FIMELA FEST 2019: Cara Menghindari Memukul Anak Ketika Orangtua Emosi

Anisha Saktian Putri13 Sep 2019, 14:30 WIB
orangtua/pixabay sasint

Fimela.com, Jakarta Mengasuh anak memang tidak semudah yang dipikirkan, seperti halnya banyak perdebatan dengan pasangan tentang pola asuh hingga menahan emosi ketika anak rewel. Menahan emosi memang sangat penting, agar ketika anak nakal dan rewel sebagai orangtua kita tidak justru memukul anak tanpa disadari.

Karena berdasarkan penelitian mengungkapkan sangat tidak efektif jika anak diberikan hukuman fisik. Sayangnya, masih banyak orangtua berfikir jika hukuman fisik seperti memukul adalah cara yang dapat diterima dan bermanfaat untuk mendisiplinan anak.

Dilansir dari Romper, Jumat (13/9/2019), Sarah Conway, seorang psikolog dan pendiri Mindful Little Minds pun menjelaskan langkah-langkah atau tindakan yang dapat dilakukan orang tua untuk mencegah mereka menggunakan kekerasan fisik sebagai bentuk resolusi konflik.

"Orang tua yang memiliki dukungan dan akses ke sumber daya dapat membuat pilihan yang terinformasi, sadar dan disengaja," paparnya.

Conway mengatakan jika sahabat Fimela adalah orang tua yang pernah memukul anak mereka sebelumnya secara tanpa disadari, sangat penting baginya untuk mencari dukungan dan membangun jaringan dengan orang-orang yang dapat membantu.

"Sebagian besar dari kita bereaksi dalam kemarahan terhadap anak-anak kita dan menyerang karena kita merasa kewalahan dan tidak yakin harus berbuat apa lagi," katanya.

Ia menambahkan, ketika kita merasa marah dan kewalahan mengurus anak, sebaiknya tarik nafas dalam-dalam agar lebih rileks.

"Untuk keluar dari kebiasaan merespons momen-momen ini dengan kemarahan atau kekerasan, orang tua memerlukan dukungan dan kita perlu meluangkan waktu untuk mengelola emosi dan perasaan stres sehingga dapat mengubah reaksi yang dilakukan," kata Conway.

 

Pengasuhan mindful parenting

Pola asuh anak dengan mindful parenting
Pola asuh anak dengan mindful parenting. (Foto: Public Domain Pictures/ Pixabay)

Karena anak-anak tidak memiliki keterampilan komunikasi tertentu, mereka melakukan apa yang cenderung membuat orang tua mereka memperhatikannya seperti jatuh, menangis, merengek, atau berkelahi.

Menurut N'Jyia Shelton, seorang peneliti Pengembangan dan Pendidikan Anak Usia Dini, inilah saat-saat terbaik untuk memberikan diri sendiri sebagai orangtua, momen untuk bernafas dan mencoba untuk tenang sehingga dapat merespons anak dengan cara yang sehat.

Inilah saat mindfull parenting atau pengasuhan anak yang penuh perhatian, tindakan membawa prinsip perhatian penuh ke dalam interaksi dengan anak-anak, seperti ikut bermain.

“Ini tentang hadir sepenuhnya pada saat bersama anak. Ketika orangtua benar-benar hadir, dapat merespons kebutuhan mereka, daripada bereaksi dengan emosi. Ketika kita bereaksi terhadap emosi sendiri dan membiarkannya memengaruhi perilaku kita, alhasil kita akan memukul anak. Jika kita selalu hadir sepenuhnya untuk anak, respon memukul pun tidak dilakukan," paparnya.

Shelton juga mengatakan bahwa penting untuk mengetahui mengapa kita biasa saja jika menyakiti anak-anak kita. Ketika anak-anak kita berperilaku dengan cara yang membuat kita stres, penting untuk memperhatikan alasan mengapa mereka melakukan hal tersebut.

"Ketika seorang anak merasa cemas, respons stres mereka telah dipicu. Karena ini, seorang anak dapat menyerang dan menjadi agresif, atau mereka dapat berusaha untuk menghindari apa pun yang mereka takuti. Mereka berjuang untuk berurusan dengan emosi besar yang tidak mereka pahami," tutupnya.

Untuk memahami lebih dalam tentang mindful parenting, yuk, daftarkan diri kamu di sini dan raih kesempatan untuk menghadiri FIMELA FEST 2019.

 

#Growfearless with Fimela

Lanjutkan Membaca ↓