Begitu banyak momen tak terlupakan yang kita miliki bersama ayah tercinta. Mulai dari momen paling bahagia hingga momen paling sedih. Setiap hal yang berkaitan dengan ayah selalu berkesan seperti tulisan kiriman Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2021 Surat untuk Ayah berikut ini.

***

Oleh:  Kartika

Halo Ayah, apa kabar? Aku tahu keadaan Ayah baik dan sehat. Harapanku Ayah selalu sehat dan bahagia. Meski kini kita tidak dapat bersama, namun doa-doa selalu kutiupkan ke langit untuk kesehatan dan keselamatan Ayah.  

Pernah, di suatu masa, aku marah sekali padamu. Karena merasa Ayah tidak pernah hadir dalam hidupku, tidak pernah sekadar basa-basi menanyakan kabarku, bahkan aku merasa Ayah tidak peduli dengan kesulitan yang pernah kami alami. Saking marahnya, aku bahkan tidak ingin bertemu dengan Ayah. Aku pergi menjauh, daripada menyesal karena seringnya hanya emosi yang kurasakan setiap kali bertemu.

Sampai suatu saat, Ayah jatuh sakit, dan aku yang harus merawat Ayah. Melihat dirimu yang diam dan lemah membuatku sedih. Betapa laki-laki kuat ini akhirnya kalah dengan sakitnya. Betapa inilah arti keluarga. Selalu ada dan mau menerima apapun keadaan kita.

Menerima Ayah Apa Adanya

surat ayah dan pegangan tangan
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/NATTAKORN+MANEERAT

Beberapa kali aku mencoba bertanya, tapi tidak ada cerita yang keluar dari bibirmu. Ayah hanya diam. Aku merasa Ayah selalu menutup diri, dan enggan bercerita. Aku tidak pernah tahu apa yang ada di kepala dan hati Ayah. Aku hanya ingin seperti teman-teman yang bisa dekat dengan Ayah mereka. Aku ingin memulai lembaran baru dengan Ayah.

Aku menyerah. Aku tidak lagi bertanya kenapa. Perlahan aku berusaha memaafkan dengan berusaha memahami, agar hatiku juga tenang. Demi kebaikanku, aku harus mulai menerima.  Bahwa Ayah adalah seorang manusia biasa, yang bersikeras menjadi dirinya sendiri. Sedikit terdengar egois, namun mungkin itulah jalan yang Ayah pikir yang terbaik saat itu.

Bagaimanapun, aku menyayangi Ayah. Satu hal yang tidak kuinginkan adalah menyesali semuanya. Kuakui kadang aku masih marah mengingat semuanya. Tapi Ayah semakin tua, aku pun tidak muda lagi. Aku rasa aku tidak bisa lagi berharap dari Ayah. Aku hanya ingin menyayangi Ayah dengan caraku. Semoga Ayah bisa memahami cara yang aku pilih, seperti aku yang belajar memahami cara yang Ayah pilih.

Selamat hari Ayah. I love you Ayah, Ayah akan selalu ada di hatiku, sampai kapan pun.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓
1
What's On Fimela