Sukses

Parenting

Pria Yang Sangat Menyayangiku Itu Kupanggil 'Babe'

Ayah, begitu orang menyebut orang nomor satu dalam keluarga itu. Ada yang menyebutnya Papa, Bapak, Papi, Daddy, dan aku memanggilnya 'Babe'. 

Aku bukan orang Betawi, tapi karena menonton Si Doel Anak Sekolahan waktu kecil, aku memanggil ayahku begitu. Babe memang seperti si Babe dalam film itu. Pemimpin, tegas, konservatif, tapi aku tahu bahwa Babe sayang pada kami semua. 

Babe selalu sibuk bekerja, tapi tidak kehilangan kontrol akan anak-anaknya. Sepulang kerja di sore hari, aku sering mendengarnya menanyakan keempat anaknya pada ibu. Waktu Babe masih bertugas di Padang selama 4 tahun, setiap akhir pekan Babe berusaha membagi waktunya bagi kami. Yang seru adalah mengajariku bersepeda. 

Aku terlambat bisa naik sepeda. Babe membelikanku sepeda roda empat dan mengajariku langsung. Waktu Babe melepas satu rodanya, aku takut. Tapi Babe bilang, "Pasti kamu bisa." Waktu itu, aku lihat wajah ibu sama cemasnya denganku dan sempat bersuara lirih, "Jangan, Pa. Nanti anaknya jatuh." Tapi Babe diam dengan raut wajahnya yang sangat optimis. 

Kalau Babe menuruti omongan ibu waktu itu, aku tidak akan pernah bisa naik sepeda sendiri sekarang. Mau sepeda apa? Sepeda motor lelaki pun aku bisa. Aku selalu ingat kata Babe, "Pasti bisa."

Pernah suatu kali, ibu memanggilku pulang dari bermain. Aku tidak menurut dan tetap bermain sampai siang. Pulang-pulang badanku panas, sepertinya kena demam akibat perubahan cuaca. Babe mengomel karena aku tidak nurut omongan ibu. "Kalau dipanggil ibumu itu nurut! Main terus saja, kalau sakit gini yang bingung itu orang tua," begitu omelnya. Tapi tahukah kalian apa yang ia lakukan sambil mengomel? 

Babe yang mengompresku sementara ibu membuat bubur. Ia juga memijat-mijat tubuhku karena badanku dingin. Lalu di ujung omelannya, Babe berkata, "Ya sudah setelah ini makan lalu minum obat. Supaya besok lekas sembuh." ujarnya sambil mengggosok-gosok kedua tanganku. 

Pria Selain Babe.. 

Saat lulus SMA, aku keluar dari rumah untuk kuliah. Dikirim oleh Babe dan ibu ke rumah Pakdhe di luar kota. Babe yang semalaman kelihatan tenang dan menenangkan ibu yang sedih akan berpisah denganku, mendadak banyak menasehatiku di stasiun. "Jangan lupa telepon ke rumah," ujarnya. "Dompetnya taruh di saku depan. Jangan tidur kalau belum sampai. Payungnya tadi sudah?" begitu terus bertanya. Aku menjawab seraya merasa bahwa Babe mulai ikut cemas akan melepasku ke luar kota. 

Sejak itu, aku hanya sebulan sekali pulang ke rumah. Kalau tidak sempat pulang ibu akan menelepon. Sayup-sayup dari belakang aku dengar Babe menimpali pembicaraan ibu dengan pertanyaan, "Sehat anak itu? Uang jajannya masih ada? Bilang jangan merepotkan di rumah orang," begitu ucapnya.

Suatu hari ibu mendadak datang, bawa makanan kesukaanku. Ikan bawal, besar-besar, digoreng lalu dibumbu acar. Ternyata kata ibu, Babe yang menyuruh beli dan masakkan untukku. Babe mau ikut ke rumah Pakdhe, tapi sedang sakit katanya. Aku sedih mendengarnya, lalu kumakan dengan lahap ikan bawalku. Hasil jerih payah ayah mengajar sebagai dosen. Aku makan dengan mata agak berkaca-kaca, kusembunyikan dari ibu dan budhe yang asyik bercengkrama. 

***

Saat aku pulang ke rumah, aku melihat Babe belum berubah. Hanya agak kurus dan jambangnya mulai memutih. Bukan Babe yang berubah, tapi aku. Aku punya pacar yang oleh Babe sering disikapi dengan dingin. Beda sekali sikapnya pada anak Pak RT yang lebih urakan dan pacarnya ada di mana-mana. 

Suatu hari aku jengkel pada Babe karena tak memberiku ijin keluar malam mingguan dengan pacar baruku, Rio. "Tidak usah keluar. Baru kenal kok macam-macam," kata Babe. "Kenapa tidak boleh? Rio anak baik-baik dan kami cuma mau nonton bioskop," protesku. Babe bilang kalau dia anak baik-baik, dia tidak akan sembarangan mengajak keluar. 

Aku urung keluar, mengunci diri di kamar. Kencan batal dan gagal total karena Babe yang kekeh dengan pendapatnya. Ia duduk di depan sambil minum kopi dan menunggu tukang martabak selesai membuat pesanannya, cuek dengan anaknya yang ngambek. Ibuku mengetuk dan membujuk, tapi aku tak berhenti merajuk. Aku SMS Rio, kusampaikan dengan jujur kenapa aku tidak bisa keluar. 

Aku menunduk, siap-siap diputus. Rio pasti menganggap ayahku kolot dan jadi enggan pacaran denganku. Sebuah SMS balasan datang, aku membacanya sambil menutup mata, tapi kubuka kelopakku sedikit. "Tidak apa-apa, Babemu benar. Lain kali aku yang ke rumahmu," ujarnya dengan membubuhkan 3 kali emote senyum. 

Aku tidak percaya. Ternyata Rio tidak marah. Demi apa? 

Mendadak amarahku sirna. Aku keluar kamar dan mengiyakan makan martabak hangat yang dibelikan Babe. 

***

Aku mengingat semua itu saat aku sedang di pelaminan. Menggandeng Rio, pria baik selain Babe yang akan menjagaku. Pria yang dengan gentlenya memintaku dari Babe. Apapun tantangannya dia tidak menyerah, hingga Babe meloloskan hubungan kami ke jenjang pernikahan. 

Di sela-sela resepsi, aku melihat Babe keluar dari kamar mandi, matanya agak merah seperti habis menangis. Ini pertama kalinya, aku melihat mata Babe sembab. Selama ini wajahnya sering datar-datar saja atau mengeras saat marah. Sekalinya tertawa ketika aku lolos ujian masuk perguruan tinggi. 

Babe berdiri antara senang dan sedih, karena anaknya sudah besar dan karena sebentar lagi putrinya akan diboyong oleh suami pergi dari rumah. Malam hari sebelum pindah rumah, aku melihat Babe tertidur menungguiku dan Rio selesai beres-beres. Ia menyalakan televisi, tapi malah ditonton televisi. Tidur di sofa dengan baju trainingnya. Kulihat wajah Babe. Sudah keriput, rambutnya tipis, bau tubuh Babe sudah seperti bau orang tua. 

Melihat wajahnya yang tidur dengan lelap, aku menitikkan air mata. Babe juga selalu seperti ini seraya menungguku pulang kencan dengan Rio hingga malam. Dalam haruku, aku berdoa agar Babe selalu bahagia dan sehat.

Selama ini, ibu selalu membelaiku dengan kasih sayang. Tapi Babe, beliau melindungi dan menjagaku dengan cinta. Di balik keras dan dingin sikapnya, aku malah merasakan bimbingannya hingga tumbuh dewasa.

Photo copyright Tumblr.com

Itu cerita tentang Babeku, my greatest hero. Jangan salah paham saat ayah marah, kalau bukan sekarang, mungkin lain kali kita akan mengerti bahwa ia sedang menyayangi kita.

(vem/gil)

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading