Perjuangan dan Kasih Sayang Ayah Membuatku Kuat Sampai Hari Ini

Endah Wijayanti03 Des 2021, 08:15 WIB
Diperbarui 03 Des 2021, 08:15 WIB
surat ayah dan dari anak ketiga

Fimela.com, Jakarta Membahas kisah dan cerita tentang ayah memang tak ada habisnya. Begitu banyak momen tak terlupakan yang kita miliki bersama ayah tercinta. Mulai dari momen paling bahagia hingga momen paling sedih. Setiap hal yang berkaitan dengan ayah selalu berkesan seperti tulisan kiriman Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2021 Surat untuk Ayah berikut ini.

***

Oleh:  Yuliana Aksamina

Bapa, orang yang paling percaya dengan mimpi anaknya, walaupun mimpi itu terlalu besar dan membutuhkan proses yang panjang. Aku ingat waktu kecil bilang sama Bapa, aku ingin belajar bahasa Inggris sehingga nanti kalau suatu saat kita bisa ke luar negeri aku akan jadi penerjemah buat bapa dan mama, Keesokan harinya Bapa pulang bekerja membawa kamus bahasa Inggris. Ini adalah langkah awal bahwa ada yang percaya dengan mimpi anak kecil usia 9 tahun.

Waktu itu Mei tahun 2018, aku pertama kali lulus tahap administrasi pada perguruan tinggi ini, tidak yakin namun begitu semangat tapi melihat lokasi tes yang berada di Depok mimpi itu sirna, membayangkan berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk mengikuti tes dan berangkat ke sana. Tapi aku ingat waktu itu, ketika memberitahu Bapa lewat telepon dan berbicara mengenai biaya, mengingat ada kakak dan adikku yang semuanya masih pendidikan tapi yang bapa katakan.

“Coba kamu sekarang lihat berapa jumlah orang yang lulus tes administrasi tersebut." Aku jawab “Yang lolos tes ini jumlahnya sekitar 16.000, Pa." Bapa menimpali, “Bagaimana kalau kamu menjadi salah satu orang yang lulus dari sekian banyak itu, kesempatan tidak datang dua kali urusan biaya jangan dipikirkan, sekarang kamu tugasnya belajar aja."

 

Pria Paling Hebat dalam Hidupku

surat ayah dan berkumpul lagi
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/CandyRetriever

Terima kasih sudah percaya bahwa aku bisa dan memiliki kemampuan, sekarang aku udah semester 6. Bapa memang bukan orang yang selalu bilang sayang, tapi tindakan bapa itu lebih dari kata sayang, walaupun berdinas di luar kota tidak pernah sehari pun lupa untuk menelepon menanyakan kabar orang rumah kegiatan apa saja yang dilakukan, sudah makan atau belum, walaupun kalau kami nanya bapa udah makan kadang bilang belum, dan baru mau makan. Selalu mengutamakan keluarganya, orang pertama yang selalu ditelepon ketika terjadi sesuatu di rumah hanya bapa.

Sampai aku besar sekarang, kalau mau izin untuk main sama teman rasanya bapa selalu menjadi kunci, Mama paling susah dibujuk jika udah bilang tidak, berbeda dengan bapa dari dulu tiga hal yang harus diketahui sebelum diizikan pergi main, “Pergi sama siapa?”, “Pulang jam berapa tidak boleh kemalaman," dan “Tujuanya ke mana?”, terkadang aku merasa lucu tapi ini cara bapa dalam menyayangi anaknya.

Bapa walaupun dinas jauh di luar kota, tapi genggaman tangan, kasih sayang, serta tanggung jawabmu selalu kurasakan tiap hari. Terkadang aku keras kepala untuk mendengar nasihatmu, tapi bapa tidak pernah menyerah untuk menasihati serta memberikan yang terbaik bagi setiap anaknya.

Bapa, terima kasih tidak pernah menyerah untuk segala hal yang terjadi di keluarga ini, bagi orang lain bapa belum sempurna tapi bagiku, bapa yang paling hebat dan pria paling sempurna yang selalu kubanggakan di mana pun aku bercerita. Namamu selalu berada dalam setiap sudut doaku agar kesehatan serta panjang umur diberikan yang mempunyai napas kehidupan kepadamu. Semoga kesuksesan anak-anakmu serta bakti kami menjadi berkat sukacita bagi bapa.

Dari anak ketigamu, I love you, Pa.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela