Kata KPAI, Pembelajaran Jarak Jauh Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Anak di Tengah Pandemi Ini

Annissa Wulan14 Jul 2021, 08:30 WIB
Diperbarui 14 Jul 2021, 18:57 WIB
Kata KPAI, Pembelajaran Jarak Jauh Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Anak di Tengah Pandemi Ini

Fimela.com, Jakarta Wacana untuk kembali menjalani sekolah tatap muka di tengah pandemi memang sempat menimbulkan pro dan kontra, terutama di kalangan para orangtua. Selain fakta bahwa mengajari anak di rumah itu memang sulit dilakukan, rasa bosan, dan stres menjadi penyebab utama mengapa banyak anak dan orangtua yang bertanya-tanya tentang kapan waktu terbaik untuk bisa kembali ke sekolah.

Dalam acara FimelaTalks bersama Retno Listyarti, M.Si tentang Sekolah Tatap Muka di Tengah Pandemi, Siapkah Anak?, ia menjelaskan bahwa pembelajaran jarak jauh dinilai masih menjadi pilihan terbaik saat ini. Bukan tanpa sebab, karena jika dilihat dari kondisi peningkatan kasus COVID-19 yang meningkat secara signifikan, belum lagi kasus kematian yang sekarang justru banyak terjadi pada anak, jelas harus menjadi pertimbangan untuk kembali menggelar sekolah tatap muka.

Bukan rahasia lagi jika pembelajaran jarak jauh memang sulit, tidak hanya bagi anak, namun juga orangtua, bahkan guru. Retno juga mengakui bahwa tidak ada yang siap dengan kondisi seperti ini, tapi waktu satu tahun yang sudah berlalu seharusnya digunakan oleh semua pihak untuk bersiap-siap.

"Karena sudah lebih dari satu tahun, seharusnya sudah tidak ada yang terkaget-kaget ya. Pemerintah, guru, bahkan orangtua juga harus gimana caranya untuk memenuhi hak pendidikan anak, walaupun dari rumah," terangnya.

 

Pembelajaran jarak jauh masih dinilai sebagai pilihan terbaik bagi anak mendapatkan hak pendidikannya di tengah pandemi

Kata KPAI, Pembelajaran Jarak Jauh Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Anak di Tengah Pandemi Ini
Pembelajaran jarak jauh masih dinilai sebagai pilihan terbaik bagi anak mendapatkan hak pendidikannya di tengah pandemi.

Berdasarkan survei yang dilakukan KPAI sendiri, sebanyak 78% dari 62.000 anak berusia 10 hingga 12 tahun, menyatakan ingin segera bisa kembali belajar di sekolah. Angka ini mengalami peningkatan dari survei awal yang hanya sekitar 62% anak yang menyatakan ingin kembali ke sekolah.

"Alasannya pun berbeda. Kalau di awal mereka mengatakan ingin kembali ke sekolah karena kangen teman-teman, sekarang alasan mereka adalah karena kesulitan belajar di rumah."

Ya, banyak faktor yang masih harus dipertimbangkan dan dimatangkan kembali, entah terus melanjutkan pembelajaran jarak jauh, maupun nantinya wacara sekolah tatap muka di tengah pandemi benar-benar diselenggarakan, semua pihak harus terlibat aktif. Retno juga memaparkan bahwa dalam Konveksi Anak ada 3 hak utama yang harus dipenuhi oleh para orangtua terkait anak yang melakukan pembelajaran jarak jauh di rumah.

Pertama adalah Hak Hidup, yaitu memastikan anak, yang walaupun harus beraktivitas di rumah, tetap hidup. Kedua adalah Hak Sehat, yaitu memastikan bahwa anak tidak hanya hidup, tapi juga sehat, dengan memenuhi kebutuhan mereka, baik fisik, maupun psikis.

Terakhir adalah Hak Pendidikan, yang menurut Retno bisa menjadi hak terakhir yang dipertimbangkan. Hak Hidup dan Hak Sehat harus menjadi dua hak yang didahulukan.

"Kalau anak hidup dan sehat, saya rasa pendidikan bisa kita kejar. Jadi, yang harus didahulukan adalah Hak Hidup dan Hak Sehat anak."

Saksikan video menarik setelah ini

#Elevate Women

Lanjutkan Membaca ↓