Yuk, Ubah Sampah Sachet dan Botol HDPE Bekas Jadi Bernilai Melalui Program Conscious Living

Hilda Irach22 Jun 2022, 08:00 WIB
Diperbarui 22 Jun 2022, 14:50 WIB
Yuk, Ubah Sampah Sachet dan Botol HDPE Bekas Jadi Bernilai Melalui Program Conscious Living

Fimela.com, Jakarta Permasalahan sampah plastik hingga kini masih menjadi ‘pekerjaan rumah’ yang belum usai. Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) total sampah nasional pada tahun 2021 mencapai 68,5 juta ton. Dari jumlah itu, sekitar 11,6 juta ton di antaranya didominasi oleh sampah plastik.

Tantangan pengelolaan sampah plastik seperti sampah sachet atau plastik multilayer dan botol HDPE bekas adalah proses penguraiannya yang sulit. Selain itu, kedua jenis sampah plastik itu juga sulit didaur ulang sehingga kerap dipandang tak bernilai ekonomis.

Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, P&G Indonesia bekerja sama dengan start up Octopus dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta meluncurkan program Conscious Living. 

 

Kelola Sampah Plastik Melalui Program Conscious Living

Yuk, Ubah Sampah Sachet dan Botol HDPE Bekas Jadi Bernilai Melalui Program Conscious Living
P&G Indonesia dan Octopus ekspansi program conscious living ke DKI Jakarta. Masyarakat kini bisa ubah sampah sachet dan botol HDPE bekas jadi bernilai. (Dok/Fimela.com/Hilda Irach).

Program yang sebelumnya telah dijalankan di wilayah provinsi Jawa Barat itu berhasil mengumpulkan 35,1 ton sampah plastik produk P&G, lebih banyak dari target awal sejak diluncurkan pada Oktober 2021. Karena itu, P&G meyakini program Conscious Living harus diekspansi ke daerah lain, khususnya DKI Jakarta.

“Kami melihat tingkat kesadaran masyarakat dibandingkan dengan provinsi lainnya, kota Jakarta adalah yang tingkat kesadarannya cukup tinggi. Makanya kenapa setelah sukses di Jawa Barat, yang paling dekat kami langsung ke Jakarta,” ujar Arindes Veddytarro, Sustainability Champion P&G Indonesia dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (21/6/2022).

Arindes melanjutkan, wilayah DKI Jakarta sendiri memproduksi sebanyak 7.500 ton sampah per harinya atau setara dengan ukuran Candi Borobudur. Hal inilah yang membuat P&G Indonesia dan Octopus ekspansi program Conscious Living ke DKI Jakarta.

Program Conscious Living ini mendorong masyarakat untuk terlibat dalam upaya pemilahan dan pengumpulan sampah kemasan seperti sachet dan HDPE. Nantinya, masyarakat yang menyetorkan sampahnya kepada pelestari melalui aplikasi Octopus akan mendapatkan insentif menarik. Penasaran bagaimana caranya? Yuk, simak berikut ini selengkapnya Sahabat Fimela!

Cara Tukar Sampah Plastik Jadi Bernilai

Yuk, Ubah Sampah Sachet dan Botol HDPE Bekas Jadi Bernilai Melalui Program Conscious Living
P&G Indonesia dan Octopus ekspansi program conscious living ke DKI Jakarta. Masyarakat kini bisa ubah sampah sachet dan botol HDPE bekas jadi bernilai. (Dok/Fimela.com/Hilda Irach).

Bagi masyarakat yang ingin menyetorkan sampah plastiknya, caranya mudah. Cukup mengunduh aplikasi “Octopus” di Play Store atau App Store. Kemudian pilih kemasan P&G atau jenis kemasan lainnya yang ingin disetorkan.

Nantinya, akan ada pelestari atau pemulung yang datang memverifikasi sampah plastik baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Penyetoran sampah kemasan ini tidak berbayar alias gratis. Masyarakat yang berpartisipasi pun juga diuntungkan dengan perolehan poin yang bisa ditukarkan dengan berbagai insentif menarik seperti pulsa, token listrik, hingga voucher kopi di berbagai merchant.

“Bagi masyarakat cukup simple dengan sistemnya sama seperti ojek online. Jadi dari Aplikasi Octopus pilih jenis sampah, tentukan lokasi, dan nanti akan ada pelestari yang datang menjemput. Nantinya pelestari akan menjual sampah kemasan ke bank sampah,” ujar Co-Founder & CEO Octopus Indonesia, Moehammad Ichsan.

Setelah sampah terkumpul oleh pelestari dan diserahkan ke bank sampah yang dikelola Pemprov DKI maupun KLHKN, sampah-sampah tersebut akan diolah menjadi refuse-derived fuel (RDF) atau sumber energi terbarukan sehingga tak berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Tak hanya itu, masyarakat juga bisa menjadi pelestari untuk mendapatkan uang. Namun tentu dengan beberapa persyaratan, salah satunya memiliki KTP. Calon pelestari juga akan di-training sebelum mengumpulkan sampah kemasan dari masyarakat.

Ichsan mengatakan, kehadiran program Conscious Living ini juga bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup pelestari.

“Berdasarkan data yang dianalisa dari pihak Octopus, para pelestari bisa menghasilkan Rp350.000 hingga Rp800.000 per bulannya. Dengan adanya program Conscious Living, para pelestari ini bisa mengumpulkan sampah-sampah kemasan untuk dijual kembali,” tandasnya.

#Women for Women

Lanjutkan Membaca ↓
1
What's On Fimela