5 Hal yang Perlu Diketahui Orangtua Tentang Child Grooming Sebagai Bentuk Pelecehan Seksual pada Anak

Gayuh Tri Pinjungwati07 Mar 2021, 12:45 WIB
Diperbarui 07 Mar 2021, 12:45 WIB
pelecehan seksual pada anak

Fimela.com, Jakarta Child grooming adalah sebuah upaya atau perilaku yang dilakukan seseorang untuk membangun hubungan untuk melakukan pelecehan seksual terhadap seorang anak. Teknik dari child grooming sendiri tidak selalu mudah dikenali dan orangtua perlu memberi perhatian ekstra kepada anak-anak mereka serta orang dewasa di sekitar mereka untuk dapat mengenal pelaku.

Langkah pertama untuk melindungi anak dari pelecehan seksual adalah mempelajari berbagai tahapan dalam proses perawatan seksual. Para pelaku child grooming tampil dengan memanipulasi anak. Karena taktik manipulasi mereka, pelaku pelecehan seksual sangat sulit dikenali, sering kali, mereka tampak menawan dan baik hati saat mereka berbohong dan merencanakan untuk lebih dekat dengan seorang anak. Untuk mengetahui lebih lanjut, berikut ini adalah beberapa hal yang dilakukan pelaku child grooming terhadap anak yang perlu diketahui orangtua.

1. Seleksi Korban

Langkah pertama yang dilakukan pelaku adalah dengan memilih korban. Biasanya korban sering kali dipilih karena daya tarik fisik yang mereka rasakan, kemudahan akses, atau kerentanan yang dirasakan. Mereka yang berada dalam bahaya ekstrim adalah anak-anak yang tidak mendapatkan pengawasan yang cukup dari orang tua, dengan kata lain, mereka lebih rentan dan lebih mudah diakses. Anak-anak yang memiliki kepercayaan diri rendah dan terlalu percaya diri juga sering menjadi sasaran.

2. Mendapatkan Akses

Setelah pelaku memilih korbannya, mereka mulai merencanakan. Mereka mungkin menguntit anak, mempelajari jadwal mereka, dan menemukan saat-saat di mana anak secara emosional atau fisik terpisah dari orang tua mereka. Para pelaku mungkin terlibat dalam pekerjaan sukarela atau berteman dengan orangtua tunggal untuk mendapatkan akses ke anak di bawah umur tanpa kecurigaan.

3. Mendapatkan Kepercayaan

Pelecehan seksual pada anak
Ilustrasi/copyrightshutterstock/pingdao

Pada tahap ini, pelaku berusaha mendapatkan kepercayaan dari anak, orangtua, dan masyarakat. Dengan melakukan itu, mereka berharap dapat melakukan pelecehan tanpa terdeteksi. Selama tahap ini, pelaku bekerja untuk mendapatkan kepercayaan dari korban yang dituju dengan memberi mereka hadiah kecil, perhatian khusus, atau berbagi rahasia. Seorang anak atau remaja tidak akan mengerti bahwa mereka sedang dimanipulasi dan karena itu akan mulai mempercayai pelaku.

4. Mengurangi Kepekaan Korbannya

Pada tahap akhir ini, pelaku akan mencoba membuat anak tidak peka terhadap sentuhan. Ini berarti bahwa mereka akan mulai menyentuh target mereka dengan cara non-seksual untuk membuat mereka merasa terbiasa dengannya. Selama tahap ini, pelaku akan mulai memeluk, bergulat, dan menggelitik targetnya. Tujuan pelaku adalah membuat anak merasa nyaman dengan sentuhannya.

5. Menjaga Hubungan

Pelecehan akan membuat anak merasa tersesat, takut, dan bingung. Begitu pelecehan dimulai, anak tidak akan tahu apa yang harus dilakukan. Pelaku kekerasan akan terlibat dalam perilaku yang bertujuan untuk menjaga hubungan dengan mendorong anak untuk menyimpan rahasia dan meyakinkan mereka bahwa pelecehan itu normal. Yang lebih buruk, begitu anak memutuskan untuk memberi tahu seseorang apa yang terjadi, pelaku akan mulai mengancam mereka atau membuat mereka merasa bertanggung jawab atas pelecehan tersebut.

Nah, ada baiknya tetap awasi anak lebih ketat ya Mom. Biasanya pelaku child grooming melakukan aksinya pada anak yang kurang mendapatkan perhatian orangtua mereka. sesibuk apa pun pekerjaan Mom, ada baiknya tetap memperhatikan anak.

Cek Video di Bawah Ini

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓