Serangkai Memori Ramadan di Negeri Kiwi saat Pandemi Melanda

Endah Wijayanti18 Mei 2022, 15:35 WIB
Diperbarui 18 Mei 2022, 15:35 WIB
ramadan 2021 dan me time

Fimela.com, Jakarta Bulan Ramadan senantiasa menghadirkan banyak kenangan dan kisah yang berkesan. Baik itu suka maupun duka, haru atau bahagia, selalu cerita yang sangat lekat dengan bulan suci ini. Cara kita memaknai bulan Ramadan pun berbeda-beda. Tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories bulan April dengan tema Light Up Your Ramadan ini pun mengandung hikmah dan inspirasi yang tak kalah istimewa.

***

Oleh: Anna R Nawaning S

Ketika bulan Ramadan tiba di masa pandemi  tahun 2020 dan 2021 banyak orang yang berkeluh kesah dan merasakan sedih karena Ramadan dan Idul Fitri tanpa bisa merayakan seperti tahun-tahun sebelumnya. Entahlah apakah saya harus bersyukur atau ikut bersedih seperti yang umumnya orang-orang rasakan. Sudah pasti saya bersyukur karena saya tidak merasakan “kesengsaraan” tidak merayakan Ramadhan dan Idul Fitri bersama dengan keluarga besar. Namun saya pernah merasakan “kesendirian” merayakan bulan suci dan lebaran di negeri lain.

Ketika itu saya masih belajar di Auckland Selandia Baru. Bulan Ramadan tiba di negeri Kiwi pada musim panas. Jam 3 dini hari masuk waktu Imsak dan Maghrib pada pukul 9 malam. Bukan saja soal waktu yang lebih panjang, saya mengalami tantangan karena ibu homestay saya merasa berkeberatan jika saya beraktivitas di dapurnya pada tengah malam atau jam 2 pagi. Dapurnya tepat di depan kamarnya sehingga akan mengganggu waktu istirahatnya. Namun ia tidak menghalangi saya berpuasa. Hanya menyarankan agar saya tidak mengolah makanan di dapurnya saat ia masih tidur.

 

Berpuasa dan Berlebaran Jauh dari Keluarga

ramadan 2021 dan memori
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/nukeaf

Terbayang bukan bagaimana saya mempersiapkan makanan untuk sahur, dan saya juga tidak diperkenankan membawa atau menyimpan makanan di dalam kamar. Beli fastfood? Ibu homestay saya sangat melarang kami untuk makan junkfood. Berbuka puasa di luar rumah juga sulit dilakukan karena pusat perbelanjaan telah tutup beroperasi pada pukul 5 sore.

Siang hari saya tetap belajar di kelas. Bersyukurnya guru saya sangat mengerti dan menghormati bulan Ramadan, bahkan saya dan pelajar Indonesia yang juga menjalankan ibadah puasa dipersilakan untuk bercerita atau berbagi tentang bulan Ramadan ke teman-teman lainnya agar mereka menghormati bulan suci bagi kami.

Bulan Syawal-pun tiba. Kami tetap belajar di kelas karena Hari Raya Idul Fitri belum menjadi hari libur nasional di Selandia Baru. Namun demi merayakan hari kemenangan pada pagi harinya saya menyempatkan diri ke Islamic Centre di Auckland untuk menunaikan shalat Ied.

Alangkah terkejutnya ketika sampai di sana ternyata tidak ada jamaah wanita. Hanya kami berdua, saya dan seorang sahabat dari Indonesia merupakan wanita yang ingin melaksanakan shalat Ied. Akhirnya panitia dari Islamic center menyediakan alas shalat untuk kami berdua di dapur!

Dengan berurai air mata haru kami berdua melaksanakan shalat Ied di dapur mengikuti imam dan jamaah pria yang sholat di ruang tengah. Seusai shalat Ied kami bersalam-salaman dan pulang ke flat sahabat saya. Tidak ada ketupat, tidak ada kue lebaran apalagi opor dan rendang.

Kami hanya memasak mi goreng berbahan mi instan yang kami modifikasi dengan bahan-bahan tambahan seperti telor, sayuran, dan ayam. Setelah itu kami kembali ke kampus untuk belajar di kelas. Tidak menelepon ke keluarga di tanah air? Di Indonesia keluarga kami tentunya masih istirahat atau tidur untuk mempersiapkan hari raya. Perbedaan waktu antara Selandia Baru dan Indonesia adalah 6 jam.

Lebih Fokus dalam Beribadah

ramadan 2021 dan ayah yang sakit
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/oduaimages

Berdasarkan pengalaman itu-lah saat pandemi melanda dan kita tidak diperbolehkan melaksanakan shalat tarawih dan shalat Ied beramai-ramai, maka ingatan saya kembali ke masa lalu.

Saya pernah beberapa tahun merayakan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri tanpa kemeriahan serta jauh dari keluarga. Tidak ada satupun keluarga di dekat saya, tiada takjil atau makanan pembuka manis di saat Maghrib, bahkan tiada terdengar suara adzan. Ketika itu juga belum ada android atau video call. Kami hanya berkomunikasi melalui sambungan telepon kabel dan sambungan internet dial up yang hitungan pembayarannya permenit!

Namun pengalaman ini membuat saya semakin dewasa dalam beribadah kepada-Nya. Saat pandemi, ketika ada larangan mudik atau larangan takbir keliling, tidak ada sholat ied di masjid, tidak ada buka puasa bersama teman-teman dan keluarga  tidak dapat shalat ied bersama di lapangan dan makan-makan kumpul keluarga, saya justru merasa lebih dekat dengan Allah Swt. Karena Dia-lah yang abadi sumber kebahagiaan.

#WomenforWomen

Lanjutkan Membaca ↓
1
What's On Fimela