Sukses

Parenting

Pendidikan Seks Pesantren Putri, Masih Tabukah?

Pesantren, dengan lingkungannya yang serba berbau agamis, sepertinya masih enggan untuk menyelenggarakan pendidikan seks yang memadai bagi para santriwatinya. Padahal, kini kesadaran akan kesetaraan dan keadilan gender sudah masuk dalam pesantren. Namun, pemahaman akan kesehatan reproduksi masih sebatas pelajaran biologi standar, yang sebenarnya belum mencukupi kebutuhan santri akan kesadaran kesehatan reproduksi dan seksual.

Dilansir oleh id.berita.yahoo.com, penelitian yang diselenggarakan Rahima pada 10 pesantren di Jawa Timur, sebenarnya dalam pesantren ada kajian tentang reproduksi dan seksualitas yang diajarkan. Kajian ini dibagi dua; yang pertama, pada mata pelajaran pendidikan formal di tingkat SMA/MA dalam mata pelajaran Biologi atau BK (Bimbingan Konseling). Kedua, masuk dalam mata pelajaran pendidikan diniyah, yaitu kajian kitab-kitab fikih (Risalatul mahid, Muhimmatun Nisa’, Qurratul ‘uyuun, dsb). Namun tetap saja, pembahasan pelajaran ini masih sebatas pengenalan organ reproduksi.

Namun, pada kesempatan yang berbeda, health.detik.com melansir bahwa di Pekanbaru, Riau, Pondok Pesantren Barussalam Pekanbaru telah menyediakan ekstrakulikuler pendidikan kesehatan reproduksi yang dinamai Starteen (Smart, Creative, Cheerful and Teenager). Eskul ini mengajarkan pengetahuan lengkap seputar kesehatan reproduksi remaja, HIV-AIDS, Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP), hingga konseling seputar masalah remaja melalui Pusat Informasi Konseling Remaja (PIK-R). Mereka juga menyediakan konselor sebaya, agar para santri tidak merasa canggung ketika hendak mengonsultasikan masalah seputar kesehatan reproduksinya. Tentu saja, kelas tetap dipisah antara santri lelaki dan perempuan.

Nah, apakah Ladies mau bergabung untuk memajukan pendidikan seks yang sehat di pesantren-pesantren Indonesia?

Oleh: Adienda Dewi S.

(vem/rsk)

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading