Diary Fimela: Sporadies Bukan Sekadar Merangkai Bunga, Melainkan Self Healing

angela marici27 Sep 2022, 18:30 WIB
Diperbarui 27 Sep 2022, 18:30 WIB
Sporadies

Fimela.com, Jakarta Bagi setiap orang, menjalankan pekerjaan sesuai dengan apa yang disenangi sedari kecil merupakan suatu keberuntungan. Itulah yang dirasakan oleh Risa Vibia, owner dari Sporadies yang memiliki keberuntungan untuk dapat menjalankan bisnis sesuai dengan apa yang ia senangi.

Ketika masih kecil wanita asal Yogyakarta ini sering kali membuat video untuk memperkenalkan berbagai jenis tanaman bersama ibunya yang kebetulan seorang guru biologi. Dari situlah tercipta naturalis yang membuatnya menyukai tanaman, khususnya tanaman lokal Indonesia.

Setelah lulus studi, wanita berkacamata ini bekerja di sebuah perusahaan bidang sustainability dan environment yang membuatnya dapat mengeksplor diri lebih dalam lagi mengenai apa yang disukai. Melalui hal tersebut membuatnya menyadari bahwa dirinya menyukai keanekaragaman botani khususnya, bunga dan tanaman. 

“Akhirnya manifestasi selanjutnya aku suka bikin set foto-foto di sosial media jadi gaada keinginan bisnis atau gimana-gimana, cuman dulu pernah pengen jadi florist.” ungkap Risa kepada tim Fimela.

Pandemi mengubah langkah Risa

Sporadies
Potret Sporadies saat menjalankan workshop. credit: instagram/sporadies.

Kehadiran pandemi membawa dampak yang besar bagi setiap orang, begitupun dengan Risa. Menurutnya pandemi merupakan masa untuk menggali apa yang sebenarnya ingin dicari oleh diri, terutama saat awal Risa membuka Sporadies.

Pada awal terbentuk Risa mengenalkan Sporadies dengan nama “Sporadies Botanical Club” dengan tujuan untuk mengenalkan bunga-bunga kepada banyak orang. Namun, seiring berjalannya waktu Sporadies kini juga merambah ke produk berupa bouquet bunga sesuai dengan desain yang diinginkan oleh para pelanggan.

Tujuan awal Risa membuka Sporadies adalah bukan untuk bisnis, melainkan untuk mengumpulkan orang-orang yang ingin mengenal tanaman yang ada di sekitar mereka seperti tanaman liar atau tanaman tropis yang sudah banyak dilupakan oleh orang. Keindahan flora menjadi awal kekaguman Risa untuk membentuk sebuah wadah yang dapat mengumpulkan banyak orang.

“Karena kekaguman itu sendiri akhirnya kayak gimana caranya aku bikin sebuah wadah tapi temen-temen bisa kenal bunga-bunga yang ada di sekitar mereka.” kata Risa.

Risa mengatakan sebelum dikenal seperti sekarang ia sering membuat foto saat merangkai bunga dari tanamannya liat, sampai akhirnya karya tersebut di-notice oleh temannya. Sehingga, Risa pun diminta untuk membuat workshop mengenai pengenalan bunga-bunga, serta cara merangkai sebuah produk flora.

“Akhirnya aku juga kepikiran ini bisa jadi cara untuk aku sebarin ini ke temen-temen jadi ga melulu soal florist in business atau florist in commercial tapi lebih ke menyampaikan pesan atau misi.” ungkap Risa dalam sebuah wawancara bersama tim Fimela. 

“Akhirnya bikin workshop pertama di 2021 dan dibeberapa tempat coffee shop 3 sampai 4 bulan terakhir. Lalu kolaborasi sama brand-brand nusantara, Sejauh Mata Memandang.” tambahnya

 

 

Misi Sporadies

Sporadies
Keseruan merangkai bunga kipas janur bersama Sporadies featuring JanurKu Omah Kembang Putihan dan Difabel Zone. credit: instagram/sporadies.

Dalam membangun Sporadies, Risa tidak hanya memerhatikan bisnis dari yang dibuat, melainkan menyampaikan sebuah misi untu membantu orang menemukan apa yang ingin dicari dalam hidup sebenarnya. Berikut merupakan ketiga misi yang dijalankan oleh Sporadies:

Therapeutic

Adanya kedekatan personal dan kecintaan dengan dunia botani, dalam hal ini bunga, menjadi pijakan awal Sporadies untuk belajar 'hidup' mengenal diri sendiri dan menemukan flow dengan salah satu coping mechanism yakni merangkai bunga. belajar merangkai bunga sembari journalling menjadi salah satu aktivasi flow (mindfullness dan therapeutic-effect). Dalam misi pertama ini Sporadies ingin mengajak sahabat Fimela untuk fokus dan menikmati apa yang dilakukan saat ini.

“Aku pengen a whole life bisa menikmati karena ada kerjaan, tapi ketika ngerangkai bunga fokus dengan bunga yang ada di depannya.” ungkap Risa.

Eco-concious

Misi kedua yaitu eco-concious yang dibuat karena Risa sangat khawatir dengan masalah sustainability, sampai akhirnya termotivasi untuk menciptakan florist yang minim sampah. 

Wanita berambut hitam ini mencoba untuk mencari dan mengeksplor bunga yang ada di luar negeri, ternyata banyak gerakan dari florist membuat gerakan #nofloralfoam sebagai wujud cinta dengan ragam flora dan alam untuk mengurangi penggunaan komponen bunga mengandung micro-plastics agar dapat diurai.

Whimsical

Misi ketiga yaitu Whimsical belajar mengenai desain dengan imajinasi warna, tekstur, bentuk, detail yang aneka rupa, dan seringkali menggunakan color-blocking membuat Sporadies ingin menghadirkan rangkaian bunga unik yang tidak hanya terbatas pada bunga, melainkan rangkaian dapat berupa sayur, buah, bunga liar, hingga ranting pohong yang tidak terpakai.

“Selama itu namanya flora plants, itu bisa dipakai dalam elemen rangkaian bunga. Jadi ga terpaku pada bunga yang itu-itu aja sebisa mungkin untuk support petani-petani lokal.” ungkap Risa melalui sambungan telepon.

 

 

Pesan untuk mereka ingin memulai bisnis

Sporadies
Desain bouquet bunga Sporadies menggunakan bunga-bunga yang segar. credit: instagram/sporadies.

Bagi sahabat Fimela yang ingin memulai bisnis Risa membagikan tips seputar langkah untuk membulai yaitu dengan mencari lagi ke dalam diri tentang apa yang disukai, kemudian cobalah untuk rajin membuat jurnal mengenai hal-hal yang disuka. 

“Kalau aku sih selalu cari ke dalem, dalem arti semua ini dimulai apa yang aku kerjakan aku suka dan sebaliknya itu akhirnya di temukan karena aku rajin journaling dulu. Jadi lebih sering tanya untuk ke diri sendiri, cara yang paling jitu sih untuk aku.” kata Risa

Menurut Risa ada banyak pertanyaan yang disampaikan ke diri sendiri namun hasil atau jawaban belum bisa ditemukan. Sehingga, sahabat Fimela harus menelusuri dan berusaha untuk menangkap petunjuk-petunjuk yang diberikan melalui orang lain atau kejadian.

“Jadi memang harus ditelurusi dan berusaha nangkep petujunjuk-petunjuk yang Tuhan kasih lewat orang dan kejadian jadi kita lebih peka untuk bisa merasakan.” ungkap Risa

“Disitu nanti biasanya kita akan dikasih sebuah journey atau connecting the dots istilahnya sambungin satu titik ke titik yang lain tentang apasih sebenarnya yang ingin kita capai di hidup ini.” tambahnya.

 

Penulis: Angela Marici

#Women for Women

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela