Sukses

Parenting

Saat Aku Menoleh ke Belakang, Kuingat Sebuah Pesan dari Bapak

Ayah yang bersahaja selalu memberikan pesan-pesan sederhana. Pesan sederhana yang memiliki makna luar biasa, seperti kisah yang ditulis sahabat Vemale untuk Lomba Menulis Spesial Hari Ayah ini.

***

Ketika kehilangan pekerjaan di saat krisis 1998, Bapak mencoba usaha yang belum pernah ia lakukan sebelumnya, yaitu berjualan kangkung di pasar Bogor. Ia pergi ke pasar dini hari untuk mendapatkan kangkung segar dan murah, lalu ia jual hingga siang tiba.

Sebagai anak, aku melihat apa yang Bapak lakukan sebagai sebuah spekulasi. Tetapi kata Bapak, hal itu adalah ikhtiar yang dapat Bapak usahakan. Ketika Bapak berangkat dini hari, aku tidak berani memandang wajahnya. Aku hanya bisa mendoakan dalam shalat untuk keberhasilannya. Saat Subuh tiba, aku pun mendoakan semoga kangkung-kangkung yang dijual Bapak laku.

Sekitar pukul sepuluh pagi Bapak pulang, dengan membawa dua kantong plastik besar kangkung sisa berjualan di pasar. Tanpa malu langsung ia bagi-bagikan ke para tetangga, hingga para tetangga pun jadi tahu kalau kini Bapak berjualan di pasar.

Aku agak takut mendengar hasil jualan Bapak, untungkah atau rugikah? Aku takut Bapak  merugi karena modal kami yang tidak seberapa. Dan Bapak mengucapkan syukur alhamdulillah kangkung banyak terjual, walaupun ternyata keuntungannya tidak besar. Ia bercerita kalau kangkung harus segera terjual sebelum tengah hari, menghindari kangkung layu dan rusak.

Kegiatan berjualan di pasar hanya berlalu beberapa waktu saja, dan selama hari-hari itu hatiku rasa tidak menentu, menanti kepulangan Bapak dengan banyak doa. Akhirnya karena Bapak merasa kelelahan, ia memilih untuk membuka jasa servis elektronik di rumah saja. Aku pun lega karena aku yakin akan kemampuan dan keahlian Bapak dalam hal itu.

Suatu hari menjelang siang aku berada di dalam angkot melalui jalan yang macet di daerah pasar Bogor, aku melihat kejadian yang mencengangkan saat Satpol PP menertibkan para penjual sayur di sepanjang jalan dekat pasar. Mereka mengangkut hamparan dagangan sayur, tomat, cabai dan lainnya ke dalam sebuah truk. Terik matahari bersama iringan tangis mereka yang meminta pengertian, memohon pada petugas Satpol PP supaya dagangan mereka tidak diangkut.

Para Satpol PP bersikap tegas mengangkut dagangan para penjual sayur bagaikan sampah tak berharga. Terbayang seketika wajah Bapak, aku membayangkan Bapakku menjadi salah satu pedagang itu. Oh tidak! Aku pejamkan mata, aku tak sanggup melihatnya. Para pedagang pasti juga punya istri dan anak di rumah, keluarga yang menanti kepulangan mereka dengan doa, dan harapan akan keuntungan yang ia dapatkan hari itu. Tetapi ketika dagangan mereka diangkut, jangankan keuntungan, modal pun kini tak bersisa. Kabar apa yang akan ia bawa pulang?

Foto: dok. Siti Hamidah

Teringat pesan Bapak yang telah tiada, “Para pedagang di pasar berusaha menghidupi keluarganya dengan cara yang halal, mereka bukanlah peminta-minta yang ingin dikasihani, bukan pula pemalas yang tidak ingin berusaha, mereka juga bukan preman yang bisa semena-mena terhadap hak-hak orang lain, mereka memiliki jiwa besar mental pedagang yang siap untung dan rugi, mereka siap mengambil resiko itu dan tidak semua orang memilikinya."

Dari dalam angkot, aku hanya bisa mendoakan mereka. Semoga Allah melindungi dan menjaga kemuliaan mereka untuk tetap berusaha mendapatkan harta halal dengan menjadi pedagang, bukan peminta-minta.

Harapanku kepada pemilik kekuasaan, bijaksanalah, menertibkan bukan berarti mengambil modal dagang mereka, karenanya bisa menjadi rantai panjang lahirnya pengangguran, kemiskinan, hingga kriminal. Jika Bapak tahu, aku yakin ia akan memiliki harapan yang sama denganku.

Ah Bapak, betapa aku bangga padamu, akan keteladanan, nilai-nilai yang kau tanamkan, dan nasihat-nasihat yang akan selalu aku rindukan. Aku rindu padamu Bapak.

(vem/nda)

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading