Belajar Keikhlasan dari Kakak Kedua tentang Takdir yang Tuhan Gariskan

Endah Wijayanti22 Jun 2022, 07:45 WIB
Diperbarui 22 Jun 2022, 07:45 WIB
surat ayah dan rindu yang tak sampai

Fimela.com, Jakarta Di bulan Juni ini, Fimela mengajakmu untuk berbagi cerita tentang keluarga. Untuk kamu yang seorang ibu, anak, mertua, menantu, kakak, atau adik. Ceritakan apa yang selama ini ingin kamu sampaikan kepada keluarga. Meskipun cerita tak akan mengubah apa pun, tapi dengan bercerita kamu telah membagi bebanmu seperti tulisan kiriman Sahabat Fimela dalam Lomba My Family Story: Berbagi Cerita tentang Sisi Lain Keluarga berikut ini.

***

Oleh: Nursittah Nasution

Tak banyak yang tahu tentang dirinya, karena memang tak banyak kisahnya yang harus diceritakan. Kisah dan cerita hidupnya yang selama ini kami tutup-tutupi terutama tentang perceraiannya yang tak banyak orang tahu. Tidak mudah menutupinya karena memamg tak banyak yang mau tahu tentang dirinya.

Dialah Uda, panggilanku kepada kakak laki-laki nomor dua. Dari keenam saudaraku, Uda adalah sosok yang paling pendiam, tak banyak bicara bahkan selalu enggan bergabung dalam ruang keluarga. Dia lebih suka menghabiskan waktunya di dalam bilik rumah orangtuaku sejak dia kanak-kanak hingga hari ini ketika usianya genap 42 tahun.

Kata Mak, dulu Uda tak sampai lulus sekolah SMAnya. Hanya sampai di bangku kelas 2. Uda tak punya ijazah SMA, ketika dulu ada ujian Paket C untuk mendapatkan ijazah. Kata Mak kami tak punya biaya untuk mengurus segala administrasi dan ujiannya.

Hingga ketika kami sudah mampu, Uda tak berminat lagi dan memilih tak punya ijazah. Tak punya ijazah SMA sungguh sangat menyulitkan Uda untuk mendapatkan pekerjaan. Ketika usianya 24 Tahun, Uda sempat merantau ke Kota Jakarta bekerja sebagai Penjaga Toko Sepatu. Bertahun-tahun Uda disana hingga perusahaan Ojek Online (Ojol) berkembang, Uda memutuskan berhenti dan menjadi ojol dengan sepeda motornya. Namun ketika usianya 34 Tahun, uda memutuskan Pulang karena ia ingin menikah.

Kepualangannya ke kampung halaman untuk bertemu jodoh pun terwujud. Uda menikah ketika usianya 34 tahun dengan seorang wanita yang dikenalkan oleh kerabat jauh kami. Namun sayangnya, Uda digugat cerai tepat 2 bulan usia pernikahan.

Apa masalahnya kami sungguh tidak tahu, namun di dalam surat yang dilayangkan pengadilan alasan wanita tersebut karena Uda tak punya pekerjaan. Hati Ibu mana yang tak sakit melihat nasib jodoh anaknya sepeti itu. Namun kami tak sepenuhnya menyalahkan, karena memang Uda tak punya pekerjaan.

Sehari-hari Uda membantu Ayah di Kebun Sawit milik Ayah. Tapi kenapa tidak dari awal dipertimbangkan untuk menerima Uda? Entahlah kami pun tidak tahu, karena Uda sangat tertutup unuk bercerita kepada kami bahkan kepada Mak dan Ayah pun tidak. 

 

Uda yang Kami Sayangi

surat ayah dan berjauhan
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/pixs4u

Sekarang usianya genap 42 tahun, sebagian rambutnya sudah mulai memutih, Mak dan Ayah juga sepertinya sudah ikhlas dengan takdir putra kedua mereka. Tak pernah lagi mereka membahas perkara jodoh, tak pernah lagi mereka mengenalkan Uda kepada wanita, biarlah Uda mencari sendiri jika memang Uda ingin kembali membina rumah tangga. Dan doa itu selalu kulangitkan berharap Uda segera bertemu dengan jodohnya, yang bisa menerima Uda apa adanya, agar Uda juga bisa membina rumah tangga seperti kami adik-adiknya.

Uda terlalu tertutup hingga kami tak bisa menerka apa yang dia rasakan dengan segala takdir kehidupannya. Sedihkah dia? Marahkah dia? Jujur aku ingin tahu, kenapa dia selalu bersikap tenang, tak pernah terdengar satu patah kata keluhan dari mulutnya.

Ayah dan Mak yang selalu sedih dengan kehidupan Uda, karena berbeda dengan kami adik-adiknya. Tapi Allah selalu punya rencana, ketika kami menikah ternyata kami tak bisa tinggal di kampung karena harus ikut suami, dan Udalah yang bisa menemani dan menjaga Mak dan Ayah, membantu Ayah mengurus kebun dan melalui Uda jugalah kami bisa melakukan panggilan video call dengan orangtua kami yang sepuh dan tak mengerti cara menggunakan handphone.

Terima kasih Da, heningmu tak selalu sunyi, meski kami tak pernah tahu bagaimana perasaanmu dengan kehidupan yang kejam itu, kami belajar keikhlasanmu dalam menerima apa pun takdir Tuhan.

Dan sekarang Uda menjadi kakak tertua kami, sejak Abang (kakak pertama) dipanggil Allah untuk bertemu lebih dulu. Doa kami tak putus untuk Uda semoga Uda selalu merasakan kebahagiaan dalam hidup ini dan terimakasih karena sudah menjaga Mak dan Ayah. Kami sayang Uda.

Surat Cinta dari si Bungsu.

 

#WomenforWomen

Lanjutkan Membaca ↓
1
What's On Fimela