Waktu Membuat Ayah Terus Menua, tapi Aku Belum Bisa Membuatnya Bahagia

Endah Wijayanti02 Des 2021, 10:35 WIB
Diperbarui 02 Des 2021, 10:35 WIB
redakan galaumu

Fimela.com, Jakarta Membahas kisah dan cerita tentang ayah memang tak ada habisnya. Begitu banyak momen tak terlupakan yang kita miliki bersama ayah tercinta. Mulai dari momen paling bahagia hingga momen paling sedih. Setiap hal yang berkaitan dengan ayah selalu berkesan seperti tulisan kiriman Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2021 Surat untuk Ayah berikut ini.

***

Oleh:  Wulandari

Ayah, rasanya canggung sekali untuk memulai surat ini. Namun, saat aku ingin menulis, satu kata langsung melesat dalam benakku. Maaf.

Ayah, maafkan putrimu ini lahir maupun batinnya. Aku tak punya kata-kata manis untuk menghiburmu yang saat ini terbaring sakit. Di usiamu yang semakin renta aku merasa malu karena belum menjadi putri yang terbaik bagimu. Banyak sekali cinta yang ayah berikan untukku, namun untuk membuatmu beristirahat dengan nyaman saja, sungguh masih jauh dari kesanggupanku.

Ayah, aku selalu ingat ketika aku sering sakit-sakitan di masa sekolahku. Saat pulang kerja, sehabis gajian, Ayah bahkan tak lagi mengganti pakaian dan langsung membawaku ke dokter dengan sepeda. Aku yang duduk di boncengan terus saja memandangi punggung besarmu yang kuat sambil berguman betapa beruntungnya aku memiliki ayah sepertimu. Namun, punggung yang kuat itu, kini berubah menjadi lemah. Bahumu yang biasanya menjadi tempatku bersandar kini telah bungkuk termakan usia. Segala daya upayamu terkikis oleh stroke yang kau derita.

Ayah, betapa aku merindukan bisa bersepeda lagi denganmu. Rasanya aku ingin selamanya menjadi putri kecilmu. Karena di masa itu aku tak pernah merasa sedih. Aku tidak tahu kalau waktu bisa dengan terburu-buru membuatmu menua sementara aku belum bisa membuatmu bahagia.

Merindukan Masa-Masa Itu

surat ayah dan kehadirannya
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Creativa

Ayah, aku tidak pernah tahu seperti apa itu cinta. Namun, kurasa apa yang dilakukan seorang ayah untuk putrinya, untuk anak-anaknya, untuk keluarganya itulah yang namanya cinta. 

Hanya seorang ayah yang rela tak makan nasi jatah lemburnya demi membawakan sepotong daging rendang untuk anak-anaknya. Hanya seorang ayah yang rela merogoh koceknya dalam-dalam demi membelikan mainan kesukaan anak-anaknya. Dan hanya seorang ayah yang rela bertahun-tahun tidak membeli pakaian baru demi membelikan baju lebaran bagi anak-anaknya. Dan kau adalah ayah yang seperti itu. Ayah yang hatinya begitu tulus, ayah selalu sabar dengan tingkah laku menyebalkan putra-putrimu.

Ayah, surat ini memang tak cukup untuk menyampaikan rasa sayang dan terima kasihku. Namun, aku berharap bahwa ayah bisa memahami isi hatiku dan perasaanku. Aku tak selalu pandai mengucap rasa bersyukurku memiliki ayah sepertimu. Aku juga tak bisa melalukan hal lebih untuk membalas semua jerih payahmu membesarkanku, melindungi dan menyangi aku. 

Ayah, maafkanlah segala salahku, kurangku, kata-kataku yang melukaimu atau perbuatanku yang memgesalkanmu. Tak usahlah lagi memikirkan putrimu yang sudah dewasa ini. Aku baik-baik saja ayah. Selama kau ada aku tidak apa-apa.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela