Hayya The Power of Love 2, Hanya Film Kemanusiaan bukan Politik

Anto Karibo09 Sep 2019, 10:45 WIB
Hayya The Power of Love 2

Fimela.com, Jakarta Satu lagi film dari penulis Asma Nadia yang diangkat ke layar lebar adalah Hayya The Power of Love 2. Film ini digadang bakal menyusul karya- karya Asma Nadia sebelumnya seperti Rumah Tanpa Jendela, Emak Ingin Naik Haji, dan Surga Yang Tak Dirindukan.

Hayya The Power of Love 2 sendiri memiliki keterkaitan dengan film 212 The Power of Love yang dirilis pada Mei 2018 silam. Pun begitu, Asma Nadia mengatakan bahwa ada perbedaan mendasar antara film pertama dan kedua baik dari sisi cerita dan lainnya.

Asma Nadia
Asma Nadia adalah seorang penulis cerpen dan novel terkenal di Indonesia.

"Universe-nya sama tapi ceritanya berdiri sendiri. Film ini berisi pesan kemanusiaan, dalam konteks Palestina," kata Asma Nadia, associate producer di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (8/9/2019).

Pernyataan ini sekaligus menampik bahwa film Hayya The Power of Love 2 ini memiliki muatan politik. Asma Nadia meyakinkan bahwa tak ada sama sekali konten politik dalam film yang juga melibatkan Oki Setiana Dewi dan Helvy Tiana Rosa dalam barisan produser tersebut.

"Oh sama sekali nggak ada. Saya sudah empat kali menonton film ini dan harusnya tidak ada prasangka semacam itu," papar Asma Nadia.

Hanya Kemanusiaan

Hayya The Power of Love 2
Preskon film Hayya The Power of Love 2 (Istimewa)

Rencananya, film ini bakal mendapatkan jatah tayang di bioskop pada 19 September 2019. Sekadar diketahui, film ini juga diperkuat oleh pemeran Fauzi Baadila, Ria Ricis, Asma Nadia, Hamas Syahid dan juga Amma Hasanah Shahab sebagai Hayya. Sementara itu syuting dilakukan di Jakarta, Yogyakarta, dan sebagian kecil Palestina.

Di sini, Asma Nadia menegaskan bahwa filmnya merupakan film tentang kemanusiaan. "Untuk peduli pada saudara kita di Palestina, kan tidak perlu menjadi Islam. Cukup menjadi manusia. Jadi film ini sebenarnya tentang kemanusiaan," ujarnya.

Kisah Hayya

Asma Nadia
Asma Nadia, sang penulis novel `Jilbab Traveller` [foto: instagram/Asmanadia]

Film ini berkisah mengenai Rahmat, seorang jurnalis yang karena dihantui perasaan bersalah dan dosa di masa lalu, memutuskan untuk menjadi relawan kemanusiaan. Ia pun akhirnya menjadi relawan kemanusiaan di Palestina. Di sana ia bertemu dengan Hayya, gadis kecil yatim piatu korban konflik Palestina.

Hubungan keduanya menjadi sangat dekat dan menjadi lucu ketika Hayya tak memperkenankan Rahmat untuk pulang ke Indonesia dan menikah dengan perempuan bernama Yasna. Di sinilah terjadi sebuah kisah menarik, kompleks namun menghibur sebagai film keluarga.

"Film ini dilandasi niat baik. Niat baik kalau terpapar obsesi kan jadinya tidak baik. Kalau ditanya target penonton, saya minta doanya saja," tutur Asma Nadia yang juga mengatakan bahwa keuntungan dari film ini akan disumbangkan bagi anak Indonesia dan Palestina yang kurang beruntung.

Lanjutkan Membaca ↓