Lajang di Usia 30an dan tidak Ada yang Salah dengan Itu

Annissa Wulan24 Jul 2021, 10:00 WIB
Diperbarui 24 Jul 2021, 10:00 WIB
Ilustrasi orang bahagia

Fimela.com, Jakarta Karley Sciortino resmi menjadi lajang terakhir di grup pertemanannya. Karley masih bertanya-tanya bagaimana ini bisa tiba-tiba terjadi, semua temannya mencari tempat pernikahan, kecuali dirinya.

Karley menyadari perbedaan besar menjadi lajang di usia 30-an, ia tidak menemukan kesenangan untuk menghabiskan banyak waktu dan uang untuk merayakan pasangan orang lain. Ketika masih muda, Karley tidak menganggap bahwa teman-temannya yang selalu tersedia untuk diajak makan siang itu sebagai hal yang penting.

Tapi sekarang, bertemu dengan teman-temannya berarti menjadi satu-satunya di antara mereka yang diperlakukan seperti hiburan atau anak yang bermasalah. Saat liburan bersama, Karley juga banyak mengalah agar teman-teman dan pasangannya bisa memiliki privasi, tapi apakah sebagai lajang, Karley tidak membutuhkan privasi juga?

 

 

Menjadi lajang juga berarti lebih mengenal diri sendiri

Ilustrasi orang bahagia
Ilustrasi orang bahagia. Sumber foto: unsplash.com/Brooke Cagle.

Karley adalah seorang generasi milenial yang feminis, tapi bahkan ada hal-hal yang ternyata tidak bisa dilakukannya sendiri, seperti membawa AC baru ke apartemen dan memasangnya. Tapi bagi Karley, tidak hanya karena menjadi lajang tiba-tiba terasa asing di usianya yang telah 30-an, kencan juga terasa lebih sulit.

Ia tidak lagi mau membuang waktu untuk seseorang yang salah. Pada dasarnya, Karley menjadi jauh lebih diskriminatif di usianya yang 30-an ini, daripada di usia 20-an.

Karley tahu lebih banyak tentang apa yang ia inginkan dan apa yang tidak akan bisa ditoleransi, tapi di saat yang sama, ia juga merasa bahwa tidak ada orang yang cukup baik untuknya. Ketidakpuasan yang terus menerus dan ego yang terus meningkat dipasangkan dengan standar sangat tinggi dan ilusi pilihan yang tak terbatas.

Tidak ada yang salah dengan menjadi lajang di usia 30an

Ilustrasi orang bahagia
Ilustrasi orang bahagia. Sumber foto: pexels.com/Bruce Mars.

Karley merasa bahwa klise untuk berpikir bahwa seseorang yang lebih baik mungkin sudah dekat, itu nyata. Ia merasa semakin ia pilih-pilih, pilihannya justru semakin mengecil, bahkan seorang temannya berkata bahwa perempuan modern dan feminis sekalipun masih merasakan tekanan untuk menikah.

Ada masa saat Karley masih berusia 20-an dan ia berpikir bahwa ada lebih banyak hal yang ingin dilakukannya, daripada memiliki anak dan membangun keluarga. Sekarang adalah masa di mana Karley sudah bisa berpikir lebih realistis, bahwa mungkin apa yang dicita-citakannya tidak semua bisa terjadi.

Tapi, penekanannya adalah bahwa melanggar batas usia tidak selalu berarti kamu salah atau gagal. Menurut Karley, bisa jadi mereka adalah perempuan-perempuan yang menolak akhir bahagia yang palsu dan ingin menjalani kehidupan yang lebih menarik, dan tidak ada yang salah dengan hal tersebut.

#Elevate Women

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela