Kisah Perjuangan Seorang Pria Disabilitas, Terseret Tsunami Tonga hingga 28 Jam dan Berhasil Selamat

Nabila Mecadinisa23 Jan 2022, 17:00 WIB
Diperbarui 23 Jan 2022, 17:00 WIB
Ilustrasi tsunami

Fimela.com, Jakarta Bencana alam tsunami kembali terjadi beberapa waktu lalu, tepatnya di Tonga, negara kepulauan di Pasifik. Kejadian ini dipicu oleh letusan gunung berapi bawah laut dan memicu tsunami setinggi 15 meter pada (15/02/2022). 

Gelombang tsunami tentu menyapu sejumlah bangunan dan menyebabkan kerusakan. Namun, ada juga kisah keajaiban yang dialami seorang pria. Kala itu. Lisala Folau harus bertahan dengan cara berenang lebih dari 28 jam di tengah arus tsunami yang menyeretnya. 

Ia memiliki kondisi terbatas. Sebagai penyandang disabilitas, Folau berhasil menyelamatkan diri dan berbagi kisahnya pada akun Facebook miliknya. Dikutip dari Oddity Central, Folau tinggal di sebuah pulau kecil, di Atata. Lokasi ini berjarak 8 km barat laut dari ibu kota Tonga

Tersapu gelombang kedua

Bencana Tsunami
Ilustrasi Bencana Tsunami Credit: pexels.com/George

Saudaranya juga sudah memperingati agar dirinya waspada menghadapi tsunami yang akan terjadi. Ia pun segera berlindung pada sebuah pohon. Awalnya ia berhasil selamat pada gelombang pertama. Namun dirinya tidak menyangka akan adanya gelombang tsunami susulan. 

Alhasil, ia terseret gelombang kedua yang lebih besar dan harus berenag selama 28 jam hingga sampai di Tongatapu, sisi selatan pulau tersebut. Ia menyebutkan jika kala itu situasi sangat gelap dan kehilangan suara sang ponakan. Namun dirinya masih mendengar suara panggilan anaknya. Ia pun memiliki keterbatasan pada kakinya, sehingga ia hanya bisa pasrah mengikuti arus yang membawanya.

Untuk bertahan hidup, Folau fokus memikirkan keluarganya dan anggota gerejanya. Hal itulah yang memberikan kekuatan pada dirinya selama 28 jam. Bahkan  seorang pejabat renang tingkat Olimpiade dari Pasifik, kisah bertahan hidup Folau sangat mengesankan.

"Sungguh menakjubkan, mengingat ia melarikan diri dari peristiwa bencana, berada di bawah tekanan semacam itu, secara mental dan dengan tekanan fisik tambahan karena melarikan diri dalam kegelapan," kata Erika.

Pasrah mengikuti arus

Ilustrasi tsunami
Ilustrasi tsunami (Unsplash.com)

"Bahkan perenang yang sangat berpengalaman memiliki batasan fisik dan parameter yang ditetapkan, tetapi dibutuhkan pola pikir yang berbeda untuk melakukan apa yang ia lakukan. Bukannya ia jatuh dari perahu, ia melarikan diri dari gunung berapi yang meletus, tersapu tsunami. Ada lebih banyak rintangan fisik, seperti abu, puing-puing, ombak, dan faktor lain yang akan membuat renangnya jauh lebih menantang." tambahnya. Namun dengan kekuatan dan keajaiban, ia berhasil selamat dari tsunami yang menghantam tempat tinggalnya.

 

#Women for Women

Lanjutkan Membaca ↓
1
What's On Fimela