Semua yang Dilakukan dengan Hati, Hasilnya Takkan Sia-Sia

Endah Wijayanti21 Jan 2022, 09:45 WIB
Diperbarui 21 Jan 2022, 09:45 WIB
menjadi guru dan menulis

Fimela.com, Jakarta Kita semua pasti pernah merasakan perasaan tak nyaman seperti rendah diri, sedih, kecewa, gelisah, dan tidak tenang dalam hidup. Kehilangan rasa percaya diri hingga kehilangan harapan hidup memang sangat menyakitkan. Meskipun begitu, selalu ada cara untuk kembali kuat menjalani hidup dan lebih menyayangi diri sendiri dengan utuh. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Bye Insecurities Berbagi Cerita untuk Lebih Mencintai dan Menerima Diri Sendiri ini.

***

Oleh: Widya Yustina

Bekerja di sebuah perpustakaan kecil di dekat lingkungan rumah tempat tinggalku di desa pada mulanya bukanlah rencana. Akan tetapi, sejak pandemi melanda negeri keputusan untuk pulang kampung menjadi pilihan terakhir. Aku kembali beradaptasi pada kehidupan masyarakat pedesaan, membangun jalinan silaturahim dengan warga dengan segala kesederhanaannya, jauh dari hiruk pikuk kota.

Pada mulanya, aku sempat merasa insecure membandingkan kehidupan yang kumiliki dengan teman-teman yang berjuang di Ibu Kota karena dari segi apa pun jelas berbeda. Aku juga sempat merasa tidak yakin dengan kemampuanku, apakah sanggup menghidupkan geliat literasi di kalangan warga yang notabene sibuk dengan kekhasan hidup ala pedesaan?

Kebanyakan bilang begini, “Ah boro-boro maca, Neng. Bapak mah cape dari sawah mending tidur aja.” Pernyataan semacam ini meluncur jujur, tanpa berniat menyakiti dan membuat saya tak sanggup berkata-kata. Memang, sehabis berladang atau mengurusi sawah, membaca adalah hal terakhir yang akan terlintas di benak mereka. Akan tetapi, sebagai seorang pencinta buku, saya tidak mau menyerah.

 

Mengatasi Rasa Insecure

menjadi guru
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Bermodal ketulusan, media sosial, juga pendekatan secara langsung dan intens, akhirnya keberadaan perpustakaan kecil ini mulai terendus warga, terutama para orangtua yang senang apabila melihat anaknya juga senang membaca.

Kesempatan itu jelas tidak aku sia-siakan. Satu dua anak datang dengan malu-malu, begitu kuhampiri, mereka malah langsung kabur. Aku tak berusaha mengejar, memutuskan menunggu saja. Sambil tersenyum akhirnya masuk kembali ke dalam perpustakaan, lanjut merapikan buku-buku.

Pekan berikutnya, terdengar suara pintu diketuk, seorang anak laki-laki muncul bersama kawannya memberanikan diri untuk datang. Hatiku lumer seketika. Trenyuh melihat tangan-tangan kecil mulai menjamah buku-buku yang berderet rapi di rak, setia menunggu pembacanya.

Selama satu pekan itu, perpustakaan mulai ramai. Tak tanggung-tanggung, puluhan anak sekolah berjubel mendatangi perpustakaan, sibuk membaca dan berbagi keseruan dengan saling bercerita. Mereka tampak antusias, tak terlihat lagi sikap malu-malu. Para orangtua yang sebelumnya juga tampak segan akhirnya mulai memberanikan datang.

Sedikit demi sedikit, membangun daya literasi warga dan anak-anak mulai terwujud. Dimulai dari niat sederhana, yakni membangun minat baca masyarakat lingkungan setempat, aku tahu masih banyak agenda berkelanjutan yang perlu kulakukan. Namun, setidaknya, aku kini sudah terbebas dari perasaan insecure atau apa pun jenis perasaan yang melemahkan. Aku percaya, segala sesuatu yang dilakukan berasal dari hati, hasilnya tidak akan sia-sia.

 

#WomenforWomen

Lanjutkan Membaca ↓
1
What's On Fimela